"Semoga dia mau membuka pintunya." Ucap Palloma berharap, saat dia berdiri di depan rumah Jose. Palloma mulai mengetuk pintu rumah Jose yang terang lampu di dalam rumahnya.
Knock.Knock.Knock.
Palloma menghela napas panjang dan menunggu respon dari si pemilik rumah. Dia mencoba mengetuk lagi.
Knock.Knock.Knock.
Palloma menghela napas panjang lagi, semakin besar ragu dalam hatinya karena Jose tak kunjung membuka pintu baginya.
Palloma akhirnya melangkah pergi meninggalkan pintu rumah itu, karena Jose tak kunjung membuka pintu. Palloma mencoba menoleh ke belakang sekali lagi ke arah pintu itu, namun masih saja tertutup, akhirnya Palloma benar-benar melangkah pergi, keluar dari pagar rumah Jose dengan menunduk lesu.
"Sudahlah, memang seharusnya aku tidak datang ke rumahnya. Aku sudah menolaknya berpuluh-puluh kali, untuk apa sekarang aku justru yang mendatangi rumahnya?" Keluh Palloma pada dirinya sendiri.
Palloma terkejut saat dia hendak menyeberang ke arah blok rumahnya. Jose berdiri di seberang jalan sana.
"Darimana dia? Kenapa dia dari arah sana?" Batin Palloma bertanya dengan tanpa sadar mereka sedang saling menatap dari kejauhan.
Palloma masih diam di tempatnya, meski matanya menatap ke arah Jose, tapi dia masih tidak sadar bahwa Jose telah menyeberang dan melangkah mendekat ke arahnya.
"Hai." Sapa Jose, dan membuat Palloma seketika menapak lagi ke dunia nyata dan langsung menjadi gugup.
"Eh. m... ha.. hai." sahut Palloma gugup.
"Kau darimana?" Tanya Jose bingung, karena Palloma barusaja keluar dari blok rumah Jose, bukan dari arah club atau rumah Carlos dan juga bukan arah rumah Tuan Jack.
"Eh. mmm.... a... a... aku... aku... aku dari rumah Abigail." Sahut Palloma berbohong dengan gugup.
"O... aku baru tahu kalau Abigail rumahnya searah dengan rumahku, karena aku barusaja bertemu dengannya di blok yang sama dengan rumahmu, dan dia berkata akan pulang sambil menggandeng seorang pria." Ucap Jose santai namun membuat Palloma semakin gugup karena ketahuan berbohong.
Palloma hanya bisa tersenyum canggung, karena dia memang tidak memiliki jawaban lagi.
"Aku tadi dihubungi oleh Carlos, katanya kau pulang cepat karena sedang tidak bersemangat. Aku mencoba ke rumahmu, siapa tahu kau sakit dan butuh diperiksa, tapi ternyata kau baik-baik saja." Ucap Jose tersenyum.
Palloma semakin canggung berhadapan dengan Jose saat ini, entah apa yang terjadi dengan dirinya malam ini. Tidak biasanya dia merasa canggung dan tak mampu berkata apapun saat berhadapan dengan Jose, tidak seperti biasanya.
"Aku dari rumahmu." Sahut Palloma sambil menundukkan kepala tak berani menatap Jose.
"Benarkah? Kau ada perlu denganku? Apa kau memang sedang sakit?" Tanya Jose tidak ingin buru-buru bersenang hati, mengingat semua yang Martha ceritakan padanya siang tadi.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Carlos tadi sempat mencemaskan dirimu karena kau tidak datang ke club lagi. Baiklah, aku akan pulang. Bye." Sahut Palloma kembali berbohong dan segera melangkah hendak menyeberangi jalan dan meninggalkan Jose.
"Kau ingin minum kopi? Aku barusaja membelinya tadi." Jose berbalik dan menahan langkah Palloma yang sudah hampir menyeberangi jalan.
Palloma berhenti tapi tidak langsung menoleh. Sesaat dia diam, kemudian berbalik dan tersenyum menganggukkan kepala.
"Kita berdua sudah di blok ini, bagaimana jika di rumahku saja?" Usul Jose, dan Palloma menganggukkan kepalanya lalu berjalan kembali ke Jose dan berjalan bersama Jose.
Hening dan hanya ada senyuman di wajah keduanya, sepanjang perjalanan hingga masuk ke dalam rumah Jose.
Palloma membuka jas mantelnya dan Jose menggantungkannya di dekat pintu.
"Terima kasih." Ucap Palloma.
"Duduklah, kau bisa bersantai dan menunggu aku membuatkan secangkir kopi untukmu." Sahut Jose, dan Palloma kembali mengangguk tersenyum.
"Aku suka kopi yang memakai cream, jika kau punya." Ucap Palloma lalu Jose pun mengangkat jempolnya.
"Apa yang harus kulakukan disini? obrolan apa yang akan kami obrolkan disini ya?" Batin Palloma terus bingung dan merasa sangat canggung.
Tak berapa lama Jose kembali ke ruang tamu dengan membawa baki berisi dua cangkir minuman dan sepiring biskuit.
"Silahkan, semoga kau suka." Suguh Jose menyodorkan secangkir kopi pada Palloma.
"Kau tidak suka kopi?" Tanya Palloma karena Jose meraih cangkir yang berisi teh.
"Tidak, aku tidak terlalu kuat untuk minuman kafein." Sahut Jose.
"Kenapa? Kau meragukan kemampuan pria yang tidak kuat dengan kafein?" Tanya Jose lagi karena Palloma hanya diam mendengar pengakuan Jose.
"Eh. Tidak. Tidak. Setiap orang berhak memiliki selera lidahnya sendiri, tidak ada hubungannya dengan kemampuan yang lain." Sahut Palloma lalu menyesap kopi di cangkirnya.
"Bagaimana? Cocok dengan selera lidahmu?" Tanya Jose. Palloma menjilatkan lidahnya ke seluruh bibirnya yang terdapat sisa cream.
"Lumayan, bagi orang yang tidak pernah menikmati kopi, buatanmu ini termasuk enak, meski tidak seenak di cafe." Sahut Palloma.
"Baguslah, aku takut mengecewakanmu. Kedatanganmu yang pertama kemari nyatanya ucapanku sudah mengecewakanmu, aku takut yang kali ini kau kembali kecewa karena kopi buatanku." Ucap Jose tersenyum lega.
"Aku akan mengajarimu membuat kopi yang enak untukku." Sahut Palloma.
"Baiklah, aku bersedia belajar apapun yang berhubungan denganmu dan bisa membuatmu betah datang ke rumahku." Ucap Jose.
"Maafkan aku." Ucap Palloma menunduk, memandangi cangkir yang dia pegang di pangkuannya.
"Untuk?" Tanya Jose
"Aku sudah terlalu kasar padamu selama ini. Aku......"sahut Palloma tidak terselesaikan.
"Kau tidak selera dengan pria sepertiku." Lanjut Jose menyelesaikan kalimat Palloma.
Palloma tersenyum terkekeh mendengarnya.
"Tidak, bukan itu sebenarnya." Ucap Palloma.
"Lalu? Kenapa kau terlihat sangat membenciku, dan sangat tidak menyukaiku?" Tanya Jose penasaran.
"Aku... Aku merasa duniaku ini sangat kotor, sedangkan kau hidup dalam dunia yang sangat bersih, bahkan boleh dikatakan bahwa kau ini seorang penyelamat bagi warga kota ini. Aku tidak mau kau ikut terseret masuk ke duniaku yang kotor ini." Sahut Palloma menjelaskan alasannya.
Jose menatap pada Palloma tidak berkata apapun. Palloma menjadi semakin salah tingkah.
"Aku sudah mengetahui mungkin hampir seluruhnya dari kisah hidupmu dan rutinitasmu." Ucap Jose tenang.
