Bab 14 : Main Nyosor

1049 Kata
Gue gak tau mau ngapain, Mama sama Yeonjun suruh istirahat. Tapi, gue malah gak bisa tidur karena suara berisik yang ada dibawah sana. Kalian tau gak karena apa? Hari ini, Banyak orang yang masuk kerumah karena ada beberapa titik dirumah ini yang bocor, karena Kucing kawin. Emang bener-bener kucing gak tau diri. Bisa ditempet lain kan, Kenala harus diatas genteng rumahnya. Sepuluh hari lagi, Yeonjun akan melaksanakan ujian nasional. Hal itu bikin gue deg-degan gak karuan. Memang, dari kemarin dia udah belajar keras supaya lulus dengan nilai tinggi. Ceklek! Gue yang lagi duduk males diatas ranjang, segera menoleh kearah Yeonjun yang keliatan baru masuk kedalam kamar, dia langsung buka baju. "Ngapain?" Tanya gue heran. "Mau ganti baju, tadi kena kotoran." Jawabnya enteng, melempar baju tersebut ke keranjang kotoran. Gue mendengus sebal. "Kamu, kenapa?" Tanya Yeonjun. Dia pasti ngeliat, betapa keselnya gue kali ini. Keselnya no kaleng-kaleng, karena emang kesel beneran. Gue memanyunkan bibir gue. "Mau main keluar, mau ketemu Somi deh." Yeonjun mengernyit tak suka. Dari tatapannya ke gue, setelah gue bilang hal itu aja. Sudah mengisyaratkan kalau Yeonjun gak setuju, dengan keinginan gue. "Kenapa kamu begitu? Kamu gak mau ijinin aku pergi kan, ya?" Yeonjun langsung mengangguk tanpa basa-basi. Hal itu malah bikin gue makin kesel. Yeonjun mendekat kearah gue yang langsung baring dan mau nutupin selimut sampai kepala. Namun, kayanya udah terlambat karena Yeonjun langsung narik selimut itu, kaya gak ngizinin gue buat sembunyi. "Apa sih!" Tukas gue kesal. Yeonjun segera mengambil tempat disamping gue, dengan sayang dia mengelus puncak kepala gue. Gue langsung heran, tiba-tiba aja dia ngelakuin itu. "Maaf ya, aku sebenarnya gak mau kurung kamu disini. Tapi, tunggu sepuluh hari lagi, habis itu kita jalan-jalan." Ucapnya, berjanji pada gue kalau sebentar lagi gue bebas dari kurungan. Gue langsung tersenyum penuh haru, aduh gak nyangka banget sih. Suami yang usianya aja terpaut tiga tahun dari gue lebih dewasa, ketimbang gue yang lebih besar. "Kamu tau kan, aku lagi sibuk belajar. Aku gak mau biarin kamu pergi keluar sendiri tanpa pengawasanku. Jadi pelase, jangan merasa aku ngurung kamu. Aku juga gak mau lihat kamu murung terus dikamar." Gue melunak, gue langsung membuka selimut. Membiarkan Yeonjun bergerak memeluk gue. Adem aja gitu rasanya dia meluk-meluk apalagi gak pake baju. Tubuhnya emang gak punya terlalu banyak kotak-kotak. Namun, cukup l men diusianya yang masih muda. Gue aja heran, kenapa dia bisa punya badan yang lumayan bagus kaya gini? Padahal kan ya, Dia gak pernah keliatan olahraga. Selama ini, selama gue kenal dia sebelum kita menikah. Yeonju tuh anti banget yang namanya olahraga malam. Gue aja sempet-sempetnya heran. "Ganti bajunya, sekalian kamu mandi aja. Bau apek soalnya." Ucapan Gue disambut tawa kecil olehnya. "Padahal aku cuma duduk-duduk, ngobrol sama mama sambil ngawasin para pekerja." Gue menoleh. "Oh ya?" Yeonjun mengangguk. "Aku boleh kebawah gak sih? Aku mau ngobrol sama mama juga." Pinta gue. Yeonjun terlihat menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Ingat ya, kamu jangan kemana-mana selain dibawah." Gue mengangguk. "Kan, ada kamu? Emangnya aku bisa pergi kemana?" Yeonjun terkekeh lalu mengacak pelan rambut gue. "Yeonjun, kalau berantakan kamu yang sisirin gak mau tau!" ### Gue mengamati para pekerja yang luamayan lah ya, walaupun cuma ada tiga