Yeonjun pergi kesekolah karena ada kegiatan yang harus dia kerjakan. Sebagai mantan ketua osis dijamannya, Yeonjun masih harus turun tangan untuk mendisiplinkan adik-adik kelasnya, calon pengurus setelah dirinya.
"Habis darimana bruh!" Yeonjun menoleh, mendapati Beomgyu sang sahabat yang baru saja datang, tiba-tina merangkul dirinya yang pada dasarnya, lebih tinggi darinya.
"Dari rumah, lo gak becus banget ya. Disuruh jangan senioritas dulu. Malah dibikin takut adek-adeknya." Yeonjun menggeleng pelan, tak lama datang seorang lelaki yang sebaya dengan mereka. Lelaki itu salah satu dari mereka, rambutnya yang berwarna terang yang bisa membuat mereka mengetahuinya dengan segera.
"Bukan Beomgyu, Jun. Tapi biasa tuh, si Yeosang. Perasaan demen banget siksa anak orang." Sahut lelaki yang bernama---Mark. Kalau gak salah dia memang agak kebulean dan lain dari orang asia pada umumnya.
Yeonjun menggertakan giginya menahan geram. Memang, dari dulu dia menjabat Yeosang suka banget intimidasi anak orang. Entah, kenapa dia bisa begitu.
"Mana tu anak sekarang?" Yeonjun berujar dengan tatapan tidak bersahabatnya. Mark otomatis mengantar Yeonjun untuk bertemu Yeosang, kalau gak diantar nanti si Yeonjunnya mencak-mencak gak karuan.
"Gaswat!" Beomgyu sudah panik duluan. Kalau Yeonjun yang nyamperin Yeosang, itu adalah sebuah bencana. Kecuali kalau Yeosang yang nyamperin Yeonjun kalau mau melaporkan tugasnya.
Yeonjun mendesis ketika dilihatnya orang yang mungkin, hari ini mengajaknya untuk baku hantam. Duduk santai diatas pohon sambil nyuruh-nyuruh adek kelasnya.
"YEOSANG ANJIM!" Yeosang, lelaki yang sebaya dengannya, namun memiliki rambut pirang emas, menoleh dan tersenyum pada Yeonjun.
"Eh, udah dateng aja Boss. Gimana, udah bagus gak tugas gue?" Yeonjun menghela nafas, dan daritadi Mark udah ngodein Yeosang supaya diem. Karena mood Yeonjun lagi gak baik.
"Sorry, gue emang harus mendidik mereka dengan keras. Supaya gak keenakan nantinya. Apalagi ada yang gue tanda suka ngasi tatapan sinis ke gue." Tambah Yeosang, yang kini turun dari atas pohon dan mendekati Yeonjun.
"Sang, mending diem aja dulu. Gue gak tau bisa bantu lo lepas apa nggak kalau Yeonjun udah marah." Mendengar hal itu dari Mark, Yeosang tampak tak terima.
"Emangnya gue harus takut sama dia? Dia bukan Tuhan yang berkuasa. Lagian, gue menganggap tindakan gue ini benar." Selanya yang tak mau dianggap lemah dan tetap mempertahankan kekuatannya.
Yeonjun hanya diam, Yeosang gak tau aja Yeonjun lagi menghitung mundur dari dalam hati. Udah biasa dia ngadepin manusia modelan Yeosang, kalau Beomgyu aja lebih parah dari Yeosang.
"Eh, cewek cantik yang rambutnya panjang!" Yeosang malah kembali berulah dengan memanggil salah satu diantara para adik kelas.
"Mau lo apain anak orang?" Mark bertanya dengan harap-harap cemas. Gak tau lagi sama temannya yang satu ini, dari dulu gak pernah berubah.
"A-ada apa kak?" Cewek yang lebih muda dari mereka itu, tampak berdiri sembari memegang sapu dengan gemetaran.
Yeonjun menghela nafas, "Gue ngizinin lo merintah, bukan berati lo bisa seenak udelnya memperlakukan mereka kaya gini. Ada waktunya kita bertindak senioritas, please gua gak mau ngotorin tangan gue karena gatel pengen nonjok muka lo." Ujar Yeonjun tenang.
Yeosang berdecih, "Lo pikir gue takut sama ancaman lo?!"
"Cih, Jangan harap!"
"Eh, Lo sekarang ikut sama gue camp. Kalau gak mau gue keluarin lo dengan tidak hormat." Yeosang hendak menarik tangan adik kelas cewek yang tadi dia panggil.
Yeonjun yang gak tahan daritadi pengen nonjok muka Yeosang, akhirnya kesampaian.
BUGH!
"b*****t lo!"
###
Ting Tong!
Hana yang lagi ngecat kukunya pakw warna baby blue, menoleh pada pintu depan. Malam-malam begini, siapa yang datang?
Lagipula ini baru jam 9 malam, dan Yeonjun pergi jam 7 tadi. Gak mungkin kan dia cepet banget balik. Hana tau kalau Yeonjun sekarang ada kegiatan gitu disekolahnya.
Hana melangkah dengan hati-hati, dia takut yang menekan bell pintu rumahnya adalah orang asing yang berusaha masuk kedalam dan mau merampok.
Hana bergidik ngeri ketika membayangkannya. Dia baru saja merasakan enaknya dunia perniakahan, masa udah mau direnggut aja nyawanya. Mana Hana bawa satu nyawa lagi diperutnya.
"Dek, kayanya mama takut nih." Hana berbisik pelan, entah kepada siapa? Yang jelas dia benar-benar takut.
Ting tong!
Hana tersentak ketika mendengar bunyi bell rumah untuk yang kedua kalinya. "Ih, sabar ini lagi berusaha gerak!" Tukas Hana, yang kembali entah dengan siapa?
Ketika Hanna sudah sampai di gagang pintu, barulah dia perlahan-lahan memutar knop pintu dan memejamkan matanya takut-takut.
Ceklek!
Hana terkejut ketika seseorang memeluk badannya, tapi Hana belum berani membuka matanya. Hana takut, siapa tau nanti diperkosa orang gak dikenal. Hana bodoh, ngapain pake dibukain pintu segala?
"Kak Hana." Suara itu terdengar familiar. Hana perlahan membuka matanya, "Lho, Beomgyu?" Hana terkejut bukan main, Kalau didepannya sekarang Beomgyu, terus orang yang main peluk-peluk dia ini siapa?
Hana melirik kearah Beomgyu, "Kamu bawa pulang Yeonjun?" Beomgyu mengangguk.
"Dia teler? Dia minum alkohol?" Hana kembali melemparkan pertanyaan pada Beomgyu.
Beomgyu menjawab dengan sebuah gelengan dan, "Gak teler gara-gara Alkohol kak, cuma teler gara-gara baku hantam tadi dilapangan." Hana mengangguk.
Namun setelahnya Hana terkejut bukan main, "Astaga! Dia baku hantam sama siapa?" Yeonjun terasa menghela nafas.
"Udah gyu, lo pulang aja. Makasi udah anter gue. Besok gue traktir di sekolah." Beomgyu senyum, setelah itu pamit pada Hana dan juga Yeonjun.
Hana menggeleng pelan, dan memapah Yeonjun sampai di sofa ruang tengah. Yeonjun udah babak belur disekitaran wajahnya, bahkan sudut bibirnya berdarah.
"Aku gak habis pikir, kenapa kamu bisa berteman kaya gini?" Yeonjun terkekeh kecil, "Berantem, Han bukan berteman."
"Ya, pokoknya itulah. Kamu kaya gak tau aku aja, lagian udah mau jadi bapak-bapak masih aja ngajak anak orang gelut." Yeonjun hanya diam mendengar segala celotehan yang keluar dari mulut ajaib Hana.
"Aku dulu berantem paling rambutnya rontok, kalau kamu jangan sampai aja gigi-giginya rontok, karena aku gak mau punya suami ompong!" Tukas Hana setengah kesal.
Yeonjun mengangguk, "Iya, kamu tenang aja gigi aku kuat." Hana bangkit dari sofa, hal itu mengundang tanda tanya dari tatapan yang Yeonjun berikan untuk Hana.
"Mau kemana?"
"Mau minggat kerumah mama, aku gak mau punya suami kriminal." Jawab Hana santai, Yeonjun mendadak was-was namun setelahnya melihat Hana kembali membawa ember kecil dan juga handuk kecil. Yeonjun bisa tersenyum dan bernafas lega.
"Kalau sakit meringis aja, jangan teriak soalnya udah malam. Gak enak didenger sama mertua kamu." Yeonjun kembali terkekeh.
"Dih, malah ketawa nih orang." Tukas Hana tak terima.
Cup!
"Yeonjun! Darah kamu nempel dibibir aku!" Hana kesal, Yeonjun emang demen banget bikin Hana jadi gampang naik darah.
"Kamu gemesin sih, aku kan jadi Samyang."
"AWW!"
Setelah mengucapkan itu, Yeonjun malah meringis karena Hana yang menekan lukanya dengan brutal.
"Ngomong lagi, Aku cari Suami Baru!" Ancamnya yang membuat Yeonjun segera menutup mulut rapat-rapat.
###
Maaf ya hikd, pasti nunggu banget ini cerita update...
Btw isi cerita ini adalah keuwuaan, jadi kalau gak tahan boleh minggat wkwkw
Jangan lupa kunjungi i********: @im_yourput