Fyi, karena gw udh nyerah buat bikin story pake pov 1, akhirnya gue milih buat tetep pake pov 3
Jadi, maklumin aja ya :")
Btw jan lupa mampir di karya baru gw "Sweet Memories"
&
"MOZA HEART"
***
Hana duduk dengan ekspresi malasnya. Dia tidak tau, kenapa hari ini dia benar-benar gabut. Ketika liburan semester bagi para mahasiswi akan usai. Hana malah berpikir, dia tidak mungkin bisa menikmati kehidupannya sebagai mahasiswi lagi.
Apalagi, Yeonjun sekarang lagi mode gak mau diganggu dengan sesuatu hal yang membuatnya kesal. Tau sendiri kan, Yeonjun kalau diajak bahas yang kaya gini. Bawaannya sensi mulu.
Dicurigain lah, diinterogasi lah, bahkan pake nuduh kalau di kampus ada kating yang menel ke Hana. Padahal, Hana cuma gak mau selama itu terjebak dirumah.
Hana bahkan udah bosen banget kalau disuruh teken-teken remote tv. Kalau gak tayo, ya robocar poli. Itu terus isi tontonan Hana.
Padahal, Yeonjun rajin banget bayar wifi supaya Hana betah dirumah. Akhir-akhir ini, Dia sibuk belajar dan sering pergi les kalau sore. Ditinggalkannya, Hana seorang diri dirumah.
Itu yang bikin, Hana bete gak ketulungan. Apalagi, ketika sang Mama datang dan menemuinya.
Mama berkacak pinggang, "Hana, kamu gak mau olahraga sore?" Entah sudah keberapa kali Hana mendengar ucapan mama tentang, jogging disore hari.
"Males ma." Balas Hana, yang milih buat reebahan lagi diatas sofa. Hana tau, Mamanya mungkin lagi nahan kesel, melihat semua kekacauan yang tercipta akibat ulahnya.
Salahin aja Yeonjun, siapa suruh gak ngizinin Hana buat lanjut kuliah dan menyibukkan diri dengan tugas. Kalau kaya gini, Hana bisa mati bosan.
"Kamu kenapa sih han?" Mama bertanya jengah, tangannya bahkan terlipat didada ketika sang Mama mengarahkan pandangan untuk menatapnya.
"Kenapa, apa?" Hana malah bertanya dengan tampang polosnya, membuat Mama menggeleng untuk yang kedua kalinya, ah tidak. Mama bahkan tidak ingat berapa kali dis sudah menggeleng kepala karena melihat tingkah putrinya.
"Sekarang jam 5 sore, Hana."
"Lalu?" Hana bertanya dengan malas.
"Kamu belum mandi?"
Hana mengangguk tanpa perasaan bersalah sama sekali, membuat Mama geram.
"Oh ya Tuhan! Kenapa kamu belum mandi? HANA JANGAN JOROK DONG!" Mama memekik diakhir ucapan, membuat Hana dengan segera menutup kedua telinganya dengan tangan.
"Mama." Tukas Hana.
"Apa?!" Balas Mama garang.
Hana berdecak sebal, "Kenapa gak pulang aja kerumah. Siapa tau, Papa sama Kak Soobin udah pulang." Hana memasang senyumnya.
Mama beedecih, melirik segala sudut ruangan yang tampak berdebu dan sepertinya, benar Hana hanya diam saja diatas Sofa tanpa ada niat membersihkan segala kekacauan ini.
"Bangun, kamu bangun!" Tukas Mama dengan ekspresi tajam. Hal itu membuat Hana mendengus dan langsung bangkit.
"Hamil gak jadi alasan kamu untuk hidup malas seperti ini." Hana mengangguk kecil mendengar wejangan dari mamanya.
"Suami kamu mana?" Tanya Mama.
"Lagi pergi les." Jawab Hana seadanya.
Mama menghela nafas, "Kamu kesepian ya?" Tanya Mama. Hana malah mengangguk, Dia memang merasa kesepian ketika Yeonjun sibuk dengan belajarnya.
"Sabar ya sayang, Mama tau kamu pasti sedih karena Yeonjun sibuk sama belajarnya. Tapi, ini semua dia lakukan demi kebaikan kalian berdua kan?" Hana mengangguk, membenarkan.
Kali ini, pikirannya bisa menjernih dan tidak ngepul kebanyakan asap kesal karena diabaikan Yeonjun, hampir satu minggu.
"Tapi Ma, salah gak sih kalau nanti. Hana minta izin sama Yeonjun, kalau Hana mau lanjutin kuliah sampai satu semester aja?" Mama malah mengendikan bahunya.
