Darryl membuka mata saat merasa ia tidak merasakan keberadaan Anastasha di sebelahnya. Darryl mendengar suara pintu terbuka, samar-samar ia melihat bayangan istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Udah bangun?”
“Hm,”
“Cuci muka dulu, ambil wudhu kita sholat bareng, ya.”
Darryl menurut, ia berjalan lunglai mendekati istrinya. Saat akan mencium kening Anastasha, istrinya itu mundur sambil menggoyangkan telunjuknya.
“Tasya, udah wudhu.”
Darryl mendengus, kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Anastasha tersenyum, Darryl tidak pernah berubah.
“Bismillah.” Anastasha berharap, ia bisa menjadi istri yang baik.
***
Paginya, pasangan suami istri Darryl dan Anastasha jogging santai di taman Jardin du Luxembourg.
Taman yang begitu memanjakan mata Anastasha, jalan setapak yang sejak tadi ia lewati penuh dengan bunga-bunga indah di sekelilingnya.
Senyum manis Anastasha enggan untuk terkatup, ia menikmati pemandangan sekelilingnya. Darryl saja tak ia hiraukan sejak tadi.
Dengan balutan kaos putih polos dan celana training, tak lupa juga masker dan topi hitam yang melengkapi penampilannya pagi ini, Darryl begitu memikat walau tak memperlihatkan wajah. Itulah Darryl, selalu terlihat wow dimana pun dan kapan pun.
Sejak tadi pria itu sudah memanggil manggil istrinya, tapi si istri malah mengabaikannya. Ia kesal tentu saja, pemandangan di sekelilingnya saja tak mampu memperbaiki moodnya.
Hingga, ada satu pemandangan yang tanpa sengaja bertabrakan dengan sorot mata pria itu.
Shit!
Kenapa si Joshua ada dimana-mana?
Benar, Darryl melihat Joshua sedang bermesraan bersama Juminten di sudut taman.
Tak bisakah Joshua membiarkannya tenang? Joshua selalu saja muncul, Darryl heran sekali.
“WOY!!”
Aswu banget kan?
Darryl menarik lengan Anastasha, meminta istrinya putar balik. Sebelum suara itu semakin keras, lebih baik dia kabur duluan.
“Kenapa, sih?” Anastasha celingukan ke belakang mencari asal suara, karena belum sempat melihat siapa yang berteriak.
“Di sana ada orang gila,”
Anastasha mengernyit, emang ada orang gila di sini?
“WOY!” Suara itu tambah nyaring, burung-burung sampai keluar dari sarangnya masing-masing.
“Naik, Tasya!”
“Eh, kenapa, sih?” bingung Anastasha dan naik ke punggung Darryl.
Tanpa pikir panjang, Darryl langsung berlari terbirit-b***t menjauh dari jangkauan si Joshua.
Sedangkan Joshua menatap Darryl dengan raut wajah yang tercengang.
Joshua kemudian melirik sesuatu di tangannya, lalu menatap kembali Darryl yang sudah jauh dengan Anastasha di gendongan sahabatnya itu.
“WOY, GUE CUMA MAU BALIKIN BLACK CARD LO!!”
***
“Apa?"”
Joshua yang ditatap begitu tajam menegakkan badannya, ia selalu saja was-was jika Darryl sedang serius seperti sekarang ini. Mereka sedang berada di sebuah kafe.
“Selow dong, gue kan gak mau ngutang.”
“Terus?”
Joshua mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam, yang hanya bisa dimiliki oleh seorang miliarder.
“Cuma mau balikin kartu. Gak bisa santai, ya, lo?”
“Santai hanya untuk orang-orang yang pemalas, dan seperti yang lo tau, gue pekerja keras sekarang.”
“Masih kobam Dilan? Anjir itu udah tujuh tahunan,” jelas Joshua, ia agak terheran-heran.
“Masalah buat lo?" sewot Darryl lalu memasukkan black card nya ke dalam dompet.
“Eh, btw, kok hidup kita kayak tahanan, ya. Ke sini ada paparazi, ke sana ada paparazi. Maunya apa, sih!” keluh Joshua, bahkan sekarang ia sedikit melorotkan maskernya.
“Lo gak mau disorot?”
Joshua mengangguk antusias, barangkali sahabatnya itu ada solusi.
“Mati aja sana!”
Gemeretak gigi Joshua, ia sedikit kesal pada Darryl. Ditepuknya punggung sahabatnya itu, lalu berpantun.
“Ikan hiu nyuri permen, pakyuu menn!”
Joshua lalu mendekat pada Darryl seraya berbisik, “Gimana, enak nggak?”
Senyum jahil seperti biasa kembali muncul di wajah tengil Joshua, pria itu menaik-turunkan alisnya.
Kini Darryl yang berbisik, “Surga dunia,” balasnya dengan wajah tengik pula, berniat memanas-manasi si tukang rusuh di depannya itu.
