“Cari mati lo.”
Aku mendelik, berdecak sebal atas perkataan David. “Biarin aja sih, sekali doang. Dia juga udah sering bikin gue nunggu atau makan hati, tapi gue ‘kan sebagai istri yang baik gak macem-macem. Kalau gue jahat, udah gue racunin dari dulu makanannya.”
“Eh, oneng, gue khawatir sama lo. Lo sendiri ‘kan yang bilang kalau dia kadang sering ngasih hukuman?”
Dengan acuh kubalas dengan entakkan bahu, masa bodo. Padahal sebenarnya aku enggak seberani itu untuk melawan Mas Delta dengan membiarkannya menunggu di bawah. Aku enggak menyahuti panggilan panitia, sok sibuk seolah bukan namaku yang dipanggil. Aku juga enggak menanggapi tatapan Rafa yang langsung tertuju padaku walau kemungkinan dia enggak akan tahu yang memanggil itu suamiku.
Satu kali saja, aku ingin melakukan sesuatu yang enggak pernah terpikir sebelumnya. Mana pernah aku ada niat membuat Mas Delta menunggu selama ini. Lebih dari itu, aku ingin dia sadar kalau aku ini bukan budaknya yang menerima dengan lapang d**a semua perbuatan semena-menanya pada aku, istrinya sendiri.
Jauh di dalam tubuhku, aku gemetar dan disiksa dengan detak jantung yang kelewat bertalu-talu. Mau apa Mas Delta ke sini? Kira-kira dia beneran marah enggak, ya? Dia tahu dari mana aku kemah di sini? Dia sendiri ke sini atau sama Kak Kania?
“Mending turun sana, masih keburu. Bilang aja tadi sibuk beresin tenda,” saran Lana.
Terhitung setengah jam sejak panitia mengumumkan kalau aku dipanggil suamiku di bawah sana. Sudah pasti Mas Delta akan marah dan aku hanya bisa berharap kalau dia enggak akan menghukumku dengan hukuman yang akan membuatku menyesal nanti.
Dengan isi kepala yang berkecamuk, aku enggak berhenti membereskan semua barang-barangku yang ada. Saking sengaja sok sibuk, aku sampai memunguti sampah di sekitar tenda dan melakukan apa saja agar ketiga makhluk itu enggak ganggu lagi.
“Kali ini, gue enggak mau jadi lembek lagi. Biarin aja dia marah, kayak yang biasanya gak marah aja.”
“Tapi gimana kalau sampe lo dikurung di gudang lagi? Ci, dia udah dateng jauh-jauh ke sini, pastinya bakal marah besar karena lo sengaja bikin dia nunggu kayak gini.”
Aku menyentak kantung sampah hingga terjatuh, memandang teman-temanku dengan sorot jengkel. “Kalian ini sebenernya temen gue apa temen dia, sih? Bukannya selama ini juga kalian gak suka ya sama dia dan dukung kalau gue cerai sama dia?”
David, Lana, dan Ingkan kelihatannya enggak menanggapi reaksiku dengan kemarahan yang sama. Sorot mereka malah terkesan cemas. Walau aku menyadarinya, tetap saja aku menyimpulkan kalau mereka setengah membela Mas Delta.
“Gak gitu, Ci.”
“Ada apa ini?”
Seseorang menimbrung, tapi aku enggak tahu siapa dia karena tetap terpaku pada teman-temanku. Entah kapan kami pernah bertengkar begini dan ini pertama kalinya aku yang memulai. Harus kuakui sejak mengenal Mas Delta bukan sebagai tunangan Kak Kania lagi, hidupku mulai dihampiri masalah satu per satu.
“Gak ada, gak usah ikut campur,” ucapku.
Lana melihat orang itu. “Gak apa-apa, Raf, lo urus yang lain aja. Ini cuma cekcok kecil.”
“Oh, oke. Gue cuma mau infoin kalau kita bentar lagi mau turun. Masalah atau apa pun itu, gue harap kalian selesaiin secepetnya.”
“Noted.”
Seseorang yang kayaknya Rafa itu pergi meninggalkan kami di tengah riuh orang-orang yang lain. Bagus, di perkemahan ini, aku sudah berkali-kali berbuat onar. Jangan-jangan memang ada penunggunya lagi.
“Udahlah. Kok jadi berantem gini, sih?”
“Tanya sama diri lo sendiri.”
Aku memungut kembali kantung sampah dan beberapa sampahnya yang keluar, melemparnya ke sudut di mana sampah-sampah dikumpulkan. Suasana hatiku sangat buruk, benar-benar buruk sampai sensitif sama ocehan teman-temanku yang asal jeplak. Fakta bahwa Mas Delta berkendara jauh-jauh dari ibukota enggak menimbulkan efek apa-apa atau prasangka macam-macam.
Yang jelas, enggak mungkin dia datang dengan niat yang baik.
Merajuk membuatku gengsi untuk berbicara. Walau tau akan kesulitan, aku sok-sokan mau membawa semua barang-barangku ke bawah yang banyak banget. Tas-tas, tenda, belum lagi jalannya yang menurun. Bisa-bisa aku menggelinding saking beratnya barang bawaan.
Saat aku mengambil tas kedua untuk disampirkan di bahu kanan, tas tersebut direbut Lana. “Sini gue bantu. Yang kuat itu mental lo, bukan badan lo.”
Aku enggak membalas, membiarkan Lana membawanya. Tenda yang mau aku bawa juga keburu diambil orang lain, jadinya aku hanya membawa satu tas dan jinjingan. Masa bodo, malah bersyukur karena sebenarnya aku terbantu.
“Beb, kok ninggalin gitu aja, sih?” Ingkan protes di belakang karena aku meninggalkannya.
Sudah banyak mahasiswa yang meninggalkan area perkemahan, banyak banget yang lagi menuruni perbukitan. Jadinya aku enggak sendirian biarpun misah sama yang lain. Diliat dari atas sini, belum ada yang sampai ke bawah, paling depan masih sekitar setengah jalan. Kayaknya yang di atas juga masih banyak sih, aku enggak fokus tadi.
Sayangnya hari terakhir, aku enggak bisa menikmati pemandangan indah ini sepuas-puasnya. Susah juga sih soalnya matahari udah kerasa panas banget, padahal aku yakin tengah hari aja belum. Saatnya kembali ke hari-hari menyebalkan menjadi Kashi si istri menganggur.
“Sendirian aja.”
Aku menoleh, hampir memutar bola mataku saat itu juga. Ya ampun, ini orang kenapa sering banget negur sih? Kenal aja ‘kan baru. Aku juga belum nyaman sama dia, apalagi sampai harus mengobrol yang macam-macam.
“Yang lain masih di atas.”
“Gue kira kalian lagi marahan.”
Udah tau masih aja dibahas. Enggak peka banget sih. “Cekcok biasa.”
Rafa mangut-mangut. Oh, tumben dia enggak pakai bandana lagi dan membiarkan rambutnya menutupi dahi. Ternyata rambutnya agak lebih panjang melebihi telinga dan alis. Kemarin keliatan lebih pendek karena pakai bandana kali ya. Lebih rapi, tapi kalau sekarang kesannya lebih liar.
Astaga, apa yang kupikirkan?!
“Kenapa lo enggak akhiran aja? Lo ‘kan ketuplak, harus mastiin kalau semuanya gak ada yang ketinggalan atau bantuin yang lainnya.”
“Ternyata tugas gue banyak juga, ya.” Dia cengengesan. “Gue harus turun sekarang soalnya ada yang harus dikoordinir sama sopir busnya. Panitia yang lain juga masih ada di atas buat mastiin gak ada yang ketinggalan.”
“Oh, kalau gitu lo duluan aja.” Aku menjulurkan tangan ke depan, mempersilakan. Aku—dan dia—berada di belakang beberapa orang, enggak terlalu depan. “Gue gak buru-buru, masih pengen santai.”
“Selow aja, yang paling bawah juga belum sampe.”
Kalau dia bisa peka, ini aku lagi mengusirnya lho. Aku kurang nyaman karena dia udah tahu terlalu banyak, padahal dia masih orang asing. Ingat-ingat saja, dari awal dia sudah tahu kalau aku ini sudah menikah. Yang mana fakta tersebut sejauh ini hanya diketahui oleh segelintir orang.
Dan bukannya geer atau kepedean, kayaknya Rafa emang sengaja dan ada niat tertentu mendekatiku. Iyalah, enggak ada angin enggak ada kepentingan sama sekali, lelaki ini lagaknya akrab sekali. Enggak tahu deh sama semua orang begitu.
Semoga aja niatnya itu bukan untuk pinjam uang. Yang benar saja, gengsi amat aku memakai uang Mas Delta lebih banyak dari biasanya hanya untuk meminjami orang lain. Bisa besar kepala suamiku merasa kalau aku lebih membutuhkannya.
Dengan mataku yang memicing, aku bertanya langsung, “Lo ada taruhan sama Lana, ya?”
“Buat?”
“Ngedeketin gue misalnya.”
Bukannya berprasangka buruk. Nih ya, yang paling kenal sama Rafa itu ‘kan Lana. Dia juga termasuk orang yang menentang Mas Delta sebagai pasanganku. Masuk akal ‘kan kalau aku pikir dia ada ‘permainan’ sama Rafa.
Rafa enggak kelihatan tersinggung di mataku. “Ya enggaklah. Pertama, ngapain temen lo ngajak taruhan dan lo yang jadi subjeknya? Dan kedua, ngapain juga harus ada taruhan dulu buat gue deketin lo? Lo juga ‘kan udah nikah. Gue cukup yakin lo gak ada niat buat selingkuh, sih.”
“Bener juga sih.”
“Kalau lo pikir gue ngedeketin karena ada taruhan, gak usah khawatir, jawabannya enggak kok. Dan gue juga gak ada gila-gilanya deketin cewek yang udah punya suami.”
Sial. Aku sudah menembak diriku sendiri dengan cara yang sangat memalukan. Mungkin Rafa sedang berpikir betapa percaya dirinya aku akan parasku yang masih di bawah rata-rata ini. Hei, aku yakin cewek-cewek cantik kampus pasti banyak yang mengincarnya juga.
“Omong-omong soal suami, kenapa tadi lo gak maju? Lo kenal orang yang nyariin lo?”
“Enggak,” dustaku, “namanya aja asing. Manggil orang lain kali.”
Rafa mangut-mangut, entah percaya atau respons supaya cepat. “Gue kira yang nyariin lo itu suami lo.”
“Bukanlah, dia mah sibuk banget di kantornya.” Dan kesibukan yang lainnya, menemani kakakku. Jangan lupa dengan statusnya yang maniak kakak ipar, makin sulit dipercaya kalau dia beneran datang sejauh itu cuma buat jemput.
Pasti ada udang di balik peyek.
Sejauh ini, aku sudah sampai di bagian jalan yang ditumbuhi pepohonan. Masih cukup jauh, mungkin sekitar seperempat jalan lebih. Karena bagian atas kebanyakan diisi oleh teh dan kebun sayur-sayuran, maka di bagian bawahnya penuh oleh buat-buahan dari pohon besar. Makanya jauh lebih rindang dan sedikit membantu menghalau panas.
Saat menoleh, sulit untuk melihat keberadaan teman-temanku di tengah banyaknya orang-orang. Aku bahkan sulit melihat Ingkan yang memakai bandu atau hiasan kepala entah apa namanya. Harusnya cukup mudah untuk dibedakan.
“Semalem lo buat ribut?”
“Bukannya lo ada di sana juga?”
“Gue emang ada di sana, tapi cuma lewat.”
Tubuhku terasa membeku walau faktanya aku tetap menuruni bukit. Blank. Seketika semuanya terlempar kembali pada apa yang terjadi malam itu. Setiap detiknya aku coba ingat kembali, terutama saat aku belum meninggalkan grup.
Jadi bukan Rafa yang mengikutiku waktu itu? Lalu siapa orangnya?
“Kashi.”
Tanpa berpikir dua kali aku mendongak, spontan menahan napasku saat wajah datar dan merah suamiku kontras dengan mahasiswi yang lainnya. Dia mengendarai mobil yang asing warna abu-abu, berbeda dengan mobil yang terakhir kali kuingat. Rasanya aku juga enggak pernah melihat mobil itu, bahkan sejak Mas Delta masih jadi tunangan Kak Kania.
Kepalaku mengirimkan peringatan keras saat Mas Delta mendekatiku. Raut wajahnya sulit k****a pasti, tetapi aku cukup yakin kalau dia marah. Refleks aku mundur dua langkah, menghindarinya yang datang menggebu-gebu.
Aku telat menarik tanganku saat Mas Delta sudah mencengkeram, menarikku ke arah mobilnya. Dan aku enggak sadar kapan jinjingan yang kubawa sudah beralih dibawanya.
“Mas, tunggu!” Rafa berseru. “Kashi harus tanda tangan dulu kalau mau pulang lebih dulu.”
Mas Delta enggak peduli—dan aku ingin menangis karena itu. Bagus, Kashi, kamu benar-benar menggali kuburanmu sendiri.
***
Jika berada dalam situasi lain, kesunyian dalam mobil Mas Delta adalah hal yang sangat biasa. Aku enggak ingat kapan kita pernah mengobrol santai layaknya suami istri, minimal basa-basi untuk mengusir sepi. Tahu sendiri bagaimana sensinya lelaki satu ini, setel musik aja nyaris mustahil.
Tapi untuk kali ini, aku malah berharap musik yang diputar Mas Delta berhenti aja. Malah makin mencekam sumpah. Aku enggak melepaskan sabuk pengaman untuk dicengkeram karena takut Mas Delta tiba-tiba gila banting setir ke kanan yang enggak jauh dari jurang.
Jangan sampai ini manusia punya pikiran nekat begitu. Kalau mau mati sendirian aja, jangan ajak-ajak.
Aku meliriknya melalui sudut mata, hanya untuk memastikan kalau suamiku ini masih waras. Ya, keliatannya sih begitu. Paling enggak, aku berharap begitu.
“Mas ngapain jemput segala?”
Oke, aku hanya muak harus bungkam selama beberapa jam perjalanan nantinya. Jelas ini sangat berbeda dengan pemberangkatan di mana aku bisa mengoceh apa pun pada tiga temanku. Yang benar saja, kami bahkan kurang nyaman berada di ruangan yang sama dalam waktu yang lama.
Mas Delta enggak jawab—hampir aku simpulkan kalau dia memang murka. Tapi apa aku peduli? Jangan harap. Biar saja makin marah, siapa suruh seenaknya.
“Disuruh Kak Kania? Disuruh mama? Terus kenapa gak bilang dulu?”
“Gimana saya bisa bilang dulu kalau kamu gak bisa saya hubungi?”
“Namanya juga di pegunungan. Sinyal susah di sana.”
“Lalu kenapa waktu itu kamu bisa terima telepon saya?”
“Soalnya waktu itu aku lagi ada di bawah. Aku juga gak bisa lama-lama, Mas, itu juga terakhir kali. Panitia ngelarang kita buat turun-turun sendiri, jadinya kita nitip keperluan ke mereka yang mau turun.”
“Terus siapa lelaki yang waktu itu ada di telepon?”
Mampus. Kenapa harus inget, sih?
Aku melepaskan cengkeraman, menaruh kedua tanganku di paha—mencoba terlihat santai. Ya, dia enggak bakal tahu sekalipun aku bohong. ‘Kan?
“Itu David.”
“Kenapa suaranya mirip dengan lelaki tadi?”
“Kok masih inget, sih!?”
Bego b**o b**o! Keceplosan segala.
Mas Delta terkekeh. Jenis kekehan menghina—yang menurutku bagian dari kemurkaannya. “Jadi emang benar dia.”
Jika Mas Delta sudah berkata dengan nada seperti itu, artinya hanya satu. Aku akan berakhir mendapat hukuman lagi. Mungkin harus kupertimbangkan untuk lompat dari mobil dan melarikan diri ke mana saja, berharap kalau akhirnya bisa nebeng di mobil David atau rombongan. Setelah itu, aku bisa kabur selama beberapa hari sampai amarah gorila ini sudah reda.
Semua itu masih rencanaku yang buyar ketika Mas Delta berkata, “Apa kamu mau berakhir seperti Kania?”
Seumur hidupku aku selalu menempatkan Kak Kania sebagai oponen dan membencinya seumur hidupku. Tetapi di luar dugaan, aku masih bisa merasakan rasa tersinggung untuknya. “Maksud Mas apa?”
“Bergaul dengan banyak lelaki, bepergian ke banyak tempat di saat posisi kamu sudah berada di status serius. Bukankah artinya kamu memang berminat menjadi seperti Kania?”
“Kenapa jadi bawa-bawa Kak Kania, sih? Kenapa juga Mas jadi jelek-jelekin Kak Kania?”
“Saya gak ngejelek-jelekin. Saya bicara fakta.”
“Kalau Kak Kania denger langsung, dia pasti bakalan sedih. Mas gak mikir kalau perasaan perempuan itu gampang banget hancurnya?”
“Saya tidak membahas tentang Kania. Saya membahas kamu.”
“Mas yang mulai ungkit-ungkit masa lalu Kak Kania. Mas lupa kalau Mas juga masa lalunya Kakak? Terus kenapa Mas gak salahin diri Mas sendiri? Jangan munafik bilang kalau Mas gak salah apa-apa.”
Aku menolak sadar kalau laju mobil melambat, hingga akhirnya memejamkan mata saat mobil benar-benar menepi. Mana jalanan sepi banget walau sudah bukan jalanan yang bersisian sama jurang. Makhluk di sampingku ini yang harus lebih diwaspadai.
Harusnya tadi aku tetap pakai tas buat jadi tameng.
Mas Delta melepaskan sabuk pengamannya dan mendesah berat. Aku enggak pernah lihat lelaki itu sebermasalah ini. Mas Delta si manusia batu enggak pasang wajah topengnya.
“Mau ngapain? Kenapa berhenti di sini?” Panik. Aku mulai menyesal semua tingkahku seharian ini begitu Mas Delta menyampingkan tubuhnya, berhadapan denganku. “A-ayo pulang, Mas. Ntar disangka yang enggak-enggak sama orang.”
Tangan kiriku meraba-raba pintu, mencoba membukanya. “Kenapa pake dikunci segala?!” Harus kuakui, aku sangat panik.
Mas Delta enggak bilang apa-apa, tapi tatapannya bikin ngeri. Itu bukan tatapan yang biasa aku dapatkan, yang datar dan muak. Yang ini ... aku sendiri enggak berani menyimpulkan. Enggak baik untuk diriku sendiri kalau nantinya jadi kenyataan.
“Kamu mau bilang kalau sekarang ini salah saya juga kamu bertingkah seperti Kania?”
Sumpah, aku enggak paham apa maksudnya, tapi aku tetap menggeleng. “Enggak, aku gak bilang gitu.”
“Saya menyimpulkan begitu, Kashi.”
“Ya udah, terserah Mas deh mau gimana. Mau gimana-gimana juga aku tetep kalah, ‘kan? Sebagai seorang istri, aku ini harus nurut. Iya, aku udah hafal, Mas, banget. Gimana aku gak hafal kalau—”
Tubuhku membeku saat sentuhan lembut dan hangat menyerang bibirku tanpa aba-aba. Bukan, bukan hanya sekadar sentuhan. Ada permainan yang terjadi, membingungkanku yang belum siap sama sekali. Pemandangan Mas Delta yang sangat dekat denganku ini belum pernah kubayangkan sama sekali.
Sepertinya aku akan mati karena serangan jantung.
***
“Nasi campur Bali satu, kopi tanpa gula satu ...,”
Di lain waktu aku yakin akan mengatakan responsku ini lebai, tetapi rasanya aku tertinggal pada momen di mobil tadi. Bagaimana aku bisa mengawasi bulu mata lentiknya dengan leluasa sementara hidung kami saling menyentuh pipi, merasakan bagaimana lengannya berusaha merengkuhku yang masih mengenakan sabuk pengaman. Sepertinya aku akan memimpikannya dalam ratusan malam.
Itu bukan kali pertamaku, tentu saja, tapi cara Mas Delta memperlakukanku sangat berbeda dengan mantanku yang sangat kaku. Seolah kami berteleportasi ke tempat lain.
“Mbak ....”
Munafik kalau aku bilang aku enggak suka. Jantungku bertalu-talu bak sedang melakukan sesuatu yang tabu padahal faktanya kami sah melakukannya. Di mata hukum maupun agama.
“Mbak?”
Untuk sekejap, semua kebencianku padanya hilang. Hanya ada ruang kosong yang siap diisi oleh apa pun.
“Kashi.”
“Hah?”
Aku terlempar ke kenyataan saat sorot mata dinginnya kembali. Tanpa bisa kutahan semua kebencian yang tadinya terhempas kembali bak bumerang. Oh ya, lelaki di depanku ini masih sosok yang sama dengan orang yang menggilai kakakku.
Apa mungkin Mas Delta yang tadi kemasukan makhluk yang ada di jalan? Aneh banget ‘kan tiba-tiba nyosor kayak tadi.
“Mau pesan apa, Mbak?” tanya pramusaji yang baru kusadari keberadaannya.
Ah ya. Kami sedang makan sore di sela-sela perjalanan menuju rumah mertuaku. Entah aku harus senang atau sedih sehari lagi berada di luar rumah, tapi seenggaknya Mas Delta akan melupakan pertengkaran kami dan ide untuk menghukumku.
“Saya ... samain aja deh.”
“Baik, Mbak, Mas. Mohon ditunggu.” Pramusaji itu meninggalkan kami.
Fiks, kayaknya Mas Delta tadi memang khilaf. Dia kembali menjelma jadi suamiku yang cuek abis. Sibuk sama handphone-nya bak aku ini makhluk halus tembus pandang. Aku baru ingat belum buka HP sama sekali.
Ada banyak pesan dari teman-temanku baik itu pesan pribadi maupun grup, yang paling banyak mengirim Ingkan. Tentu saja enggak jauh-jauh dari menanyakan kabarku yang dibawa oleh Mas Delta. Mungkin mereka tahu dari Rafa atau melihatnya langsung dari jalanan bukit.
Aku membalas di grup langsung agar semuanya membaca. ‘Gue fine, guys. Sorry tadi gue emosi. Gue gak kena amuk kok, sekarang sih. Gue mau ke rumah bonyoknya dia.’
Beberapa detik setelah terkirim dan centang berubah biru, masuk panggilan telepon grup. Aku melirik Mas Delta, berdiri lebih dulu. “Mas, aku mau angkat telepon.”
Terlalu jauh untuk keluar, jadinya aku menjauh ke jendela besar yang mengarah langsung pada pemandangan danau kecil buatan. Wah, harusnya tadi memilih meja dekat sini jadinya bisa lebih leluasa menikmati pemandangan.
“Halo?”
“Ci, lo beneran lagi sama laki lo?” tanya Ingkan.
“Lo gak lagi boong, ‘kan? Bilang dua kalau lo lagi boong, gue meluncur ke sana sekarang.” Kali ini giliran Lana yang mengoceh.
“Kenapa lo matiin share loc sama kita?”
“Eh, emangnya iya?” Aku membuka peta di ponsel, mencari fitur berbagi lokasi. Aku dan teman-temanku melakukannya sejak sadar kalau gedung fakultas kita jauh sekali. Makanya David yang melek teknologi menyarankan untuk berbagi lokasi. “Lah ternyata iya. Au, gue gak ngotak-atik. Apa gara-gara di gunung gak ada sinyal ya?”
“Gak ada hubungannya, oneng.”
“Kayaknya emang ada yang sengaja matiin.”
“Siapa?”
“Lah, siapa lagi kalau bukan laki lu?”
“Mas Delta?” Refleks aku menatapnya dari sini. Pesanan kami sudah sampai, tetapi dia belum menyentuhnya. Hanya minum air putih—masih fokus pada layar ponsel. “Gak ada kerjaan banget dia buka HP gue.”
“Who knows, Ci? Bisa aja dia berniat jahat sama lo supaya kalau lo nyasar gak bisa ditemuin.”
“Ah masa sih? Baru aja tadi dia nyipok gu—”
Aku meringis, membenturkan keningku ke dinding berkali-kali. Inginnya sih sekeras mungkin, tapi aku takut makin bodoh dan IP makin turun.
Bedebah! Keceplosan aja terus! Enggak guna lo, Kashi!
“Wow! Ibu Delta udah kiw-kiw!”
“Kemajuan yang pesat sodara-sodara!”
“Kok bisa? Gue kira kalian ribut tadi.”
“Ya emang.” Kalau saja jendela ini cukup rendah untuk kulangkahi, sejak tadi aku melarikan diri keluar. Berada di dalam sini saja pengap dengan adanya suara-suara yang sangat mengganggu. “Au ah! Gue juga gak tau sumpah kenapa jadi gini.”
“Ceritalah. Masa udah makan hati bertahun-tahun lo gak mau selebrasi?”
“Gaya lo bertahun-tahun. Baru juga kemarin dia ijab kabulnya.”
“Sumpah, gue juga linglung. Tadinya kita sempet cekcok soal gue yang buat dia nunggu, ditambah dia tau kalau dia pernah denger suara Rafa di telepon. Dia jadi aneh banget, sumpah. Dia jadi ungkit jeleknya kakak gue, dia jadi punya emosi, kayak bukan dia banget gitu.”
“Anjir, kalau dipikir-pikir, gue juga mau punya suami kayak Mas Delta lo, Ci. Dingin-dingin menghanyutkan.”
“Gue tenggelemin lu, nyet. Fokus dulu napa sih.”
“Tau. Liat sikonnya kalau mau ngawur.”
“David, lo di rumah kagak? Main gim ayok.”
“Ini lagi bekantan satu, sama aja gak tau sikon.”
“Kashi.”
Sebelum berbalik, aku mematikan panggilan. Duh, sejak kapan dia ada di belakang? Jangan bilang dia dengar ocehanku juga?
“Iya, Mas?”
“Cepat makan. Saya gak mau sampai di rumah nanti terlalu malam.”
Di depan punggungnya yang menjauh, aku mencibir—setengah mati menahan keinginan untuk melempar pot bunga besar padanya. Orang ini jelas bukan orang yang dengan orang yang membuatku gemetaran beberapa jam lalu. Bahkan sulit merasakan persamaannya, seolah Mas Delta punya kepribadian ganda. Enggak mungkin, ‘kan?
Semoga saja begitu.
Ponselku berdenting singkat. Ada pesan masuk dari David.
‘Menurut lo, suami lo marah karena lo telat atau lo sama Rafa?’
Menyebalkan. David ahli sekali membuat orang lain terlalu banyak berpikir.