Marriage life

1496 Kata
Tiga bulan sudah sejak dilamarnya Anastasha, hari ini adalah hari pernikahannya dengan Darryl. Pernikahan merekaa bersifat tertutup, hanya beberapa artis seagensi dengan Anastasha, sahabat dekat dan juga kolega bisnis Darryl yang diundang. Mengingat karir Anastasha yang sedang naik daun dan bisnis Darryl yang juga sedang di puncak, alangkah baiknya jika pernikahan memang dirahasiakan untuk sementara. Pernikahan diadakan di salah satu hotel milik Darryl di Paris. Anastasha menatap pantulan wajahnya yang sudah dirias, cantik sekali. Bahkan Sasha, Melissa dan anggota girlband-nya menatap takjub pada Anastasha. Mereka tak hentinya memuji kecantikan wanita itu. Pintu terbuka, mama Mitha masuk dengan senyum keibuannya. Ia duduk di sebelah anaknya. “Cantiknya, anak Mama ...” puji Mitha. “Mama juga cantik!” puji balik Anastasha. Sahabat-sahabat Anastasha perlahan keluar dengan sendirinya, mereka mengerti suasana. Jadi membiarkan saja Anastasha berbincang secara pribadi dengan mamanya. “Anak gadis mama sudah besar rupanya,” ujar Mitha sembari menggenggam tangan anaknya. “Sudah dipinang orang,” “Sudah mau jadi istri orang.” Anastasha memeluk mamanya, “Ma, terima kasih sudah merawat Tasya sejak lahir. Bahkan saat Anastasha ada di asrama, Mama gak hentinya perhatiin Tasya.” “Terima kasih, Ma.” “Tasya sayang Mama ...” ungkap Anastasha lirih. Mitha memeluk Anastasha lebih erat, “Itu sudah tugas Mama, kewajiban Mama untuk memastikan Tasya selalu baik-baik aja. Karena mama juga sangat menyayangi Tasya.” Mitha tersenyum tulus pada sang anak. “Nak!” “Iya, Ma?” “Yang nurut, ya, sama suaminya, jangan suka bantah.” Anastasha mengangguk. “Iya, Ma.” “Layani suami Tasya dengan baik, karena sekarang Tasya punya tanggung jawab yang lebih besar.” “Darryl adalah surganya Tasya sekarang, jangan bantah dia. Jadi istri yang baik, ya, Nak!” Anastasha mengangguk lagi, dan memeluk mamanya dengan sangat erat. “Jadi, ceritanya Papa ditinggal, nih?” Suara itu membuat Anastasha dan Mitha mendongak sejenak, lalu tersenyum setelahnya. Adhitama ikut bergabung,  memeluk anak dan istrinya. Disusul Ardian yang juga baru saja masuk, pria itu seolah tak rela adik satu-satunya diambil orang. *** Bagaikan ada yang menahan kedua kelopak matanya, Darryl sama sekali tak berkedip. Gadisnya berdiri di depannya dengan dress putih yang dilengkapi dengan bunga pengantin di genggamannya. Anastasha benar-benar bak bidadari dengan rambutnya yang disanggul. Anastasha berjalan di atas altar digandeng Adhitama, papanya. Anastasha tersenyum penuh arti pada Darryl. “Anak gadis Papa bentar lagi jadi istri orang, yang nurut, ya, Nak sama suami nantinya." Ujar Adhitama sambil terus melangkah. Anastasha mengangguk, “Iya, Pa. Tetap doain yang terbaik, ya, buat Tasya.” “Papa selalu berdoa yang terbaik buat kamu.” Berhenti melangkah saat sudah di depan Darryl, Adhitama membawa tangan Anastasha ke genggaman Darryl. Pa, hari ini telah tiba ... Hari  di mana Tasya menjadi yang Papa damba ... Akan duduk bersanding dengan dia, pria pilihan Tasya ... Terima kasih Papa ... Penopang dalam ragu ... Cahaya dalam gelap ... Terima kasih, Papa sudah menjadi petunjuk dalam terang Tasya ... Kini, anak gadismu undur diri ... Anastasha menatap papanya dengan seksama. “Om percayakan Anastasha ke kamu. Tolong jaga anak Om.” Darryl mengangguk mantap, “Pasti Om, saya akan berusaha menjaga Anastasha. Terima kasih sudah mempercayakan Anastasha pada saya.” Darryl membawa Anastasha ke tengah-tengah, digenggamnya jemari-jemari itu, lalu dipasangkan cincin pernikahan di jari manis gadis yang jika boleh sudah bisa ia sebut istri. “Cantik,” puji Darryl. Anastasha tersenyum, “Darryl juga cantik, sangat cantik.” Darryl terkekeh kecil mendengar lontaran gurauan Anastasha. “Bukan ganteng, nih?” Anastasha menganggukkan kepala. “Ya cantik ya ganteng.” Lagi-lagi Darryl tersenyum tipis mendengarnya. “Terima kasih, Anastasha.” “Terima kasih sudah menerima Darryl,” lanjut Darryl. Sesuai aba-aba protokol, Darryl mencium kening Anastasha penuh kasih. Tepuk tangan terdengar, namun teriakan Joshua yang paling dominan. “BIBIR DONG, GAK ASIK LO, RYL!” Namun Darryl mengacuhkan teriakan sahabat laknatnya itu. Darryl dan Anastasha kini berbalik, bersiap akan melempar bunga. Joshua dan Arjuna maju yang paling depan, untuk menangkap bunga itu. “Geser nggak lo?!” Joshua melotot. “Lo yang geser! Gue duluan yang disini!” Saat mereka asik bertengkar dan saling menyenggol, apalah daya bunga itu kini sudah berada di genggaman Sasha dan ... Reon. *** “Atiku rasane loro ....” “Nyawang Tasya ... rabi ro wong edan ....” Sorotan tajam mengarah pada dua orang yang sedang hebohnya menyanyi di atas sana. Iya, siapa lagi jika bukan Joshua dan Arjuna. Si perusuh! Dengan santainya Joshua goyang ngebor di sana, di ikuti goyang gergaji ala Arjuna. Tak ketinggalan, Feng yang juga ikut goyang itik sambil mengelilingi para tamu. “Gak usah lo dengerin, yang waras mah diam aja,” ucap Marcel menyalami Darryl dan Anastasha. “Masalahnya, bisa katarak nih telinga gue lama-lama denger suara Jojo sama Arjuna.” “Sabar, orang sabar disayang istri,” celetuk Budi yang juga menyalami kedua mempelai. “Nangis getih eluhku ....” “Remuk ajur rosoku ....” “Tasya tego ninggal aku ....” Anastasha tak hentinya tersenyum, ia pikir pernikahannya akan biasa aja. Tapi semua di luar nalarnya karena tingkah teman-temannya yang sangat kocak. Saat akan salaman saja, Feng masih setia dengan goyang itiknya. *** Anastasha bercucuran keringat, yang ia takutkan terjadi sudah. Resleting dress pengantinnya tak bisa ia gapai. Sudah setengah jam lamanya ia berada dalam kamar mandi. Sejak tadi tangannya berusaha meraih resleting, tapi tangannya tak sampai. Hanya pegal yang ia dapat. Ia lalu membuka pintu sedikit, dan mengintip keluar. Rupanya Darryl sudah datang, pria itu sedang berbaring di kasur yang dihiasi kelopak bunga mawar. “Daryl!” panggil Anastasha ragu. “Hm?” Anastasha menelan ludah susah payah, ia benar-benar ragu. “Sini bentar, Tasya minta tolong boleh?” Darryl kemudian beranjak dari baringnya, dan berjalan menuju Anastasha. “Kenapa, sayang?” tanya Darryl saat sudah di depan Anastasha. “Itu, tolong bantu bukain res-” Sebelum kalimat Anastasha selesai, tangan Darryl lebih dulu menggapai resleting dress wanita itu dan membukanya. Seperti sengaja, tangan Darryl sedikit mengelus punggung Anastasha. Setelahnya, Darryl menjatuhkan kepalanya ke bahu Anastasha. Tangannya