Joshua mendengus, “Asuw sekali eperibadeeh!”
Anastasha bersama Juminten sejak tadi hanya menjadi penyimak saja, dua pria itu asik tanpa menghiraukan mereka.
Sepertinya Anastasha mulai bosan, "Mas, ayo jalan-jalan. Ngeladeni kak Joshua gak ada habisnya tau!"
“Eh bentar-bentar!” cegat Joshua saat Darryl dan Anastasha akan beranjak.
“Apa lagi?” Gemas Darryl, gemas ingin menabok.
“Sini dah lo pada, deketan sama gue.”
Anastasha dan Darryl mendekat, bahkan mencondongkan badannya. Walaupun tau pasti kalimat yang keluar dari mulut lambe turah Joshua pasti tak ada faedahnya.
Azumi yang agaknya juga ingin bergabung dalam pembicaraan, mendapat toyoran dari Joshua di dahinya.
“Lo gak usah ikut campur Juminten!” ujar Joshua, sepertinya ia lupa jika Azumi adalah pacarnya.
“Heh babi, gak usah pake noyor kepala gue juga, monyet!”
“Ribet amat sih lo, dasar kuda thumbelina!”
“Asuw banget ya lo!” Juminten merasa panas di ubun-ubunnya. Joshua memang pacar yang gak ada akhlak.
Tanpa pamit, Azumi langsung minggat dari tempat duduknya lalu pergi.
“Pergi yang jauh deh sono, ntar juga balik lagi,” usir Joshua, wajah tengilnya kembali lagi.
“Beneran kak Joshua pacaran sama Azumi?” tanya Anastasha, ia jadi ragu setelah mendengar perdebatan singkat antara pasangan Joshua dan Azumi barusan.
Joshua mengangkat kedua bahunya, “Entah, bahkan gue juga lupa kapan gue jadian sama si Juminten.”
Pasangan yang sangat uwu sekali.
“Leher gue pegel, bangs*t!" umpat Darryl karena Joshua belum menyampaikan maksud kenapa memintanya dan Anastasha untuk mendekat.
Pria tak waras itu menepuk keningnya, “Gue sampe lupa, si Juminten sih.”
Saat Anastasha dan Darryl sudah mendekat, Joshua kembali bersuara, "Lo berdua gak tau berita terbaru?" ujarnya merangkul dua sejoli di hadapannya.
“Berita apa?”
Joshua menatap Darryl dan Anastasha secara bergantian, "Kalian mau buat pembaca kita menurun, ya?"
“Maksudnya?”
“Tasya, jangan panggil Darryl 'mas' dong.”
“Kenapa sih, kak?" tanya Anastasha tambah bingung kemana arah pembicaraan ini.
“Lo gak tau ya, di part sebelumnya banyak yang komen gak setuju sama panggilan lo yang sekarang buat Darryl.”
“Terus?”
“Gak mau tau, pokoknya harus lo ubah! Kenyamanan pembaca lebih penting loh ini.”
Darryl menggebrak meja, “Ribet banget sih mereka, pembaca gak ada akhlak emang. Untung gue sayang.”
Di susul Anastasha, aktris cantik itupun ikut-ikutan menggebrak meja. “Demi pembaca yang selalu ingin di turuti kemauannya, yaudah Tasya ngalah.”
Tak mau kalah, Joshua pun ikut-ikutan. Rusak rusak dah itu meja, untung saja cafe ini punya Darryl.
“Gue ada saran!”
“Saran apa?” tanya sejoli itu bersamaan.
Dengan pedenya Joshua menjawab, “Gimana kalau manggilnya akang aja? Akang Darryl gituloh!”
“AKANG UDELMU!!”
***
Malam indah yang dipenuhi bintang, ditemani pula oleh purnama. Anastasha menatap langit dengan seksama, sebuah pertanyaan terus menghantui pikirannya.
Apa panggilan yang cocok untuk Darryl, dan sesuai dengan keinginan pembaca?
Sejak tadi itu yang melayang-layang di pikiran Anastasha. Hingga sebuah pelukan membuyarkan lamunannya.
“Mikirin apa sayang?”
Anastasha menggeleng, “Bukan apa-apa.”
“Yakin?”
Anastasha mengangguk, “Yakin.”
“Tirai satu atau tirai dua?”
“Apa, sih!” Anastasha tertawa mendengar lawakan spontan Darryl.
“Gara-gara pembaca, kita harus mikir keras malam ini.” Darryl masih setia memeluk istrinya.
“Dan gara-gara pembaca, chapter gak faedah ini ada,” lanjut Anastasha.
“Gak usah dipikirin, pembaca kadang gitu. Ribet emang!”
“Bukannya ribet, mereka cuma terganggu aja,” bela Anastasha.
“Yaudah tenang aja, Darryl punya saran yang lebih manfaat nih dari pada saran si Joshua.”
“Apa?”
“Supaya tetap setia sama cerita ini. Fix, kita santet online mereka!”