bc

Bound of Temptation

book_age16+
178
IKUTI
1.0K
BACA
BE
arrogant
twisted
no-couple
heavy
ambitious
evil
multi-character
realistic earth
crime
like
intro-logo
Uraian

[SANTO AMORE SERIES]

"Menikahinya adalah keburukan yang kulakukan. Tapi, aku bisa apa?" - Zehra Ergen.

Zehra Ergen, model muda berusia 26 tahun harus rela menikah dengan salah satu mafia terkenal dan ditakuti seantero Perancis. Ia terpaksa menikah dengan Athan Doxiadis Carras hanya karena takut karirnya jatuh. Ia mengira, Athan akan menepati janjinya untuk mengizinkan Zehra tetap menjadi seorang model setelah menikah. Akan tetapi, janji itu hanya bualan Athan saja. Faktanya, Zehra tidak diizinkan untuk kembali menjadi model, padahal karirnya sedang berada di puncak kejayaan. Lalu, bagaimana nasib Zehra setelah menikah?

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Seorang wanita paruh baya berusia sekitar 58 tahun tampak murung disalah satu kamar miliknya sembari memegang sebuah bingkai foto di kedua tangannya. Dia memandangi foto tersebut dan mengelusnya. Tampak sebulir airmata menetes di atas foto yang menampilkan wajah seorang anak laki-laki yang begitu tampan. Kedua sudut bibir wanita itu tertarik, mengukir sebuah senyuman diselingi isak tangis. Wanita ini terduduk di kursi goyang kemudian bersandar sembari memeluk foto tersebut di dadanya. Hatinya sangat merindukan anak yang ada dalam foto tersebut. Mungkin dengan memeluk fotonya, ia bisa merasakan balasan pelukan dari anak itu. Dan tak lama terdengar suara pintu terbuka dan ketukan sepatu yang mengarah ke kursi goyangnya. “Apa kau sangat merindukannya, Sayang?” Teresa menoleh ke samping kirinya dan tersenyum pada pria yang telah mendampinginya selama ini. Dia pun mengangguk pelan. “Sangat. Aku sangat merindukannya, Chris,” jawabnya. Chris mengambil salah satu kursi yang ada di dekat meja rias istrinya lalu meletakkannya tepat di depan Teresa. Mereka duduk berhadapan sembari Chris memegang salah satu tangan Teresa. Dia mengecup punggung tangan yang sudah berkeriput itu dan tersenyum manis pada istrinya. “Aku juga sangat merindukannya,” ucap Chris kemudian. “Maafkan aku karena telah melakukan hal ini hingga kau tidak bisa bertemu dengannya lagi.” Teresa menggeleng. “Tidak, Suamiku. Ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu terus.” “Aku tidak tega melihatmu sedih seperti ini, Sayang.” “Suamiku,” Teresa meletakkan foto itu di atas pahanya lalu menangkup wajah Chris dengan kedua tangannya. Dia tersenyum sembari mengecup kening suaminya, “… itu sudah menjadi pilihan hidupnya. Bukan kau atau aku yang memaksanya untuk pergi. Tapi dia pergi atas kemauannya sendiri. Kau hanya berusaha mengarahkan yang terbaik untuknya, tapi menurutnya itu bukan yang terbaik untuk masa depannya. Dia ingin menentukan pilihannya sendiri.” “Jadi, aku tidak salah?” tanya Chris. “Tidak.” Chris memeluk Teresa dengan erat sembari mengelus punggung tua istrinya, begitupun dengan Teresa. Sementara di balik pintu kamar, tampak seorang wanita sedang mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya. Dia tampak menitikkan airmata saat melihat orang tuanya bersedih seperti itu. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya lalu beranjak pergi dari kamar tersebut menuju kamarnya. Sementara di tempat berbeda, Athan tampak menikmati hidupnya di atas kolam renang besar yang begitu indah didampingi oleh wanita-wanita cantik di sekelilingnya. Mereka bergelayut manja di tubuh Athan yang atletis. Terlihat jelas sebuah tatoo di bagian lengan kirinya bergambar seekor serigala, sedangkan di bagian d**a kanannya terdapat sebuah nama bertuliskan 'Athan Doxiadis Carras' dan 'Raid King'. Wanita-wanita yang berada di sampingnya sibuk mencium d**a serta bibir seksi Athan hingga membuat Athan b*******h. Namun gairahnya itu tertunda saat retina matanya menangkap sosok wanita yang begitu cantik dan mempesona. Seketika jantungnya berdetak kencang dan berniat ingin memiliki wanita tersebut. Athan menyingkirkan tangan-tangan nakal wanita-wanita yang sedang bersamanya lalu naik keluar dari kolam renang dan berjalan menghampiri wanita yang dilihatnya tadi. “Hai, Sayang,” sapa Athan pada wanita yang belum dikenalnya itu. “Boleh aku tahu, siapa namamu?” Wanita yang diajaknya berkenalan mendadak bingung melihat pria berusia 30 tahun itu karena tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan 'sayang' dan mengajaknya berkenalan. Wanita itu menatap Athan dari ujung rambut hingga ke titik dimana tatoo bertuliskan nama Athan serta organisasi mafianya terpampang jelas di depannya. “Ah, jadi dia mafia yang sedang diperbincangkan banyak orang,” batin wanita itu. Athan mengernyit. “Permisi. Apa kau sedang melamun? Atau kau terkejut mendengar pernyataan sayang dari pria tampan sepertiku?” "Kau terlalu percaya diri, Monsieur (Tuan),” ujar wanita itu sambil memutar kedua bola matanya karena merasa mual dengan ucapan Athan. “Aku percaya diri karena memang aku tampan. Memang itu kenyataannya dan banyak yang mengantri untuk menjadi kekasihku, Miss. Kau juga pasti mengakui hal itu, kan?” “Maaf, Monsieur. Aku sama sekali tidak tertarik padamu.” Wanita itu berjalan menjauh dari Athan bersama dengan teman-temannya, sementara Athan memberi isyarat seorang pria yang merupakan orang kepercayaannya untuk mendekat. Pria berusia 38 tahun itu mendekati Athan lalu menunduk hormat. “Cari tahu siapa wanita itu. Jika sudah kau temukan, segera beritahu aku," perintah Athan sambil melipat kedua tangan di bawah d**a. “Baik, Monsieur.” Athan beranjak pergi meninggalkan orang kepercayaannya lalu mengajak salah satu teman wanitanya untuk ikut bersamanya ke mansion. Memang saat ini ia sedang tak berada di mansion karena beberapa jam lalu ia baru saja bertemu dengan rekan semafianya yang berasal dari Philladelphia. Jarak dari hotel yang ia kunjungi saat ini menuju mansionnya berkisar kurang lebih 10 menit. Saat berada dalam perjalanan, Athan mencium mesra wanita yang duduk di samping kanannya tanpa mempedulikan supir pribadinya di depan. Sementara Fernand De Verley, pria berusia 40 tahun itu sudah memahami kebiasaan buruk tuannya selama bekerja dengannya. Hingga hal seperti ini tak menjadi hal yang mengherankan baginya. Namun aktivitas Athan saat ini terganggu oleh sebuah deringan telepon di saku celanannya. Dia mendengus kesal lalu melepas pagutannya sambil mengambil ponselnya. Dia menatap layar ponsel tersebut kemudian tersenyum. “Allô (Halo)!” sapa Athan senang. “Allô Athan! Bisakah kau berkencan denganku malam ini? Aku sangat membutuhkan kehangatan darimu, Sayang.” Seorang wanita terdengar memohon kepada Athan untuk menemaninya malam ini di seberang telepon. Athan sangat menyukai hal ini dan memang itulah yang menjadi kebanggaannya selama ini. Hidup bergelimang harta ditemani oleh wanita-wanita cantik setiap saat tanpa ada siapapun yang mengaturnya, termasuk kedua orang tuanya. “Tentu saja, Sayang. Aku akan menjemputmu nanti malam,” ucap Athan. “Baiklah.” Athan memutus sambungan teleponnya dan kembali b******u dengan wanita di sampingnya. Dan lagi-lagi aktivitasnya diganggu oleh deringan ponselnya. Athan menggeram kesal lalu menerima panggilan tersebut dengan nada meninggi tanpa melihat nama si pemanggil. “Allô! Sudah kubilang nanti malam ku jemput! Kenapa menghubungiku lagi?!“ marah Athan. “Ah, jadi begini sambutanmu padaku?” Seketika dahi Athan mengkerut lalu menatap layar ponselnya. “Natàsa?” batinnya lalu kembali menempelkan ponselnya ke telinga. “Ada apa?” tanya Athan datar. “Aku mohon, kau pulang ke mansion. Mamá (Ibu) dan Bampás (Ayah) sangat merindukanmu. Apa kau tidak kasihan pada mereka? Mereka itu orang tuamu, orang tua kita.” Athan memutar bola matanya malas. “Aku tidak akan pulang ke sana.” “Giati (Kenapa)? Apa kau tidak menyayangi mereka? Kau tidak ingat bagaimana Mamá dan Bampás merawatmu sampai sebesar ini, hah?!” “Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu, Nat. Aku sudah memutuskan untuk tidak pernah kembali ke sana,” ujar Athan sambil memainkan jari-jari tangan kanannya di bagian intim wanita yang saat ini bersamanya. Dibiarkannya wanita itu mendesah sendirian sementara dirinya sibuk menelepon. Fernand sendiri hanya menghela napas pelan dan menggeleng kecil karena melihat kelakuan tuannya yang seperti itu. “Kau benar-benar tidak punya hati ya! Kau bahkan tidak peduli dengan kondisi orang tuamu saat ini!” teriak Natàsa di telepon. Hingga membuat Athan terpaksa menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga. Athan mendengus lalu memutus begitu saja sambungan telepon dari Natàsa dan kembali fokus pada wanitanya. To be continue~

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook