"Apa kau ingin mencobanya denganku?" Tanya Jose
"Maksudmu?" Tanya Palloma.
"Bercinta denganku, jika aku bisa memuaskanmu, maka kau bisa ikut denganku. Aku akan menebusmu dan membawamu pergi dari kota ini. Aku yang akan menjamin hidupmu dan juga kau bisa ikut therapy untuk ketagihan seks mu, ya meskipun aku bisa memuaskanmu." Sahut Jose.
Palloma sungguh tak percaya, Jose masih mau dengan dirinya setelah semua yang dia ceritakan padanya.
*****
"Pall...???" Panggil Jose karena Palloma terus diam dan hanya menatap padanya.
"Tidak, aku tidak bisa melakukannya denganmu. Apa kau sudah gila ingin melakukan sebuah percobaan seks? Apa kau tak takut jika aku mengidap penyakit kelamin, atau virus lainnya? Tidak, tidak! Kita tidak bisa melakukannya." Sahut Palloma pada akhirnya tetap menolak tawaran Jose.
"Bagaimana jika aku tidak keberatan dengan semua penyakit itu? Aku bersedia menanggungnya bersamamu." Ucap Jose terus berusaha membujuk Palloma.
"Kau gila! Apakah hidupmu sudah terlalu sempurna?! Sehingga kau menjadi bosan dan ingin membuatnya sedikit kotor bahkan rusak?" Sahut Palloma sungguh tak mengerti dengan cara berpikir Jose.
"Kesempurnaan tak akan ada jika tak pernah ada ketidaksempurnaan di dunia ini. Bukankah seseorang bisa melihat kesempurnaan saat dia telah melihat ketidaksempurnaan?" Ucap Jose.
"Aku sungguh tidak mengerti maksud ucapanmu. Jangan berbicara padaku dengan menggunakan segala ungkapan tingkat tinggi, kau ingat kan siapa aku ini? Lagipula apapun maksud ucapanmu itu, sungguh aku tak ingin kau tertular keburukan apapun dariku." Sahut Palloma.
"Kenapa? Kenapa kau jadi peduli padaku? Kenapa kau mulai memberikan perhatian padaku?" Tanya Jose tersenyum dan membuat Palloma terkejut.
Palloma sungguh tidak menyadari bahwa dirinya sedang peduli pada Jose.
"Aku?! Peduli padamu?! Tidak! Kau sungguh aneh! Bagaimana bisa kau berpikir bahwa aku sedang peduli padamu?!" Sanggah Palloma membantah ucapan Jose.
"Kau tidak pernah memikirkan pria lain akan tertular penyakit ataupun hal buruk darimu, tapi kenapa kau memikirkan hal itu padaku?" Sahut Jose semakin membuat Palloma gugup.
"Tidak! Kau salah! Aku tidak peduli padamu dokter! Aku hanya peduli pada warga disini! Kalau kau sampai sakit, lalu siapa yang akan mengobati warga disini?! Ck! Aneh!" Bantah Palloma sambil menghentakkan kakinya dan berdiri dengan kesal.
Jose hanya tersenyum semakin lebar melihat sikap gugup Palloma.
"Aku ini memang dokter umum, tapi aku juga pernah mempelajari tentang perilaku manusia dan hal-hal yang mempengaruhinya. Aku senang kau peduli padaku, itu menunjukkan bahwa kau mulai melihat ke arahku." Ucap Jose.
"Terserah pada pemikiranmu saja! Aku sungguh tidak peduli! Aku harus pulang sekarang!" Sahut Palloma sambil meraih tas dan mantelnya, dia terus berusaha menghindar dari Jose.
"Pall...., Bisakah kita berteman?" Tanya Jose dan menghentikan pergerakan Palloma yang sedang memakai mantel, namun tak menoleh ke belakang.
"Kenapa kau terus memaksa untuk dekat denganku? Sebesar itukah hasratmu untuk bisa menikmati tubuhku?" Tanya Palloma sangat tersirat nada kecewa dalam ucapannya. Airmata pun mulai mengumpul di pelupuk matanya.
"Tidak, aku sungguh ingin selalu dekat denganmu, karena kau memang sudah menguasai hatiku. Aku memang memiliki hasrat atas dirimu, tapi aku hanya ingin bercinta denganmu bukan sekedar seks saja." Sahut Jose sangat tersirat ketulusan dalam ucapannya.
Airmata di pelupuk mata Palloma akhirnya jatuh mengalir di pipinya. Airmata yang awalnya terbendung karena kecewa tadi, kini tak tertahankan karena begitu tulusnya dia dicintai oleh pria sempurna itu.
Palloma memejamkan matanya, sungguh dia terus berusaha menguatkan hatinya untuk tidak berbalik dan memeluk pria itu. Palloma pada akhirnya hanya terburu-buru memakai mantelnya lalu keluar meninggalkan rumah Jose tanpa lagi berkata apapun apalagi menoleh dan berpamitan.
Palloma terus melangkah cepat, bahkan dia berlari untuk lebih jauh menghindari Jose yang terus memanggilnya dan berusaha mengejarnya. Palloma tak ingin Jose melihat airmatanya, Palloma tak ingin jatuh pada cinta Jose yang dia tahu akhirnya hanyalah sebuah kekecewaan saja baginya.
Palloma masih terus menangis bahkan sampai dia masuk ke dalam rumahnya sendiri. Palloma merasa sangat sesak di dadanya. Pernyataan Jose yang sangat tulus itu tak pernah dia dapatkan dari siapapun sejak orang tua nya meninggal. Hati Palloma tak siap menerima suatu perasaan tulus untuk dirinya. Selama ini di otaknya adalah dia harus terus membunuh hatinya terhadap siapapun orang di sekitarnya, karena dia tak akan sanggup bekerja melayani para pria b******k itu jika hatinya masih memiliki perasaan. Palloma sudah berhasil mematikan dan membekukan hatinya untuk semua pria selama beberapa tahun ini.
Cinta dan perhatian Jose serta ketekunan Jose untuk mendekatinya ternyata mampu perlahan mencairkan hatinya, tanpa Palloma sadari. Jose lah pria yang telah kembali bisa mencairkan airmata Palloma hingga mengalir di pipinya.
"Kau bodoh dokter! Kau sungguh tak punya otak! Siapa aku ini?! Bagaimana aku harus berhadapan dengan keluargamu di kota besar sana?! Mereka tentu hanya akan memandang rendah diriku! Aku pasti akan mempersulit hidupmu dokter! Tuan Jack juga tak akan mungkin membiarkan aku bebas begitu saja. Dasar bodoh!" Ucap Palloma terus merutuk Jose pada dirinya sendiri sambil terus menangis.
❤️❤️❤️❤️
Jose akhirnya berhenti mengejar dan membiarkan Palloma pergi, dia hanya mengejar Palloma sampai di depan pagar rumahnya saja. Jose sungguh tak ingin semakin memperburuk keadaan, dia tak ingin Palloma merasa dipaksa dan akhirnya justru membenci dirinya.
"Sial! Selalu saja seperti ini! Aku memang bodoh dalam hal mendekati wanita apalagi menaklukkan wanita!" Rutuk Jose kesal terhadap dirinya sendiri.
Jose kembali masuk ke dalam rumahnya. Jose menatap ruang tamunya yang kembali sepi malam ini, karena Palloma telah pergi.
"Andai aku bisa menahan diriku untuk tidak memaksanya berhubungan dekat denganku, pasti dia masih ada disini sekarang!" Kesal Jose terus menyalahkan dirinya.
"Sebaiknya aku menemuinya besok dan meminta maaf padanya. Semoga suasana hatinya sudah lebih baik besok pagi." Ucap Jose bertekad lalu menghela napas panjang.
Sepanjang malam ini keduanya tak ada yang dapat memejamkan mata mereka. Meski mereka berada di masing-masing rumah mereka, namun keduanya sama-sama saling memikirkan satu sama lain.
