Malam di luar gudang terasa seperti lembaran baru yang robek dari buku lama, jatuh begitu saja di hadapan Elara. Asap mesiu masih tercium menusuk hidung, bercampur bau darah yang menempel di pakaian mereka. Nafas Elara terengah, tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena kepikiran kondisi Ayahnya yang masih sekarat. Aselia berlari di sampingnya, wajahnya tegang. “Terus maju, El! Jangan berhenti! Ayah Adipati akan baik - baik saja, fokus pada tujuanmu." Suara tembakan dari dalam gudang masih berlanjut, meski makin redup oleh jarak. Surya dan Orpheus menyusul dari belakang, tubuh mereka bergerak lincah sambil sesekali menembak balik. Reymond membawa tas dengan erat, seolah di dalamnya ada detak jantung dunia. Langkah mereka akhirnya terhenti di sebuah lorong sempit menuju area der