"Kalau untuk urusan itu, kamu bisa tanya langsung sama orang yang bersangkutan." Hana mengerucutkan bibirnya kesal.
Ia mendekati sang mama lalu bergelayut manja di sebelah tangan Mamanya. "Ma, bantuin aku bilang ke Yeonjun dong." Ucap Hana.
Mama mengernyit, "Bukannya kalian udah pernah bicarain masalah ini ya?" Tanya Mama. Hana mengangguk lesu, "I-iya ma."
"Dan, mama tebak. Jawaban Yeonjun pasti gak ngizinin kamu buat lanjut kuliah?" Hana mengangguk lesu.
"T-tapi Ma, setidaknya kalau Hana kuliah, Hana gak segabut ini dirumah. Mana Yeonjun sekarang lagi sibuk-sibuknya." Mama menggeleng pelan.
"Kamu itu lagi--"
"Iya, aku tau ma. Aku tau aku lagi hamil muda. Tapi, mama juga pernah bilang tadi. Kalau hamil bukan alasan untuk malas-malasan." Mama menghela nafas.
Memang, kalau Mama lihat. Hana bosan banget dirumah. Dia bahkan tidak merapikan kekacauan yang tercipta akibat ulahnya.
"Yaudah, Nanti mama coba bantu bicara. Tapi, Kalau emang Yeonjun gak mau. Kamu harus hargai keputusan dia. Mau bagaimanapun juga, Yeonjun pasti mikirin kamu dan anak kalian. Dia ngelarang kamu, ada sebabnya."
Hana mengangguk mengerti.
###
Yeonjun baru aja sampai dirumah setelah mengendarai motor sport berwarna hitam dengan waktu 30 menit. Yeonjun masuk kedalam rumah dan mengernyit.
"Hana." Panggilnya. Ketika dirinya tidak menemukan siapapun dirumah. Rumah dalam keadaan sepi saat ini, seketika Yeonjun mendadak khawatir.
"Hana." Panggilnya lagi.
Yeonjun memeriksa lantai satu dari dapur sampai taman belakang. Namun, dia sama sekali tidak menemukan keberadaan Istri yang daritadi dia pikirkan.
Yeonjun kembali melanjutkan pencarikan ketika dia naik kelantai dua. Barulah dia menemukan Hana yang kini tertidur diranjang dengan pulasnya.
Yeonjun jadi merasa bersalah. Mengetahui kondisi rumah yang begitu sepi ketika ia melangkahkan kakinya kedalam, Yeonjun tidak bisa membayangkan bagaimana ketakukan yang mungkin, bisa Hana rasakan karena keadaan yang sepi.
Dia mendekat kearah Hana yang tampak tak terganggu dengan kehadirannya. Yeonjun menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman.
"Maaf ya, Gara-gara aku kamu harus kesepian kaya gini." Yeonjun kini duduk diranjang dan menggenggam sebelah tangan Hana, lalu mengecupnya dengan lembut.
"Kamu cantik banget." Ucapnya.
Terkadang, Ketika Yeonjun berusaha berpkkir. Dia masih tidak menyangka, kenapa dia bisa menikah dengan Hana?
Takdir, seakan memberikannya jackpot ketika orang yang menjadi cinta pertamanya dari jaman taman kanak-kanak, malah menjadi istrinya dimasa depan.
Tangan lelaki itu terulur untuk menyentuh perut Hana yang sudah sedikit membuncit. Yeonjun tersenyum haru.
"Bahkan, aku masih gak percaya kalau ada anak kita disini." Gumamnya lirih.
Yeonjun sebenarnya sadar, Dia akhir-akhir ini jarang sekali memperhatikan keadaan istrinya. Terlebih lagi, Yeonjun disibukkan dengan kegiatannya belajar.
Ujian nasional ada didepan mata, Dan dia gak melewati kesempatan itu. Dia mau membahagiakan Hana, dan tidak membiarkan Hana beserta anaknya menderita.
Yeonjun juga sadar diri, segala harta yang dia miliki saat ini. Adalah hasil keringat Mommy dan Daddynya yang sama-sama workaholic.
Makadari itu, Yeonjun bertekad akan belajar sebaik mungkin dan membantu papanya mengurus perusahaan. Yeonjun akan melanjutkan kuliahnya sebentar lagi, dan mungkin dia akan mengambil universitas yang sama dengan, Hana.
Yeonjun tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya kearah kening Hana dan mengecupnya singkat, sebelum akhirnya masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
###