Daritadi, gue gak lihat Yeonjun selesai sama banyak buku yang udah kaya tumpukan gitu, didepan meja belajarnya. Gue ngerti sih, dia emang lagi sibuknya buat belajar.
Tapi, entah kenapa gue malah pengen banget gangguin dia. Pengen aja gitu duduk dipangkuannya, terus meluk dia dari depan.
Rasanya gak mungkin, karena gue sama dia lagi perang dingin gara-gara kemarin. Gue beraniin buat noleh kearah kamar, siapa tau Yeonjun udah selesai belajar.
Udah lama dia diem didalam kamar, masa sampai sekarang gak selesai-selesai.
Gak mau ketahuan, jalannya pelan-pelan aja, terus pas ada celah dipintu sedikit, Gue bisa lihat kalau Yeonjun masih belajar.
Astaga! Kenapa dia doyan banget kayanya belajar. Mentang-mentang kita lagi perang dingin, dia malah mengabaikan gue yang, notabenenya butuh kasih sayang.
Karena males, akhirnya gue pergi kerumah Mama. Udah badmood juga gara-gara, kenapa sih, Yeonjun gak peka banget.
"Lho, Hana tumben main kesini, kenapa gak bareng Yeonjun?" Mendesah malas, gue menghampiri mama.
"Gak tau tuh, menantu mama lagi kerasukan setan rajin." Mama terkekeh mendengar ucapan gue.
"Kamu ada-ada aja Hana. Yeonjun kan lagi sebentar ujian kelulusan, Didukung Han, bukan diambekin." Gak tau, gue lagi gak mau denger.
"Kak Soobin sama papa, kemana?"
Gak biasanya sih, di sore hari dimusim semi yang indah ini. Papa sama Kak Soobin belum pulang kerumah.
"Gak tau, mama aja bingung, kenapa mereka belum pulang sampai sekarang." Jawabnya.
Karena lagi gabut ditambah malas, gue duduk sembari bersandar disofa panjang, Menyalakan Tivi dan menonton dengan suasana hati yang buruk.
"Kamu kenapa sih? Kok daritadi mama lihat, kamu cemberut terus." Mama menghampiri Gue yang lagi enak-enak nyemilin keripik, ngambil di toples mama.
"Gak kenapa-napa ma, Hana lagi bad mood aja, gak tau kenapa?" Mama tersenyum.
"Mama gak nyangka, kalau anak mama udah ngerasain, apa yang mama rasain dulu." Gue mengernyit heran.
"Iya, Mama waktu hamil kamu ya han, bawaannya bad mood terus kalau gak deket papa. Padahal harusnya pas Mama hamil Soobin, Mama ribet ngidam karena anak pertama. Tapi, ternyata pas hamil kamu deh, baru mama ribet ngidamnya. Sama kaya kamu dah, persis banget."
"Jadi mama bakal badmood kalau gak ada papa?" Mama mengangguk.
"Mungkin, kamu juga gitu, badmood gara-gara ditinggal Yeonjun belajar." Gue mengendikan bahu, kemudian lanjut nyemil.
"Heh, jangan makan sambil tidur." Gue menoleh sekilas kearah Mama lalu mengangguk sebentar, tapi lanjut lagi nyemil sambil tidur.
Karena ngantuk, gue akhirnya ketiduran diatas sofa. Membiarkan toples keripik mama terbuka, karena gue lupa buat tutup.
Pas lagi asyik-asyiknya tidur, tiba-tiba ada seseorang yang lagi angkat gue, ala-ala bridal style gitu, mau buka mata, tapi rasanya berat banget. Yaudahlah, lanjut tidur aja siapa tau yang angkat, Kak Soobin.
Eh, tapi? Kok bau-baunya ini Yeonjun ya? Gue memberanikan diri untuk melihat sebentar, dan ternyata bener dugaan gue.
"Maaf ya Ma, Hana pasti ngerepotin." Gue berdecak dalam diam, enak aja dia bilanh gue ngerepotin, siapa suruh dia sibuk sama belajarnya?
"Iya, gak apa-apa lagipula Hana emang suka badmood karena kehamilannya."
Gue lihat, Yeonjun sedikit mengernyit, "Lho, Hana lagi badmood?" Mama mengangguk.
"Iya, dia lagi pengen dimanja sama kamu, makanya daritadi badmood terus, maklum ya dia itu lagi hamil." Yeonjun kedengeran lagi ketawa.
"Oh, jadi dia pengen dimanjain? Tenang aja ma, nanti Yeonjun manjain. Pantesan Yeonjun cari kemana-mana gak ada, taunya malah sembunyi dirumah mama."
Gue penasaran, pengen buka mata tapi males, yaudah dibiarin ajalah. Yeonjun membawa gue kekamar, lalu membaringkan gue. Astaga rasanya gue langsung pengen tidur lagi.
Sesuatu mengelus pipi gue dengan lembut, sudah bisa dipastikan kalau yang punya tangan itu, Yeonjun.
"Maaf ya, aku sibuk belajar, jadi ngebiarin kamu gabut sendiri. Aku harus lulus dengan nilai baik, supaya kedepannya dapet kerja dan bisa menafkahi kalian."
Kenapa hati gue rasanya tersentuh, pas Yeonjun bilang kaya gitu?
###
"Aahhh!"
"Y-yeonjun pelan-pelan!" Gue memekik terkejut saat dia menghentakan dirinya dengan kasar dan gak sabaran.
"M-maaf aku gak tahan."
Akhirnya kegiatan kami berdua selesai, Capek juga. Tapi yang bikin gue malu tuh, gue yang pengen. Gak tau pengen aja gitu.
"Makasih." Jawab Yeonjun.
Gue mengangguk pelan, keringat bercucuran, "Terimakasih juga, aku tau niat kamu belajar keras itu untuk siapa? Maaf kalau aku agak rewel minta ini itu." Yeonjun kelihatan terkejut.
Lalu setelahnya, dia menarik gue masuk kedalam pelukannya. "Tapi, aku gak suka ya kamu main kasar kaya tadi, sakit tau!" Dia malah terkekeh pas gue protes.
"Siapa suruh bikin orang gatahan? Aku lihat kamu shirtless kaya tadi, mana tahan, naluri kelakianku muncul." Gue mendengus sebal lalu memilih memejamkan mata.
"Kadang ya, aku ngerasa gak nyangka aja bisa ngelakuin hal ini sama kamu." Gue menoleh kearahnya.
"Kok gitu?"
"Ya bayangin aja, kita banyak punya momen waktu masih kecil, dan sekarang aku malah punya momen lagi pas dah dewasa."
"Apalagi, aku udah suka kamu dari kecil." Pengakuan Yeonjun, membuat gue kembali terkejut.
"Oh ya?"
"Aku selama ini pacaran, rasa gak pacaran, karena aku lebih mentingin kamu dari apapun."
Gue mendekat lalu mencium bibirnya sekilas, Yeonjun tersenyum, "Entah kenapa, aku bener-bener seneng pas tau kalau kita ngalamin pristiwa ini."
Gue senyum, "Btw, Belajar emang boleh Jun, tapi jangan bikin aku kesel karena kamu lebih mentingin belajar daripada aku."
Yeonjun ketawa, "Belajar itu penting ya, nanti kalau aku gak dapet pekerjaan gimana?"
"Kan Daddy sama Mami kaya jun."
"Mereka yang kaya, bukan aku." Gue cemberut karena kalah telak.
Chup!
"Udah, jangan cemberut terus, nanti aku khilap lagi dan yang dibawah gak mau tidur, kamu mau nidurin lagi?"
Gue menggeleng dengan segera, udah cukup yang tadi bikin badan gue lelah, gak mau lagi untuk saat ini.
Gue segera bangkit dari ranjang, lalu memasang kembali piyama. Gak mau Yeonjun bangun.
"Aku baru nyadar, kamu ternyata m***m ya! Padahal baru aja mau lulus." Yeonjun terkekeh.
"Aku mesumnya sama kamu aja kok, gak sama yang lain." Gue menyipit tajam kearahnya, "Oh, jangan berani macam-macam denganku, Kim Yeonjun!"
"Yaudah, makanya sini, aku mau peluk kamu lagi." Gue menggeleng dengan tegas.
"Pake dulu baju kamu, aku gak mau adik kamu bangun." Yeonjun berdecak.
"Ya ditidurin, apa susah?"
Gue menggeleng pelan, "Astaga, dasar anak remaja kelewat dewasa!" Tukas gue.
"Biarin, remaja-remaja gini, aku ayah dari anakmu ya."
Bodo ah, gue gak denger.
###
Maaf lama update hiks...
Lagi sibuk banget :")