Private Area (2)

1089 Kata
Winda dan Riska berpandangan ketika Andre menghentikan mobil didepan sebuah hotel ,” Ndre … ini beneran ?” “ Shareloc nya disini.” “ Nay …..” Naya mengangkat bahu ,” Kita lihat saja, ayo turun.” “ Tapi ….” “ Kalau nanti gak ada reservasi atas nama Kak Narend ya kita balik kanan,” Naya tertawa kecil. “ Kita salah kostum gak sih ?” cemas Riska. Rio memeluknya ,” Kenapa jadi kamu yang cemas ?” Riska terdiam sejenak ,” Iya ya …. yang harusnya cemas itu Naya.” “ Kenapa gitu ? Cuma makan malam.” sahut Naya. “ Nay …. bukannya ini kali ini dia membawamu kepada lingkaran teman terdekatnya ?” “ Ehm ….” Naya menggaruk kepalanya. “ Pak Narend sendiri kemaren bilang mereka teman terdekatnya.” Naya menarik nafas dan menghembuskannya pelan ,” Beberapa hari lalu juga sudah dikenalkan ke teman kantornya.” Winda yang jalan didepan mendadak berhenti ,” Ck ck ck …. kelihatannya Pak Narend menggiringmu kedalam kehidupannya.” “ Setelah ini diajak pulang.” guman Andre ,” Secara untuk keluarga sudah gak masalah.” Winda mengangguk dan mendesis kesal melihat Naya cemberut tak percaya. Naya meraih ponsel dari sakunya ,” Ya Kak … ini sudah didepan.” dilambaikannya tangan melihat sosok jangkung itu keluar dari balik pilar ,” tenang, gak salah alamat kok kita.” “ Ayo masuk …" Narend mengangguk pada teman teman Naya sebelum menggandengnya kedalam. “ Sudah sejelas itu.” bisik Riska ,” Dan Naya masih bloon aja.” “ Kak ….” Naya menggerakkan tangannya. “ Kenapa, gak nyaman ?” “ Gak enak dilihat mereka ah …" bisiknya. Narend cuma mengulum senyum ,” Itu mereka.” diarahkannya langkah ke sebuah gazebo didekat kolam ikan dengan view lapangan golf di kejauhan. “ Itu Naya Bim ? Benar benar anak kecil,” George tertawa disambut Haris dan Julian. “ Ndre …. itu Pak Haris kan ?” tanya Rio menatap lelaki berkemeja putih dikejauhan. “ Kalian kenal Haris ?” Narend memutar kepalanya. “ Bos kami.” sahut Rio tersenyum kecut membayangkan makan malam ini akan kikuk. “ Dan Pak Bimo pembimbing kami.” Riska menghela nafas dengan dramatis ,” Kenapa gak pacaran sama yang selevel aja sih loe, Nay …ups.” ditutupnya mulut melihat Naya dan Narend menatapnya tajam ,” Hehehe maaf.” “ Hai kakak ipar ?” sapa ketiga laki laki itu bersamaan sambil berdiri. Naya mengerutkan kening ? “ Sssuh …. Nay, ini Haris dan itu istrinya. Yang ini George, dan ini Julian.” “ Hai ….” Naya mengangguk. “ Ini teman teman Naya.” Narend menatap Winda dan yang lainnya ,” Mereka mengenalimu, Ris.” “ Pak !” Ujar Rio dan Andre. “ Duduklah …., santai aja. Kalian temennya kakak ipar, temen kita juga.” “ Kakak ?” Naya mengernyit. Narend tersenyum, menarik kursi untuk Naya. “ Nay … Narend itu kakak pertama diantara kami berlima.” Terang Bimo. “ Setua itu ?” Serentak semuanya tergelak. “ Sembarangan, Bimo tuh paling tua.” Narend menyentil ujung hidung Naya ,” urutannya berdasarkan ini.” Diketuknya dahi ,” Dan Bimo adik kelima.” “Eits…. Ada mahasiswaku, jangan menyebar aib.” Gerutu Bimo. Narend menarik kursi untuk Naya ,” Santai aja ..” ujarnya mengangguk pada Andre dan Rio ,” Rani gak ikut, Bim ?” “ Sebentar lagi menyusul … Ini tadi ke rumah sakit, nemenin …" Narend mendengus ,” Sudah sepantasnya sebagai sahabat. Ingatkan sekali lagi jangan terbawa dalam kebohongan atas dasar tidak tega. Rasa bersalah dan kehilangan kepercayaan karena itu tidak sebanding.” Bimo menghela nafas ,” Sudah … tapi kamu tahu gimana gak tegaannya Rani.” Narend mengangkat bahu ,” Terserah, asal jangan bawa bawa aku.” Naya menepuk lembut tangan Narend ,” Nih makan dulu biar sedikit adem.” diulurkannya sepotong semangka. Narend menghembuskan nafas lalu membuka mulut, menarik tangan Naya yang memegang garpu kecil untuk menyuapkan potongan semangka merah itu. “Woooooow.” Naya menarik tangannya, cemberut dengan wajah memerah semetara Narend dengan tenang menikmati semangka dingin dan manis itu. George geleng kapala ,” Kalian membahas itu di depan Naya … apa gak bikin dia bertanya tanya ?” “ Naya tahu.” sahut Narend singkat, “ Orang tuanya sakit keras … tidak jadi pertimbangan ?” George menatap gadis kecil dihadapannya. Menurut pandangan matanya Naya punya hati yang lembut, mengapa tidak tergerak dengan kondisi orang tua Marinka kalau memang tahu. Narend mendengus, memahami apa yang dipikirkan sahabatmmya, mengngat Rani saja tidak tega ,”Asal kalian tahu … Gadis kecilku sehari hari berhadapan dengan anak anak yang bisa dibilang bernegosiasi dengan kematian.” Naya menghela nafas ,” Dan kebohongan tidak akan membuat mereka lebih mudah menerima kenyataan. Disaat saat seperti itu, meminta mereka dan keluarganya berjuang sampai akhir akan mengurangi penyesalan dikemudian hari dibanding memberikan harapan kosong. Separah apapun penyakitnya, apapun usaha kita … kita gak akan pernah tahu rencana pemilik hidup.” Naya menghembuskan nafas ,” Maaf aku ke kamar kecil dulu.” Winda mengangguk, membiarkan Riska menemani Naya ,” Sehari ini dua anak berpulang … dan itu mereka yang keadaannya sudah membaik. Naya harus seharian menata hati mereka yang masih berjuang, menjawab pertanyaan yang sama apakah temannya akan kembali ke bangsal atau ke rumah Tuhan ?” “ Apa pekerjaan Naya ?” tanya Julian tertarik. “ Itu bukan pekerjaan, itu panggilan hatinya, dia mendampingi anak anak penderita kanker tanpa imbalan.” " Menurutnya pernah ada yang menjanjikan sesuatu disaat seseeorang berjuang menjelang operasi yang nyaris tanpa hasil untuk memberikan harapan, tapi nyatanya operasi berhasil. Dan sesudahnya, orang itu tahu bahwa apa yang dijanjikan tidak akan terpenuhi, dia kecewa, merasa dibohongi, membuat kondisinya drop … dan … “ Narend mengangkat tangannya menunjuk langit ,” Naya paham keputusanku menolak menolong Marinka … sangat paham.” “ Kak Radith.” guman Winda ketika Andre dan Rio menatapnya ingin tahu ,” Rasa bersalah itu mengerikan.” “ Sangat.” George menyetujui ,” menunjuk Narend ,” Membuat si jahil ini jadi monster.” “ Untung sekarang sudah ada yang melunturkan sihirnya.” sahut Bimo, mentap Naya yang berjalan mendekat. “ Pemikirannya tidak seimut orangnya, menang banyak kamu bro .” George mengangkat gelas ke arah Narend diikuti Julian, Bimo, Haris dan Istrinya. Narend tersenyum mengangkat gelasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN