Triple Date

1708 Kata
Naya mengeluarkan ponsel dari saku apronnya ,” Sebentar ya kak. Itu cek aja dulu apa sudah lengkap.” Radith, lelaki berkacamata itu mengangguk dan merapikan lembaran kertas dengan gambar yang siap untuk diwarnai. “ Ya, kak ….” “ Dimana ?” “ Di toko, kenapa ?” “ Makan siang yuk.” “ Toko kosong kak, Mia lagi ngantar orderan.” “ Ok aku kesana, mau dibawain apa ?” “ Kakak dimana ?” “ Di kampus.” “ Gado gado di dekat gerbang utara enak kayaknya. Tapi antri makan siang begini. Terserah aja deh.” “ Ok, tunggu.” Naya menyudahi pembicaraan dan menghampiri meja besar ,” Sudah cukup kak ?” “ Sementara ini aja cukup. Cat nya mana ? Sini aku bantuin.” Naya mengeluarkan kotak berisi cat aneka warna dengan kemasan kecil ,” Masukkan ke kantong ini masing masing satu.” Diulurkannya beberapa kantong kertas kecil dan segera tenggelam dalam kesibukan packing diselingi pembicaraan ringan dengan Radith. Ting …. “ Selamat datang …” Naya mengangkat kepalanya ,” Kak Narend.” Narend melangkah mendekat dan meletakkan kantong diatas coffee table. Radith mengangguk kecil dan merapikan tumpukan gambar dan cat kedalam kotak ,” Aku bawa dulu. Kapan kamu jenguk mereka ?” “ Minggu ini aku sudah mulai longgar.” “ Mereka merindukanmu.” Naya tersenyum ,” iyalaaah …. Sekalipun hampir semua anak disana menyukaimu, tapi aku datang tanpa bawa obat dan suntikan kak.” Radith mengacak rambut Naya ,” Aku bawa. Kabari kalau mau kesana.” “ Ok …” “ Permisi.” Radith mengangguk pada Narend sebelum keluar ,” Nay, bukain pintu.” Naya cemberut, tapi tetap membukakan pintu untuknya ,” Daaa …” “ Pelanggan ?” Narend memaksa suaranya terdengar biasa, mempermainkan botol air minum ditangannya. “ Bisa dibilang begitu. Bawa apa jadinya ?” “ Kan kamu tadi bilang pengen gado gado. Ambilkan aku juga.” Naya menata dua kotak diatas meja dan menyimpan tiga kotak lainnya di belakang ,” Gak ada kelas lagi, Kak ?” “ Hari ini gak ada, tapi ada perlu ke rektorat.” Naya melihat lelaki itu menyisihkan potongan tempe, tertawa pendek ,” Cucu opa banget, nyisihin tempe.” “ Mau ?” diulurkannya sendoknya ,” aaa …” Naya membuka mulut, menerima suapan Narend . “ Nay …….” Riska dan Winda setengah berlari memasuki toko dan terdiam kikuk melihat Narend ,” Pak ….” Narend meletakkan kotaknya yang sudah kosong ,” Hai. Sudah pada makan ?” “ Belum, Pak …” “ Makanlah, tadi aku bawa gado gado buat kalian juga.” “ Di dapur tuh.” Ujar Naya dengan mulut penuh. Winda dan Riska ke belakang dan membawa kotaknya ke balik meja besar. “ Kami ganggu ya ?” bisik Winda saat Naya ke belakang untuk membereskan kotak makannya ,” Lagi suap suapan.” Naya menendang kaki Winda. Narend meraih ponsel dari saku celananya ,” Ya Ran ?” “ Kamu dimana ? Aku balik makan siang mobilmu sudah gak ada.” “ Kenapa ?” “ Buku yang aku minta mana ?” “ Sudah di mejamu.” Ujarnya pelan ,” Nay, minumnya lagi dong, kalau mau bikinin kopi juga boleh.” “ Nay ….? Kamu lagi sama Naya ? Dimana ?” “ Berisik. Bilang ama Bimo aku mungkin nanti malam gak dateng.” Narend memutus pembicaraan begitu saja. Winda dan Riska bertukar pandang sambil tersenyum simpul. “ Eh kalian tadi lari lari ngapain ?” Naya meletakkan secangkir kopi. “ Tadinya mau ngajak nonton, Vanguard sudah main tuh.” Sahut Winda. “ Tapi ….. “ Riska tersenyum jahil sambil menatap Naya yang duduk disamping Narend ,” Kalau kamu ada acara sendiri ….” “ Kalau mau barengan, ayok aja.” Sahut Narend cepat sebelum Naya membuka mulut. “ Serius Pak ?” Riska antusias ,” Triple date kita ?” Naya melemparkan gumpalan tissue ditangannya, sementara Narend tersenyum tipis ,” Kenapa tidak. Seru juga kayaknya.” “ Siap …biar Andre beli tiket.” Winda meraih ponselnya, menghubungi kekasihnya yang bekerja di mall. “ Kami numpang aja kesana boleh ? Biar Rio gak usah jemput kesini.” Tanya Riska dijawab anggukan Narend sambil menyesap kopinya. “ Andre sudah dapat nanti jam empat.” Winda meletakkan ponselnya dan melanjutkan makannya. Pintu terbuka dan Mia masuk sambil menenteng helm. “ Tepat waktu.” Seru Riska. “ Mau pergi, kak ?” “ Iya …” “ Kalau begitu aku beli makan dulu, tadi lupa sekalian beli makan siang.” “ Itu ada makan siang dari Pak Narend.” “ Kebetulan, terima kasih.” Mia menyimpan helm dan mencuci tangannya di dapur. “ Kami siap siap ya ….” Ujar Winda setelah selesai mencuci sendok ,” Nay, gak ganti baju ?” “ Ehm ….” “ Pak, mau nunggu disini atau ikut keatas ?” “ Boleh numpang mandi gak ? Gerah banget hari ini.” “ Ayolah.” Ujar Naya setelah menghela nafas. “ Aku ambil baju ganti di mobil dulu.” Nared menghabiskan kopinya dan beranjak. “ Nay ….. kurang jelas gimana ? Aku bilang triple date dia gak keberatan sama sekali.” Riska menggoyang lengan Naya. “ Kok kamu yang heboh sih ?” Winda tersenyum, menepuk pipi Naya ,” Teman kita ini juga ga keberatan kok. Ayo kita naik duluan, Ris … biar Naya nunggu Kak Narend.” ujarnya dibuat buat. Riska terkikik dan meninggalkan Naya didekat pintu menunggu Narend kembali dari tempat parkir. “ Kenapa gelisah gitu ?” Narend mendekat sambil membawa tas. “ Banyak mahasiswa kampus kita yang juga tinggal disini.” “ Lalu ?” Naya cemberut melihat ketenangan lelaki yang berjalan disampingnya. “ Hanya mengunjungi kalian, bukan tinggal bersama. Lagi pula ada Winda dan Riska.” Naya memilih tidak menjawab dan berdiri diam di antrian lift, berusaha tenang saat menyadari ada dua atau tiga orang yang mengenali Narend walaupun tidak menyapanya. Narend sengaja diam berdiri disamping Naya sampai mereka keluar dari lift di lantai lima, mengekor ketika gadis dengan jeans dan kaos bergambar snoppy itu membuka unit di ujung lorong. “ Masuklah, duduk dimana aja.” Naya membuka pintu ,” Aku mandi dulu sebentar.” Narend mengguman, menatap sekeliing unit yang cukup besar dengan tiga kamar tidur, kamar mandi, dapur di bagian belakang dan area yang cukup lapang untuk satu set meja makan, rak, sofabed dan meja kecil. Kalian dalam rentang usia dimana pendekatan dan lainnya berbeda, termasuk kencan. Cobalah mengikuti kencan ala mereka … bagaimanapun, kamu juga gak sempat menikmati masa masa pacaran jaman kuliah …. Ucapan Bimo beberapa hari lalu membuatnya mengambil kesempatan untuk mengenal sahabat sahabat Naya, dan kelihatannya triple date bukan ide yang buruk. “ Mau mandi ?” Naya meletakkan segelas air dihadapan Narend ,” Bawa handuk ?” lanjutnya saat lelaki itu mengangguk. “ Pinjem ya …” Naya mengangguk dan kembali ke kamarnya ,” Ini. Mandilah, itu Riska sudah selesai. Kalau mau ganti baju di kamarku aja, kak … Aku ke kamar Winda.” Narend mengangguk dan beranjak ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia sudah siap dengan kemeja hitam yang digulung lengannya sampai siku. Dilipatnya kemeja putih yang tadi dipakainya, dengan sengaja meletakkannya di keranjang baju kotor Naya didekat lemari. Menatap sekeliling kamar yang terkesan simple namun tetap hangat dengan dua boneka snoppy berbeda ukuran diatas tempat tidur. “ Kak …” Naya mengetuk pintu ,” Sudah ?” Narend membuka pintu, menatap gadis yang mengganti jeans dan kaosnya dengan dress berpotongan sederhana berwarna krem dengan jaket tipis berwarna hitam lagi lagi dengan gambar snoppy kecil didadanya ,” Ayo.” Sial, gadis itu tetap menarik walau pakaiannya begitu simple dan cukup sopan, warna peach di bibirnya nyaris tidak terlihat dibandingkan lipstik dua temannya. Narend memasukkan tangan kedalam saku, menahan diri untuk meraih gadis kecil itu kedalam pelukannya ,” Masuklah …” dibukanya pintu depan untuk Naya, mengangguk kecil pada Winda dan Riska yang segera masuk ke bangku belakang, memperhatikan Narend berjalan memutar sebelum masuk dan menjalankan mobil perlahan menembus jalanan yang cukup ramai sore ini.” Riska : Gila, Pakai hitam damagenya luar biasa Winda : Gila loe, ada orangnya didepan malah ngechat Riska : Gak mungkin juga gue bilang didepannya Riska : Ada ceweknya, takut cemburu Tawa Winda tersembur, memukul lengan Riska. Sementara Naya mengerutkan kening dan membuka ponselnya ,” Parah loe….” Ujarnya sambil melotot pada Riska. “ Ada apa ?” tanya Narend “ Gak …” Naarend mengangkat sudut bibirnya mendengar ketiganya menjawab bersamaan. Diambilnya ponsel dari saku ,” Angkat Nay … Aku nyetir.” Lanjutnya melihat Naya mengerutkan kening. “ Pak Bimo …” “ Angkat aja.” Naya cemberut ,” Sore Pak …” “ Hei … eh … Naya ?” “ Iya, mau bicara sama kak Narend ? Sebentar … lagi nyetir.” Naya mengulurkan ponsel ke dekat telinga Narend. “ Apa Bim ?” “ Kamu ama Naya ? Sejak kapan gak bisa terima telpon sambil nyetir ?” “ Sejak ada yang bantu megangin, walaupun sambil cemberut.” Ujar Narend, tersenyum melihat gadis disampingnya semakin cemberut. Bimo tergelak ,” Jadi nanti kamu gak datang ?” “ Aku mau nonton.” “ Setelah itu ajak Naya sekalian.” “ No man …. Mulut kalian perlu dikondisikan terlebih dahulu. Sudah ya … salam ama yang lain.” Naya menjauhkan ponsel yang sudah tidak bersuara ,” Ada acara ?” “ Ngumpul ama teman kuliah aja.” “ Pergi aja.” Narend menatap gadis disampingnya ,” Aku mau sama kamu … ehm … kalian.” Diulurkannya tangan mengusap kepala gadis yang membuang pandangan keluar jendela. Riska terkikik. “ Ada apa lagi ?” “ Show off ya Pak … “ Narend tersenyum tipis ,” Paham ?” “ Paham, Pak.” Sahut Riska dan Winda bersamaan, meledek Naya ,” Naya yang tulalit ?” “ Berisik.” Dijauhkannya kepala ketika tangan Narend kembali terulur kearahnya. Winda dan Riska kembali berpandangan dan memilih diam sambil menikmati sikap kikuk dua orang didepan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN