Liburan musim dingin telah berlalu, hari mulai berganti, minggu pun turut ikut. Bahkan sekarang, Musim ikut berganti, Musim semi.
Rasanya, gue bener-bener kangen buat kuliah. Gak enak juga liburan musin dingin, alamat ya paling diem dirumah. Beda sama Yeonjun yang sibuk belajar menghadapi ujian akhirnya.
Akhir-akhir ini juga, Gue sama Yeonjun udah kaya gak canggung lagi. Gimana ya? Udah nyatu lah pokoknya, Cuma guenya aja kadang kesel kalau dia udah mulai bertingkah sok imut. Bikin jijik aja tau gak sih.
Hanya saja, setelah diberi kebebasan buat ngatur gue. Dia malah seenak jidatnya nyuruh gue buat gak masuk kuliah.
Gimana gak kesel coba?
Padahal sebelum itu, Mama udah bilang kedia. Kalau Yeonjun gak usah khawatir, Gue masih sanggup kok buat kuliah bawa anak. Paling cuti mendekati lahiran doang.
Masalah itu lagi-lagi kebahas disaat kita berdua lagi makan bareng, Kaya sekarang.
"Udah aku bilang kan, kamu gak usah kuliah, lagian kenapas sih? Diem aja dirumah ngurus anak." Yeonjun emang selalu bikin gue kesel dan marah disaat yang bersamaan.
Gue gak menjawab, rasanya, gue pengen banget nonjok muka songong Yeonjun saat ini juga.
Emangnya apa sih yang salah? Gue yang kuliah bukan dia, lagian biaya kuliah gue masih ditanggung papa sampai lulus.
"Aku gak mau bahas ini sekarang jun, kamu gak usah bikin hatiku jadi gak mood lagi." Gue menjawab dengan ekspresi tenang.
Yeonjun malah menggeleng, "Nggak, aku gak bakal setuju kamu kuliah lagi." Gue berdecak sebal.
Harus banget ya dia bilang pas lagi makan begini? Kenapa sih emangnya, pengen banget gue cakar mukanya yang sok ganteng itu.
Gue meneguk sampai habis, s**u rasa vanilla itu. Rasanya, puncak kemarahan gue udah ada diubun-ubun.
Pengen cekik lehernya Yeonjun gitu, tapi sayang banget. Nanti anak gue lahir gak ada bapak.
"Kenapa? Kamu gak suka aku larang kuliah?" Gue menghela nafas, gak enak juga ya punya suami masih bocah begini.
"Jun, gue mau kuliah, bukan mau perang." Yeonjun mendelik kearah gue, karena tadi berkata sedikit kasar lagi.
Habisnya, siapa sih yang gak kesel kalau terus-terusan dikekang kaya gini? Harusnya kan didukung gitu istrinya mah.
"Tetep ya, aku gak mau kamu sama dedek kenapa-napa." Yeonjun gak mau dibantah, dia bahkan tersenyum setelah mengatakan hal itu.
Ck, kenapa juga gue harus membiarkan dia menang atas gue? Kenapa waktu itu gak gue biarin aja dia manggil kakak?
"Keputusan ini yang terbaik untuk kita, aku masih terlalu khawatir sama kamu." Yeonjun bangkit, lalu menghampiri gue yang duduk diseberangnya.
Gue memutar bolamata, membiarkan Yeonjun memeluk gue, dan akhirnya gue yang luluh karena sikap dia.
Astaga! Yeonjun emang pinter banget bikin perasaan gue jadi campur aduk. Setelah itu, dia malah berjongkok, mensejajarkan kepalanya dengan perut gue.
Diusapnya pelan, perut yang terbalut sweater putih bergambar poni didepannya itu.
"Aku gak mau dia kenapa-napa kak, Jujur, aku masih terlalu takut dan khawatir." Hati gue menghangat.
"Aku gak bakal kenapa-napa kok jun, please ya, aku gak mau nyia-nyiain kesempatan ini." Yeonjun kembali berdiri.
"Maaf, aku gak bisa." Ucapnya lembut lalu mengusap puncuk kepala gue dengan sayang.
Gue mendesis, "Keras kepala ih!" Tukas gue padanya. Yeonjun malah terkekeh, lalu dengan nakal mencium kilat bibir gue. Bukan kecupan ya, garis bawahi, mencium.
Dia sempet melumat dengan pelan, tapi setelahnya ditarik lagi, "Aku gak nyangka kamu bakal semanis ini, kenapa gak dari dulu aku hamilin ya?" Gue reflek memberikannya tatapan tajam.
Yeonjunnya malah cengengesan.
###
"Huhu... kenapa sih Yeonjun tuh ngeselin banget!" Gue mengadu pada Somi.
Dia tampak memperhatikan gue yang sedari misuh-misuh gak jelas, memberikan u*****n halus pada Yeonjun.
Maklum, sekarang cuma Somi yang bisa diajak cerita. Kalau sama kak Soobin, yang ada dia memperkeruh suasana bukan memperbaiki suasana.
"Jadi gimana?" Somi bertanya, setelah menanti gue selesai dari misuh-misuh.
"Ya gak gimana-gimana, gue cuma kesel aja gitu som, tuh bocah pake sok-sokan ngatur gue!" Gue gak bisa nutupin, bagaimana kesalnya gue saat ini.
Somi menggeleng pelan, "Dia kan suami lo han, Lagian terima aja kali. Yeonjun malah bucin banget sama lo." Gue mengernyit.
"Bucin apaan elah?"
"Ya, keliatan banget dia gak mau lo sampai capek. Lo kan lagi hamil han, kalau lo lupa." Gue mendelik.
"Kok lo malah sengkokolan sama Yeonjun sih? Ih Somi gak like!"
Somi bangkit, lalu berkacak pinggang menatap kearah gue dengan kesalnya, "Gue cuma ngingetin lo, kalau Yeonjun punya alasan buat itu." Gue mendengus.
"Btw, lo berhenti nih pake bahasa campur lagi?"
"Oh ya? Kok i gak sadar ya? Abisnya you bikin i pusing." Gue tersenyum paksa.
"Bicara sama lu, malah bikin gue gak tahan som." Somi cengengesan.
"Justru lo bakal kangen banget sama sifat gue ini."
"Secara, gue kan ngangenin." Tambahnya dengan pede.
"Eh btw, gue pengen denger dong, gimana sih perasaan lo ke Yeonjun sekarang?" Merasa heran, gue malah menatap bingung kearahnya.
"Tumben-tumbenan lo nanya yang begituan? Biasanya gak terlalu peduli."
"Lah, gue kan kepo, lagian penasaran aja gitu, temen gue yang katanya susah jatuh cinta ini, malah terikat sama tetangganya sendiri, bocah pula." Ini somi ada niatan buat nyindir gue ya?
Eum, gue bingung juga sih mau jawab apa? Rasa-rasanya gue tuh nyaman banget sama Yeonjun.
Gak tau, ini faktor lagi hamil anak dia, atau karena gue sendiri yang udah gak bisa jauh lagi darinya.
"Masih belum jelas." Jawab gue.
Somi menggeleng pelan, "Awas, jangan sampai pas kehilangan, lo malah sadar." Gue menatap tajam.
"Yah, jangan dong. Nanti anak gue kangen sama ayahnya." Somi malah mesem-mesem gak jelas mendengar ucapan gue yang seperti itu.
Karena melihat ekspresi Somi yang tampak aneh, gue malah ngambil bantal persegi kecil berwarna merah muda lalu melemparkannya dengan sembarang kewajah Somi.
"Wah ngajak ribut nih bumil!" Gue ketawa pelan.
"Awas lo, gue aduin sama Yeonjun kalau lo mau kuliah diem-diem." Gue yang baru aja seneng, mendadak cemberut karena denger ucapan dia.
"Jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
Somi memutar bolamatanya, ketika tangan berada telipat dibawah d**a. "Jangan pura-pura gak tau deh bambang! Gue tau pasti ya, lo sebenarnya tau." Gue cengengesan.
"Masih abu-abu som, gue masih mikirin buat tetep lanjut kuliah. Mungkin, nanti bakal gue coba bicarain lagi sama Yeonjun. Asli, sayang banget rasanya kalau gak dilanjut. Mana sebelum masuk universitas itu, kita harus tes dulu." Somi mengangguk membenarkan.
"Jangan lupa minta pendapat mama lu, mau bagaimanapun, dia lebih berpengalaman dan udah jadi ibu dua anak." Gue memutar bolamata.
"Gue berharap, Semoga aja Yeonjun mau dengerin dan ngizinin gue buat lanjut. Padahal sayang banget, gue juga gak mau anak gue malu punya ibu yang gak wisuda-wisuda nantinya." Somi mengangguk.
"Nah Lo! Pada bahas apa?"
Mereka berdua terkejut melihat siapa yang berdiri didepan pintu sekarang.
###
Ganti Judul ya eheheh, Jadi MY DEAREST BOY
Jangan lupa Mampir ke karya aku yang baru, judulnya, MOZA HEART
Pecinta cerita mature, romance, fantasy, wajib deh baca!
Oh ya jangan lupa juga buat Like dan Komen, kalau kalian mau mampir buat ngingetin aku update... boleh banget.
Di i********: ya, @im_yourput