❤️❤️❤️❤️
"Pagi Tuan Jack." Sapa Palloma saat kembali datang untuk bekerja di rumah penguasa itu.
Pagi ini tidak seperti biasanya, keadaan rumah sangat hening, hanya ada tuan Jack yang sedang sarapan seorang diri, tanpa seorang wanita yang menemaninya seperti biasa.
"Duduklah Pall, temani aku sarapan." Perintah Tuan Jack.
"Tapi Tuan...., Saya sudah ditunggu Tuan Hogward."sahut Palloma.
"Kau bisa melayaninya nanti, dia masih tenang dengan mainan barunya. Duduklah!" Ucap Tuan Jack.
"Mainan baru? Maksud anda...." Sahut Palloma ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Wanitaku sedang bermain dengannya, tenanglah, si tua itu tidak akan mencarimu hari ini." Ucap Tuan Jack.
"Duduklah! Tugasmu pagi ini menemani aku sarapan!" Perintah Tuan Jack lagi.
"Baik Tuan." Sahut Palloma lalu dengan perlahan dan masih ragu, dia duduk di hadapan Tuan Jack.
Pelayan pun mulai menyiapkan sarapan untuk Palloma sesuai dengan perintah Tuan Jack.
"Enak?" Tanya Tuan Jack dan Palloma menganggukkan kepala.
"Kau bisa tetap menikmati segala makanan enak ini setiap hari, jika kau tidak melawanku Pall." Ucap Tuan Jack.
Palloma seketika membeku mendengar ucapan Tuan Jack yang sangat tersirat sebuah ultimatum baginya.
"Saya tidak akan berani Tuan." Sahut Palloma menunduk dan meminum air dari gelas di dekatnya.
"Kau tahu Pall? Ayahku bisa kuatur untuk tidak membutuhkanmu lagi. Kau tahu kan apa statusmu jika ayahku tak lagi membutuhkanmu? Kau tahu bukan bahwa kau hanya akan menjadi jalang di club ku dan mendapat perlakuan sama dengan yang lainnya? Jadi, jika kau memang masih menginginkan hidup layak dan terlindungi seperti saat ini, dan tinggal di rumah besarmu itu, maka kau harus benar-benar memperhatikan perilakumu Pall.." ucap Tuan Jack, dengan santai dan datar namun sangat mengerikan.
Palloma hanya diam dan menganggukkan kepala, tanpa berani menatap tuan nya itu.
Tuan Jack mengakhiri sarapannya dan berdiri, menghampiri Palloma. Dengan tubuh sedikit membungkuk, dia berbisik di telinga Palloma.
"Jauhi dokter itu, jika kau tak ingin kehilangan hidupmu atau hidup dokter itu." Bisik Tuan Jack mengancam dengan kejam.
Tuan Jack lalu berdiri dan membenahi jas nya.
"Ingat Pall! Mataku dan telingaku ada di seluruh kota ini, jadi jangan pernah mencoba untuk bermain secara tersembunyi dariku!" Ucap Tuan Jack lalu melangkah pergi dari rumah.
Tubuh Palloma membeku dengan segala ucapan Tuan Jack barusan. Palloma sangat paham bahwa Tuan Jack selalu sanggup melakukan segala ancamannya itu, bahkan menghilangkan nyawa seseorang sudah sangat ringan bagi tuan Jack, seolah hanya membunuh seekor kecoa.
"Pall..., kau baik-baik saja?" Tanya Carlos yang mendadak muncul di dekatnya, membuat Palloma terkejut, terlebih lagi wajah lebam pada sahabatnya itu.
"Carlos! Kau! Ada apa dengan wajahmu?!" Tanya Palloma sangat cemas, namun Carlos hanya tersenyum menyengir kesakitan.
"Maafkan aku Pall..." Sahut Carlos yang justru meminta maaf pada Palloma.
"Ada apa Carlos?! Apa yang sebenarnya terjadi padamu?!" Tanya Palloma semakin bingung dan cemas.