Elara terdiam, dadanya naik-turun menahan emosi yang tak sanggup lagi ia bendung. Kata-kata ayahnya seolah menusuk lebih dalam daripada peluru mana pun. Ibunya, Regina tidak hanya meninggalkannya sebagai seorang anak, tetapi mungkin juga telah membentuknya menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar manusia biasa. Sebuah eksperimen berjalan, tanpa izin, tanpa kasih, hanya demi ambisi. Suara detik jam tua di sudut gudang berdentang samar, mengiringi tatapan Elara yang menajam. “Rasa sakit hati? Salah paham?” Elara mengulang, nyaris berbisik, tetapi mengandung ledakan emosi. “Jadi aku lahir dari dendam, Ayah? Aku bukan anak yang Ibu cintai, tapi sekadar alat risetnya?” Adipati terhuyung, wajahnya pucat. Ia ingin menyangkal, tetapi kebisuan justru menegaskan kebenaran pahit itu. Aselia mengge