orang. Mereka bener-bener ngerjain tugas mereka. Yang bikin gue gak habis pikir, tugas mereka ada karena kucing. "Gimana keadaan kamu sayang?" Mama bertanya lembut, begitu gue turun dari kamar gue segera menghampiri Mama. Gue tersenyum, "Baik kok ma, cuma aku kadang banyak maunya." Mama terkekeh kecil. "Wajar sih, mama aja dulu pas ngidam permintaannya aneh-aneh." Mata gue seketika berbinar, "Oh ya, seaneh itu?" Mama mengangguk "Sampai papa kamu inget, apa yang mama minta pas ngidamin Soobin." Mata gue tampak tertarik untuk menatap layar ditelevisi, dimana ada sebuah acara yang sedang berada di hongdae. Salah satu pembawa acara, membawa mereka disebuah lapak dimaba lapak tersebut menjual teokbeokki. "Yeonjun!" Panggil gue dengan segera. Yeonjun yang lagi berdiri sambil berkacak pinggang, segera menoleh kearah gue dan mendekati gue. "Apa?" Tanya Yeonjun. Gue dengan segera menunjuk layar televisi disana, "Mau teokbeokki." Ujar gue padanya, Yeonjun malah menggeleng. "Teokbeokki itu pedes sayang, jangan makan itu ya." Pintanya. Gue malah gak mau dan tetep mau beli itu. Mama ikutan menasehati, Tapi tenang. mama menasehati Yeonjun untuk menuruti keinginan Gue yang emang lagi ngidam banget. Yeonjun menghela nafas, "Yaudah, aku pergi beliin. Tapi gak usah banyak-banyak, terus setelah makan teokbeokkinya banyak minum air putih." Gue segera mengangguk dengan cepat. "Iya... iya... bawel banget sih!" Yeonjun menyambar jaket kulit berwarna cokelat dan juga kunci motor yang ada diatas meja. "Eh, Eh mau kemana?" Tanya gue dengan segera. "Kan, kamu minta teokbeokki, gimana sih?" Gue segera bangkit. "Tunggu.. Tunggu... Aku mau ikut!" Sergah gue. Yeonjun menghela nafas, "Kamu diem aja disini, jangan ikut." Titahnya. Gue segera menggeleng, "Gak mau! Aku mau ikut titik, gak pake koma." Ucap gue gak terbantahkan. Yeonjun hanya bisa mendengus pasrah. Toh juga, ada dia yang bisa jagaian dia nantinya. Yeonjun melajukan motornya dengan sedang, membawa kita kedaerah yang ada dekat dengan perumahan kita. Gak butuh waktu lama, kita sudah sampai disebuah streetfood gitu. Ada berbagai pilihan foodtruk yang mungkin bisa bikin gue khilap. Suka gatahan kalau lihat makanan sekarang mah. "Ayo." Ajaknya sembari menggenggan tangan gue erat. Duh, gue kan jadi malu, apalagi diliatin sama beberapa penjual dan juga para manusia yang lagi berdiri atau lagi makan disana. "Bu, saya mau teokbeokki sama gorengannya satu porsi ya." Ucap Yeonjun. "Baik." Si ibu-ibu yang ada didepan mereka dengan gesit mengambil tempat, dan mengisi wadah tersebut dengan teokbeokki. Lalu, yang gue lihat dia masukin dumpling goreng dan juga rumput laut yang digoreng. Dilihat doang, gue udah ngiler banget, apalagi kalau gue makan ya? Yeonjun nyenggol lengan gue, "Lihatnya biasa aja dong, ketauan pengen banget tuh." Gue memutar bolamata malas. "Iya, emang lagi pengen banget!" Tukas gue semangat. Bahkan pas ibu-ibu pedagang tadi memberikan gue teokbeokki yang udah siap disantap. Dengan segera, gue melahapnya. "Awh!" Gue malah menjerit karena teokbeokkinya masih panas, langsung gue bawa masuk kedalam mulut. Yeonjun terkekeh, "Makannya pelan-pelan, Inget lho ini baru aja mateng." Gue cemberut Karena mungkin gue gemesin, dia langsung nyosor didepan banyak orang. Si ibu-ibu pedagang langsung geleng-geleng kepala melihat kelakuan gue sama dia. "Anak muda jaman sekarang ya." Tukasnya. ### Kunjungi i********: : @im_yourput ###
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN