Siang ini mendadak Jack datang ke klinik dengan maksud menemui Jose.
"Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu? Apakah anda sakit? Atau anda butuh obat?" Tanya Jose dengan ramah saat Jack masuk bersama dua pengawalnya.
Perawat yang menemani tugas jaga Jose siang ini langsung merasa takut melihat kedatangan sang penguasa kota ini.
"Aku mencari dr.Jose Romanof." Sahut Jack
"Saya Jose." Ucap Jose mengenalkan dirinya sendiri.
"Aku hanya ingin berkata padamu, berhenti mengejar dan merayu Palloma. Aku tidak ingin melihat dan mendengar kau mengganggunya lagi." Jack memberi ultimatum yang santai namun terdengar penuh ancaman kematian.
"Kenapa? Bukankah dia wanita single? Kurasa aku sedang tidak mengganggu istri atau kekasih pria manapun." Sahut Jose, membuat Jack mendelik terkejut, namun segera tersenyum sinis.
"Kau tahu siapa Pall yang sebenarnya? Kau tahu apa pekerjaan seorang Harlot sebenarnya? Kau seorang dokter, kau pria dengan hidup yang penuh kebaikan, kurasa sangat tak pantas jika kau mengejar seorang Harlot, terlebih lagi ingin kau jadikan kekasihmu." Ucap Jack sinis.
"Saya tahu siapa itu seorang Harlot, dan saya juga tahu bahwa Pall adalah satu-satunya Harlot di kota ini. Tapi saya tidak bisa mengatur hati saya ingin mencintai siapa, cinta datang begitu saja tanpa bisa dipahami oleh siapapun bahkan sang pemilik hati itu sendiri." Sahut Jose.
Jack duduk di sofa ruang tunggu tanpa peduli bahwa Jose belum mempersilahkannya duduk.
"Cinta? Mengapa kau tidak jatuh cinta pada perawat-perawat di sini? Bukankah kau setiap waktu selalu bersama salah satu dari mereka?" Tanya Jack sambil menaikkan sebelah kaki ke kaki yang lainnya.
"Martha sudah memiliki kekasih, Veronika bahkan sudah memiliki suami dan anak. Seorang pria sejati tidak akan mengganggu milik pria lain, anda tentu tahu itu." Sahut Jose.
"Palloma milik keluargaku, mengapa kau mengganggunya? Jangan katakan bahwa kau tidak tahu tentang hal itu." Ucap Jack mengklaim Palloma dengan santainya.
"Maaf, aku memang tidak tahu tentang hal itu, aku hanya tahu bahwa dia salah satu pekerja upah harian di rumah anda." Sahut Jose.
"Pall adalah budakku, kau tentu tahu bahwa kau harus membayar sejumlah uang jika ingin mendapatkan seorang b***k dari tuannya. Tapi untuk Pall, aku tak akan pernah menjualnya, terlebih selama ayahku masih hidup, maka Pall akan tetap menjadi budakku!" Ucap Jack.
"Katakan padaku, berapa banyak harus kubayar untuk menebus Pall darimu?" Tanya Jose dan membuat Jack seketika geram dan marah.
Jack berdiri dan langsung menarik bagian leher dari jas dokter yang dipakai oleh Jose.
"Rupanya kau dokter yang tuli hah?! Sudah kukatakan bahwa aku tak akan pernah menjual Pall! Selama ayahku masih hidup, Harlot murahan itu harus terus melayani ayahku!" Geram Jack lalu melepaskan Jose dengan kasar.
"Sekali lagi! Asal kau tahu saja, Pall bukanlah b***k pekerja biasa! Dia adalah b***k nafsu bagi aku dan ayahku dan harus melayani kami setiap hari! Bahkan dia kecanduan seks karena terlalu nikmat aku mengajarinya sejak dia masih gadis suci." Lanjut Jack sengaja membuat Jose menjadi jijik pada Palloma.
Jack pergi meninggalkan klinik dan tak peduli dengan Jose yang masih berdiri karena terkejut mendengar semua kenyataan yang sebenarnya lebih dalam tentang Palloma.
"Dokter, anda baik-baik saja?" Tanya Martha yang cemas terhadap keadaan bisu Jose.
"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya butuh untuk duduk sejenak." Sahut Jose terlihat sangat lemas lalu segera duduk dan bersandar pada tembok di belakangnya. Martha segera mengambil segelas air dan memberikannya pada Jose.
"Terima kasih." Ucap Jose selesai minum.
"Dokter, maaf aku hanya ingin mengingatkan saja. Sebaiknya anda tidak berurusan dengan tuan Jack, karena dia terlalu berbahaya. Sherif dan Walikota saja sudah dia kuasai. Sebaiknya anda lupakan saja Palloma." Ucap Martha tidak tega melihat Jose.
"Aku harus menyelamatkan Palloma, mereka keluarga gila! Palloma bisa mati jika harus melayani nafsu keluarga itu setiap hari dilanjutkan bekerja, terlebih masih harus menjadi Harlot di malam hari. Tidak adakah dari warga kota ini yang peduli pada Palloma?" Sahut Jose tetap bertahan pada hatinya.
"Dulu saat dia kehilangan orang tuanya, kami semua peduli padanya, warga kota ini sungguh menyayanginya dan banyak menolong merawatnya, tapi...." Ucapan Martha terhenti dengan ragu.
"Tapi kenapa?" Tanya Jose.
"Palloma menjadi sosok yang berbeda setelah dia terus melarikan diri dari dinas sosial. Palloma menjadi gadis liar dan tidak terkendali amarahnya kepada siapapun. Warga disini menjadi takut untuk mendekatinya, dia seperti gadis gila yang mengamuk setiap didekati oleh seseorang. Sampai akhirnya dia ditolong oleh Carlos bersembunyi di club milik Tuan Jack, dan menjadi b***k pekerja di rumahnya, demi terbebas dari kejaran dinas sosial. Kami semua tahu, siapapun yang masuk menjadi b***k pekerja di rumah tuan Jack pasti sekaligus akan menjadi pemuas nafsu baginya, bahkan bagi keluarga dan juga teman-teman tuan Jack. Sejak itulah warga di kota ini tidak ada yang berani dekat lagi dengannya, hanya sesama b***k saja yang berani menyapanya." Lanjut Martha menceritakan tentang masa lalu Palloma.
"Lalu tentang dia seorang Harlot?" Tanya Jose lagi.
"Semua b***k yang dianggap tidak berguna lagi bagi Tuan Jack dan keluarganya pasti akan dibuang begitu saja. Banyak yang menjadi jalang, ada yang menjadi pengemis juga demi tetap bertahan hidup, tapi ada yang menjadi gila karena tidak sanggup berjuang demi bertahan hidup. Semua warga bingung karena sangat berbeda dengan yang terjadi pada Palloma. Meski menurut kabar Tuan Jack tidak lagi menginginkannya, tapi Palloma tetap tidak dibuang olehnya, Palloma hanya dibebaskan untuk tidak tinggal di dalam rumah Tuan Jack lagi, tapi tetap menjadi b***k pekerja yang datang setiap pagi hingga sore hari. Warga kota ini banyak yang mengatakan bahwa permainan seks Palloma sangat hebat, karena itulah dia tidak dibuang oleh tuan Jack. Karena kabar itulah, banyak pria yang ingin membayarnya demi merasakan kehebatan seks Palloma. Palloma pun memanfaatkan berita itu demi meraup banyak uang, demi tetap bisa hidup dalam kemewahan dan kesenangan. Sejak itulah dia mendapat sebutan sebagai Harlot. Jalang tingkat tinggi yang selalu mengutamakan kesenangan dan kemewahan hidup, tidak peduli anggapan orang lain terhadapnya. Siapa sangka julukan Harlot itu justru lebih membuat Palloma bangga dan bahkan memasang tarif sangat tinggi bagi para pria yang ingin memakainya." Jelas Martha.
"Apa kau tahu pekerjaan apa yang dilakukan Palloma di rumah Tuan Jack?" Tanya Jose
"Aku dengar dari chef di rumah itu, katanya Palloma setiap pagi harus melayani nafsu ayahnya Tuan Jack, lalu memandikannya dan merawatnya hingga kakek tua itu tertidur, setelahnya dia akan mencuci semua pakaian penghuni rumah itu. Jika masih ada waktu dia mau membantu pekerjaan yang lainnya juga." Sahut Martha lagi.
"Kakek tua? Dia masih....?????" Jose bahkan tak sanggup meneruskan pertanyaannya.
"Ya, meski kakinya lumpuh, tapi miliknya masih tetap berfungsi, tangan dan mulutnya juga tetap aktif jika Palloma sudah didekatnya." Sahut Martha, membuat Jose menghela napas berat dan memejamkan matanya.
Jose merasakan kepalanya semakin sakit, dadanya terasa sesak dan hatinya semakin terasa kacau tidak karuan dengan semua kehidupan Palloma yang baru dia tahu ternyata sangat melebihi seorang wanita s****l. Jose kembali minum untuk memberikan asupan oksigen pada otaknya, karena saat ini otaknya sungguh seperti tidak mampu berfungsi normal. Ya, otak seorang pria normal tak akan sanggup menerima dan mencerna alasan apa yang Palloma gunakan sehingga dia mengumbar dirinya bahkan hidupnya pada hal-hal yang gila seperti itu.
"Dokter, sebaiknya anda segera melupakan Palloma. Benar ucapan Tuan Jack, Palloma tidak layak untuk Anda cintai, apalagi untuk anda nikahi. Dokter juga harus berhati-hati, karena ancaman Tuan Jack tidak pernah hanya di mulut saja. Untuk apa anda mencintai dan mengejar seorang Harlot hingga harus mempertaruhkan nyawa anda? masih banyak wanita cantik dan memiliki latar belakang yang baik, yang lebih pantas untuk menjadi istri anda." Nasehat Martha pada Jose.
"Entahlah Martha, kepalaku terasa sangat berat sekali..hhuuuuhhhh...." Keluh Jose masih memejamkan matanya.
"Sebaiknya dokter istirahat dulu di dalam, biar aku yang jaga di depan." Usul Martha dan disetujui oleh Jose.
****
Malam ini di club, Palloma terlihat gelisah. Jose juga tidak datang ke club.
"Ada apa?" Tanya Carlos melihat Palloma sedang gelisah dan nampak sangat tidak bersemangat.
"Tuan Jack kemarin bertanya tentang si dokter itu gara-gara ada kekacauan di sini. Ck! Semoga Tuan Jack tidak melakukan sesuatu yang membahayakan padanya." Sahut Palloma resah.
"Kau mencemaskannya? Apa kau mulai peduli padanya?" Tanya Carlos sengaja menggoda Palloma.
"Ck! Kau ini bicara apa?! Aku cemas karena pria itu sangat bodoh! Dia bisa mati di tangan Tuan Jack! Warga kota ini masih butuh dokter, dan hanya sedikit dokter yang mau datang ditugaskan ke kota ini!" Kesal Palloma, Carlos pun hanya tersenyum.
"Kau cemas karena memang cemas juga tak masalah." Sahut Carlos menggoda Palloma.
"Haish! Kau ini! Jangan sembarang bicara!" Kesal Palloma.
"Pall, apa yang terjadi saat kau mengantarnya pulang? Kau menginap? Apa terjadi sesuatu yang dia inginkan selama ini?" Tanya Carlos dengan tersenyum penasaran.
"Tidak terjadi apapun! Aku langsung pulang setelah mengantarnya! Sudahlah berhenti membahas tentangnya!" Sahut Palloma sangat malas membahas Jose.
"Pall, aku hanya mengingatkanmu sebagai seorang teman. Kesempatan mendapatkan cinta dari pria baik dan kaya juga tampan itu tidak selalu ada. Mengapa kau terus menolaknya?" Tanya Carlos.
"Dia sungguh tidak layak bagiku, aku ini kotor, wanita yang suka dengan dosa, wanita yang sudah terikat dengan keluarga Tuan Jack. Mana mungkin aku bisa menikah dengannya?! Dia terlalu bersih dan lurus jalan hidupnya! Keluarganya tidak akan mungkin menerimaku!" Sahut Palloma kesal karena Carlos tak juga paham mengapa Pall selalu menolak Jose.
"Bagaimana kalau kau coba menerima tawarannya? Kau anggap saja dia pria biasa yang menyewamu dengan bayaran mahal. Kau bisa menggunakan uang itu untuk menambah tabunganmu." Usul Carlos. Palloma menghela napas berat dan menatap malas terhadap teman dekatnya itu.
"Aku sudah pernah mencobanya, tapi dia tak mau menerimanya. Dia mau menyentuhku jika aku sudah menjadi istrinya. Dasar bodoh gila!" Sahut Palloma.
"What?! Kapan?! Bagaimana mungkin dia menolakmu?! Kau pasti hanya mengarang cerita." Sangkal Carlos tak percaya.
"Malam saat aku mengantarnya pulang ke rumah, aku menawarkan tidur dengannya sebagai ucapan terima kasihku, tapi dia malah mengajakku menikah! Bodoh!" Sahut Palloma.
"Astaga! Manis sekali sikapnya terhadapmu.... Dia melamarmu Pall, hei! Dia melamarmu! Kau yang bodoh! Terus saja menolaknya! Kau akan menyesal Pall!" Ucap Carlos.
"Aku tidak akan pernah menyesal Carlos! Aku menyukai hidupku sekarang! Lihatlah! Aku tak pernah kekurangan lagi! Semua wanita di kota inipun sangat iri melihat kehidupanku dan semua barang-barang mewah yang kumiliki! Untuk apa aku menyesal karena menolaknya?! Aku justru akan menyesal karena menerimanya, lalu aku justru dihina oleh keluarganya!" Sahut Palloma, meski lantang dan penuh percaya diri, tapi ada raut wajah sedih di mata Palloma.
Carlos tersenyum getir melihat bahwa Palloma mengucapkan semua itu bukan dari hatinya. Ya, Palloma hanya sedang takut ditolak oleh keluarga Jose, karena profesinya selama ini.
Wanita muda 23 tahun ini sungguh terlihat kasihan, entah kapan Tuhan akan membebaskannya dari hidupnya yang kelam ini.
"Tak seharusnya kau menjadi wanita muda yang menjalani segala profesi kelam ini, meski kau hidup berlimpah namun jiwamu kosong." Batin Carlos menatap getir pada Palloma yang menenggak bir di tangannya.
"Sudahlah, jangan mabuk! Pulang dan beristirahatlah. Besok kau masih harus bekerja." Nasehat Carlos sambil menarik gelas bir dari tangan Palloma.
"Baiklah aku pulang! Bye." Sahut Palloma berpamitan.
Palloma menghela napas berat saat berada di luar pintu club, berpikir sejenak, sempat ragu namun akhirnya dia memantapkan langkah kakinya menuju ke klinik bukan ke rumahnya sendiri.
Palloma melihat dokter lain yang berjaga disana, itu artinya Jose tidak sedang bertugas dan pasti ada di rumahnya. Palloma pun sempat ragu namun akhirnya memutuskan untuk ke rumah Jose.
"Hhhhuuft...! Semoga dia tidak menolakku." Ucap Palloma pada sendirinya.
*****