"Kau mengetahuinya? Sejak kapan? Apa sewaktu kemarin itu kau sudah mengetahuinya? Saat kau mengatakan kalau kau menyukaiku?" Tanya Palloma terkejut sekaligus ragu.
"Tidak, waktu itu aku belum mengetahuinya." Sahut Jose dan membuat Palloma seketika merasa putus asa dan pasrah, jika Jose berubah pikiran dan menjadi tidak menyukainya.
"Tak apa jika kini kau jadi jijik dan ingin menjauh dariku." Ucap Palloma.
"Maukah kau menceritakan langsung seluruhnya padaku?" Pinta Jose.
"Tentang apa? Dan untuk apa?" Tanya Palloma.
"Karena cerita dari warga hanya berdasarkan penglihatan mata mereka dan kata orang saja. Ada sangat besar kemungkinan semuanya tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Tapi jika kau sendiri yang mengatakannya itu sudah pasti lebih terpercaya, bukankah seperti itu?" Sahut Jose.
"Tidak, apapun yang mereka semua lihat itulah aku apa adanya." Ucap Palloma enggan untuk menceritakan tentang masa lalunya.
"Mereka tidak tahu apa yang terjadi di pikiran dan hatimu Pall. Aku ingin tahu apa yang ada di pikiran dan hatimu hingga kau memilih menjadi seorang Harlot seperti sekarang." Sahut Jose.
Palloma menghela napas panjang dan menyesap kembali kopinya.
"Secangkir kopi dan waktu semalaman tak akan cukup untuk mendengarkan semuanya." Ucap Palloma.
"Besok aku libur. Aku juga masih memiliki persediaan kopi bahkan untuk 10 cangkir lagi. Jadi kurasa cukup untuk aku mendengarkan semuanya darimu." Sahut Jose masih mencoba untuk membuka diri Palloma.
"Untuk apa dokter? Aku cerita atau tidak, aku tetaplah seorang Harlot yang tak pantas untukmu." Ucap Palloma dan airmata mulai menggenang di kedua matanya.
Jose berpindah duduk dan sangat dekat di samping Palloma, lalu meraih tangannya.
"Kumohon, Banyak hal yang aku tidak mengerti mengapa kau bersikap seperti ini dan seperti itu dalam cerita mereka. Kumohon, biarkan aku mengenalmu lebih dekat. Maukah kau mencobanya? Tapi aku tak akan memaksamu, jika itu memang berat kau lakukan." Pinta Jose.
Palloma menatap pada Jose lalu menghela napasnya panjang dan berat. Beberapa kali dia sudah menghela napas panjang, namun mulutnya tetap tidak mampu untuk berbicara. Jose masih tetap bersabar menggenggam tangan Palloma.
"Baiklah, aku tak peduli lagi jika kau memang akan menjauh dariku." Ucap Palloma pada akhirnya.
"Berjanjilah untuk tidak menyela selama aku bercerita, dan jangan pernah mengatakan apapun pada siapapun, termasuk Carlos sekalipun! karena ini pertama kalinya aku berani menceritakan segalanya pada orang lain selain diriku sendiri." Ucap Palloma lagi lalu menarik tangannya dari genggaman Jose.
Palloma menyesap sekali lagi kopi di tangannya, menghela napas panjang lagi, lalu mulai mengubah posisi duduknya menghadap ke Jose dengan lebih santai.
"Aku adalah putri tunggal dari walikota disini. Aku dan ayah ibuku adalah keluarga yang sangat bahagia dan kami semua hidup damai antar warga disini. Hingga suatu hari datanglah putra tunggal Tuan Hogward, Jack Hogward yang sangat kaya. Dia awalnya sangat baik dan suka beramal kepada semua warga yang tidak mampu dan memberikan pekerjaan pada warga yang kurang mampu disini ke kota besar.
Namun suatu ketika ayahku dan Sherif terdahulu mengetahui bahwa dia sesungguhnya adalah seorang pengedar narkoba. Dia juga ternyata menjual anak-anak dan para wanita miskin itu sebagai b***k seks di kota besar di club malam nya disana.
Sherif yang terpercaya waktu dulu telah berhasil dibunuh olehnya dan digantikan oleh Sherif yang tunduk padanya. Ayahku beberapa kali berhasil lolos dari ancamannya, tapi sayang sekali saat ayah berusaha membawa pergi aku dan ibuku dari kota ini untuk menyelamatkan kami, Tuan Jack justru merencanakan kecelakaan itu, yang menyebabkan kedua orang tuaku meninggal di tempat kejadian.
Sejak saat itu Tuan Jack menjadi walikota menggantikan ayahku. Aku dipaksa untuk masuk ke dinas sosial supaya dia bisa menguasai seluruh harta keluargaku di kota ini.
Kau tahu, aku gadis remaja usia 14 tahun yang sangat dirawat oleh ibuku, sehingga penampilanku pun sangat jauh lebih menarik dari gadis remaja lainnya. Pekerja di dinas sosial itu sungguh menjijikkan, setiap malam dia selalu masuk ke kamar anak gadis dan memainkan tubuh kami untuk kepuasannya meski dia terlalu pengecut dan tidak berani merusak keperawanan kami, karena takut dipecat, tapi dia sungguh menjijikkan.
Aku berusaha mencari cara untuk lari keluar dari tempat itu. Aku tahan semua rasa jijik dan bau kotoran sampah menyengat demi melarikan diri dari tempat itu dengan bersembunyi di dalam truk sampah yang selalu datang setiap malam.
Aku berhasil keluar seorang diri, karena mengingat pesan ayahku, bahwa tak ada satupun orang di kota ini yang bisa kita percayai. Semua telah tunduk pada Jack Hogward.
Aku terus bersembunyi, dan aku menghindari bertemu dengan siapapun, aku takut, aku sungguh merasa ketakutan dan sangat takut malam itu. Setelah lolos dari dinas sosial malam itu, aku mencoba pulang ke rumahku, tapi ternyata semua kunci sudah diganti oleh Tuan Jack.
Aku bersembunyi sebagai gelandangan, dan terus berlari jika ada dinas sosial atau warga yang mengenaliku, hingga aku bertemu Carlos.
Dia menyembunyikan aku bahkan dari tuan Jack sekalipun. Tapi mau bersembunyi seperti apapun aku tetap bisa ditemukan oleh Tuan Jack, karena kota ini sudah menjadi miliknya dan semua tunduk kepadanya.
Tuan Jack memberikan sebuah penawaran padaku. Usiaku saat itu sudah hampir 16 tahun, Tuan Jack mengatakan bahwa aku bisa memiliki rumahku lagi dan juga bebas dari dinas sosial, asalkan aku mau menjadi b***k bagi seks nya. Jujur aku lelah, aku sudah sangat lelah dengan pelarianku, terlebih Tuan Jack juga mengancam akan membunuh Carlos karena telah menyembunyikan aku darinya. Aku tak punya pilihan lain, aku pun menyerah, menyerah pada semua ketetapannya.
Malam itu aku menangis dan merasa ketakutan, ingin rasanya aku bunuh diri sebelum tuan Jack masuk ke kamar untuk memperkosaku. Tapi aku juga ingat nasib Carlos jika aku mati, maka Carlos juga pasti akan mati dibunuhnya. Carlos sudah terlalu baik padaku, aku tak boleh egois hanya memikirkan diriku sendiri.
Tuan Jack masuk ke dalam kamar itu dengan membawa segelas minuman berwarna merah, lalu menyuruhku meminumnya sampai habis. Aku baru mengetahui bahwa minuman itu sudah diisi obat perangsang saat pagi harinya. Aku bangun dan semua sudah terjadi dengan gilanya bahwa akulah yang terus memohon padanya dibawah pengaruh obat perangsang itu.
Tuan Jack terus melakukan hal itu padaku, obat perangsang dan video porno terus dia berikan padaku. Bisa kau bayangkan seorang remaja yang memiliki hormon perkembangan labil, terus setiap hari diberi obat perangsang dan video porno. Semua hal itu hingga setahun akhirnya aku tak lagi membutuhkan obat perangsang lagi, aku menjadi remaja yang ketagihan akan seks. Dua tahun lamanya aku menjadi b***k seks Tuan Jack, dan juga para teman-teman bisnisnya.
Aku sempat dibebaskan oleh tuan Jack, namun karena rasa ketagihanku terhadap seks dan juga kebutuhan hidupku membutuhkan uang, maka aku mengajukan diri menjadi jalang di club malam miliknya. Dia pun setuju, dengan pembagian hasil 70persen untuknya dan 30 persen untukku. Aku tak punya pilihan lain, daripada aku menjadi pengemis. Lagipula aku memang sudah kotor dan ketagihanku akan seks harus aku penuhi. Aku juga tak pernah mau menjual rumahku, karena bagiku itulah satu-satunya peninggalan orang tuaku.
Suatu ketika ayahnya kecelakaan dan menjadi lumpuh, tak ada satupun perawat yang sanggup untuk merawatnya, emosinya sangat labil karena tidak menerima kenyataan bahwa dia lumpuh. Tuan Jack memintaku untuk mencoba merawatnya, dan ternyata Terapy seks yang aku gunakan padanya buktinya mampu membuatnya tenang dan emosinya stabil lagi. Sejak saat itulah aku kembali bekerja dirumahnya dan tuan Jack memberiku bayaran yang sangat besar.
Sebenarnya pekerjaanku hanyalah mengurus kakek tua itu, tapi aku tidak bisa berdiam diri saat kakek tua itu tertidur. Aku sadar harus mengalihkan keinginan seks ku pada hal yang lainnya.
Tuan Jack pun mau memberiku bonus saat aku mau membantu pekerjaan lain di rumah itu. Tuan Jack memang sudah sangat jahat terhadap keluargaku dan hidupku, tapi sampai usia 23 tahun ini, aku bisa hidup layak bahkan termasuk mewah semua karena Tuan Jack.
Seorang gadis remaja gelandangan yang miskin dan sebatang kara, sempat dipandang hina oleh banyak warga, meski tidak sedikit yang kasihan padaku tapi mereka tak bisa berbuat banyak untuk menolongku. Kini gadis itu telah dewasa, meski dijuluki seorang Harlot, tapi aku hidup dalam kemewahan."
Palloma pun mengakhiri ceritanya dengan menghela napas panjang dan berat. Dia menunggu reaksi dari Jose yang sedari tadi hanya diam mendengarkan saja.
"Apa kau pernah punya keinginan berhenti dari tuan Jack?" Tanya Jose
"Tak bisa. Dulu pernah ada yang ingin membeliku darinya, tapi harganya sangat tidak masuk akal, bahkan rumah megahku dijual sekalipun tetap tak bisa membayarnya." Sahut Palloma.
"Tapi kau mau lepas darinya?" Tanya Jose lagi
"Aku sering berpikir ingin melarikan diri darinya, tapi sekali lagi aku berpikir, bagaimana dengan nafsu seks ku yang tidak terkendali? Jika aku harus pergi dari sini, hidupku akan menjadi susah lagi, hidup kekurangan bahkan mungkin menjadi jalang gelandangan di luar sana. Jadi aku terus membuang keinginanku itu." Sahut Palloma.
"Apa kau ingin mencobanya denganku?" Tanya Jose
"Maksudmu?" Tanya Palloma.
"Bercinta denganku, jika aku bisa memuaskanmu, maka kau bisa ikut denganku. Aku akan menebusmu dan membawamu pergi dari kota ini. Aku yang akan menjamin hidupmu dan juga kau bisa ikut terapy untuk ketagihan seks mu, ya meskipun aku bisa memuaskanmu." Sahut Jose.
Palloma sungguh tak percaya, Jose masih mau dengan dirinya setelah semua yang dia ceritakan padanya.
*****
Apakah Palloma mau menerima percobaan bercinta dengan Jose?
Apakah mungkin tuan Jack melepaskan Palloma?