melingkar di pinggang istrinya. “Darryl capek, Tasya.” Tangan Anastasha terangkat membelai surai pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu. “Darryl mandi dulu, ya, baru istirahat nantinya.” “Mandi bareng?” *** Saat Anastasha mengeringkan rambutnya, pintu kamar terbuka. Darryl masuk dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya. Pria itu juga mengeringkan rambut dengan handuk kecil, ia baru saja mandi di kamar mandi sebelah. Tubuh Anastasha menegang, sebenarnya ia sudah pernah melihat Darryl shirtless begitu. Tapi yang ini terasa berbeda. Ada perasaan was-was yang ia rasakan. Darryl mendekati Anastasha, dan menyerahkan handuk itu pada Anastasha. Secara tidak langsung meminta istrinya untuk mengeringkan rambutnya. Darryl duduk di tepian kasur, dengan Anastasha yang mulai mengerjakan tugasnya dengan telaten. Setelah selesai, Anastasha mendekati lemari pakaian dan mengambil pakaian tidur untuk Darryl. “Berhenti di situ!” pinta Darryl saat melihat Anastasha akan beranjak keluar. “Tapi ....” “Di situ aja, sayang.” Anastasha berdiri mematung, pandangannya ia alihkan selagi Darryl memakai baju tidurnya. Setelah beberapa menit, ia merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Darryl sedang memeluk dirinya. Terpaan nafas Darryl terasa panas di lehernya, Anastasha merinding. Darryl menatap Anastasha sangat dalam. “Ayo tidur.” Deg! “Yang nurut ya sama suaminya, jangan suka bantah.” “Layani suami Tasya dengan baik, karena sekarang, Tasya punya tanggung jawab yang lebih besar.” “Anak gadis papa bentar lagi jadi istri orang, yang nurut, ya, Nak sama suami nantinya.” Bayangan kedua orang tuanya saat memberi nasihat, terbayang-bayang di pikiran Anastasha. “Tasya?” “Anastasha?” panggil Darryl yang kedua kalinya. Anastasha tersentak kaget, “Iya?” Anastasha berbalik, dilihatnya Darryl sudah berbaring di kasur yang dihiasi kelopak bunga mawar di permukaannya. Darryl menepuk bantal di sebelahnya, meminta Anastasha berbaring di sebelahnya. Anastasha melangkah takut-takut, dibaringkannya tubuhnya di sebelah Darryl. This is the first night, tentu saja Anastasha merasa takut, mengingat Darryl juga memiliki sifat yang agresif. Setelah berbaring, sepasang tangan kekar memeluknya. “Kalau belum siap, gak pa pa. Darryl gak akan maksa ....” “Maaf Darryl ...” sesal Anastasha Sebuah kecupan mendarat di kening gadis itu. “Gak pa pa, Darryl bisa nunggu, kok.” Walaupun begitu, Darryl tetaplah Darryl. Jika yang itu belum bisa, setidaknya sebuah ciuman bisa menjadi hadiahnya di malam pertama ini. “Just give me a kiss!” Anastasha mengabulkan permintaan Darryl, ia mencium bibir pria itu. Beberapa saat, setelah ciuman mereka terlepas, Anastasha membelai lembut pipi Darryl. “Darryl, maafin Tasya. Malam ini Tasya belum bisa memberikannya ke Darryl.” Darryl tersenyum, ia mengerti. “Darryl-” “Tasya, mulai sekarang bisa manggilnya jangan Darryl lagi?” “Maunya dipanggil apa?” “Terserah, asal jangan panggil nama.” “Mas?” “Iya, boleh.” Masih dengan posisinya, Anastasha kembali mencium Darryl. “Akan Anastasha coba,” balasnya. “Selamat malam, Sayang.” “Selamat malam juga, Mas ....” . . “Arghh! Geli banget gak, sih?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN