“Ren, kamu bonceng Olin ya. Aku lagi pesan ojek. Bentar lagi orangnya ke sini,” kata Karin. Ketika mengatakan itu, mata Karin fokus menatap layar ponsel pintar yang dia genggam dengan kedua tangan. Sibuk memesan ojek online.
Ketiganya sedang berkumpul di lobi stasiun. Terdengar informasi keberangkatan kereta berikutnya dari pengeras suara di sudut langit-langit.
Mendengar apa yang baru saja Karin katakan, Rendy melotot. Sontak Rendy menoleh. Dia menatap sepupunya dengan pandangan tidak suka.
Sebenarnya Rendy sudah paham maksud Karin, hanya saja Rendy kurang menyukai keputusan sepihak yang dibuat oleh Karin. Dalam arti, Karin langsung memutuskan sesuatu tanpa bertanya terlebih dahulu apakah Rendy setuju atau tidak dan apakah Olin berkenan dibonceng oleh Rendy atau tidak. Kenapa bukan Olin saja yang berboncengan dengan Karin? Toh Rendy tidak keberatan bila harus naik ojek.
Tapi, sudahlah.
Rendy enggan memperpanjang masalah remeh seperti ini. Dia buru-buru menyunggingkan seulas senyum ketika kembali menatap Olin. Senyum yang agak dipaksakan. Raut muka Rendy seperti kurang bernyawa, kesannya lempeng-lempeng saja. Namun anehnya, dia sekaligus mampu menghadirkan kesan tulus dalam senyuman itu.
“Hm … Hei, kamu keberatan nggak?” tanyanya lembut kepada Olin yang kini sedang mengaduk isi ransel entah sedang mencari apa. Tangan Olin masih tenggelam di dalam ransel. Belum ada respon dari Olin. Rendy mengikuti arah pandang Olin.
“Kenapa? Ada barang yang hilang ya?” tanya Rendy sekali lagi.
Detik berikutnya Olin seperti tersadar dari mimpi. “Hah? Eh, Oh, enggak kok, Kak,” gagapnya.
"Tadi nanya apa ya, Kak?" imbuh Olin sembari tangan berhenti mengaduk isi ransel. Olin menutup resleting ransel dengan agak tergesa. Dia melepas jaket jeans untuk kemudian diikatkan melingkari pinggang.
"Kamu keberatan nggak misal aku bonceng kamu?" ulang Rendy. Tanpa disadari, sejak tadi dia mengamati perilaku Olin yang kelihatannya kurang nyaman, entah dengan situasi atau dengan orang baru. Kalau ternyata poin kedua yang benar, itu artinya Rendy dong penyebabnya?
Lagi-lagi Olin tidak langsung menjawab karena masih repot sendiri dengan jaket dan ransel. Sementara Karin masih sibuk sendiri dengan ponsel.
"Atau … er—" Rendy sengaja menggantung ucapannya untuk sejenak menyusun kata-kata yang pas. "Atau gini aja, gimana kalau kamu bawa motorku buat boncengan sama si Karin? Biar aku yang naik ojek," usulnya kepada Olin.
Rendy mencoba menentukan titik tengahnya. Daripada disangka aji mumpung atau cari keuntungan bonceng cewek cantik, Rendy lebih memilih dibonceng mas-mas ojek online saja. Dengan begitu mungkin bisa mengurangi rasa kurang nyaman yang dirasakan Olin. Begitu pikir Rendy.
Mendengar usul Rendy, Karin menyahut, "Dia nggak bisa naik motor. Udah yuk, nggak usah ribet deh kamu, Ren. Kamu bonceng si Olin, toh dia juga mau. Iya, kan, Lin? Yuk, Say, mas-mas ojeknya udah di depan."
Olin tersenyum samar ke arah Rendy sembari buru-buru mengangguk, "Nggak apa-apa kok, Kak."
"Lah? Kalian satu server ternyata?" celetuk Rendy sembari berjalan mengikuti keduanya.
Olin tertawa mendengar perkataan Rendy. Karin yang merasa tersindir atas perkataan Rendy, menyuruh si empunya tutup mulut dengan sarkasme terbaiknya. "Shut your F-ing mouth up, Ren."
Mendengar sepupunya mengumpat, Rendy justru terbahak.
***
"Tolong pegangan yang kuat," pinta Rendy setengah berteriak sembari sekilas menoleh ke belakang. Olin belum siap bila Tiba-tiba Rendy menambah laju kecepatan motor. Namun dengan reflek yang bagus, kedua lengannya otomatis melingkari pinggang Rendy. Lebih tepatnya mengunci pinggang kurus pria itu.
"Kenapa, Kak? Ada apa?" tanya Olin juga dengan setengah berteriak. Tetapi tidak ada respon dari Rendy. Bukan karena Olin takut dengan kecepatan tinggi, namun ini terlalu tiba-tiba. Mungkin Rendy memang ingin lekas sampai di rumah Karin sehingga menambah laju kecepatan motornya. Begitu pikir Olin.
Ojek online yang ditumpangi oleh Karin kini tertinggal jauh di belakang. Rendy seolah tidak peduli. Dia fokus mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Gerakannya gesit bak pembalap di tengah arena jalan raya yang cukup padat siang itu.
Olin memejamkan mata.
Jujur kini jantungnya berdebar kencang. Bukan karena jatuh cinta tetapi dia tidak berani melihat ke arah speedo meter meskipun dia bisa mengintip dengan jelas dari belakang. Entah jarumnya sekarang menunjuk ke angka berapa. Persetan.
Dari kaca spion, Rendy sempat melihatnya. Ada dua orang berboncengan yang saat ini sedang mengikutinya. Lebih tepatnya sengaja membuntuti Rendy sejak dari stasiun Tugu.
Orang-orang dengan jaket hitam itu adalah orang-orang yang Rendy kenal. Bagaimana tidak? Orang-orang ini sekaligus adalah manusia yang harus Rendy hindari. Karena Rendy tidak ingin berurusan dengan mereka.
Samar-samar terdengar dering ponsel dari dalam sling bag. Ponsel milik Olin. Dalam situasi seperti ini, sama sekali tidak ada niatan untuk mengecek ponsel yang sedang meraung itu. Tidak juga berniat untuk menjawab telepon, entah dari siapapun itu.
Sebagai gantinya, Olin lebih mempererat pegangannya di pinggang Rendy. Debar di jantungnya sudah mencapai level teratas. Siap meledak kapan saja. Ini lebih parah dari jatuh cinta. Bahkan lebih parah dari bermain di salah satu wahana paling ekstrem yang ada di Indonesia. Ah, tidak. Mungkin berlebihan. Mungkin Olin sudah berpikir terlalu jauh dan mulai membayangkan yang tidak-tidak.
Tanpa sadar Olin berteriak kecil saat Rendy menikung di sebuah gang. Di tikungan gang sempit, Rendy berbelok ke arah kanan. Di jalan yang lumayan sempit ini —kurang lebih maksimal hanya bisa dilewati satu mobil dari satu arah saja— Rendy terpaksa mengurangi laju motornya. Mereka melewati rumah-rumah warga sekitar, tukang rujak buah keliling, kios tambal ban, warung kopi hingga rumah laundry. Tepat di ujung gang, Rendy berbelok lagi ke kanan.
Lagi-lagi secara mendadak, Rendy berbelok tajam ke kanan. Olin seketika membuka mata ketika deru mesin motor dimatikan sembari masih berjalan. Rendy memarkir motornya di sebuah ruangan; area parkir tertutup. Olin membaca sebaris tulisan di salah satu sisi dinding.
Staff Only.
Rendy melepas helm kemudian membuang napas panjang. Dia agaknya masih terengah-engah setelah apa yang baru saja terjadi. Sementara Olin perlahan turun mengedarkan pandangan.
Tunggu …
Apakah ini tampilan baru dari rumah belajar milik Karin?
Olin bertanya-tanya dalam hati. Dia begitu tidak sabar ingin mengecek kebenarannya. Buru-buru Olin meletakkan helm di atas jok motor dan hendak bergegas lari ke depan untuk melihat tulisan Be-YOU-tiful yang terpajang besar-besar di atas atap. Dia sudah sangat merindukan nama itu.
Melihat gelagat Olin, sontak Rendy buru-buru turun dari motor untuk mencegahnya.
"Tolong … jangan …" kata Rendy tiba-tiba dengan masih sedikit terengah. Cukup kuat tangan kanannya menggenggam pergelangan tangan Olin.
Olin kaget. Reflek, matanya terbelalak menatap Rendy. Mata keduanya saling tatap untuk beberapa detik.
Rendy buru-buru mengunci pintu ruang parkir. Dia meletakkan telunjuk di depan bibirnya sendiri, kemudian menyuruh Olin berjongkok mengikuti gerakan Rendy. Seolah memberikan isyarat kepada Olin untuk tidak mengeluarkan suara apapun.
Motor yang baru saja lewat adalah motor yang ditumpangi orang-orang berjaket hitam. Rendy menunjuk ke arah luar sembari sedikit mengintip dari kaca. Kaca di pintu kayu itu dipasang memanjang lengkap dengan tirai. Kaca yang dipasang tidak lebar, namun cukup untuk mengintip apa atau siapa yang sedang ada di luar.
Awalnya Olin menautkan kedua alis. Dia belum paham apa maksud Rendy. Namun setelah beberapa saat dia segera menguasai situasi. Tidak butuh waktu lama hingga Olin pada akhirnya bisa menangkap situasinya secara utuh. Entah bagaimana, Olin mengangguk paham.
Dua orang yang mengenakan jaket hitam —yang sedari tadi membuntuti Rendy— kini berhenti tepat di tepi pelataran bangunan yang saat ini dipakai Rendy untuk bersembunyi. Mereka terlihat kehilangan jejak Rendy. Yang duduk dibonceng bertubuh gempal, sementara yang lain memiliki postur tinggi kekar. Si pria gempal menunjuk ke arah bangunan tempat Rendy bersembunyi. Dia memberi isyarat pada si kekar untuk turun.
Dengan agak tergesa, dan entah kenapa masih dengan satu tangan, Rendy menutupi motornya dengan jas hujan warna hitam. Kemudian bergegas menarik tangan Olin untuk masuk lewat pintu khusus staff. [ ]