Eps.3 • Rendy Ramadhika

1082 Kata
“Yang mana?” Rendy mengangkat sebelah alis. “Tiap kali kita teleponan, ada banyak nama cewek yang kamu sebut. Ya mana bisa aku ingat semuanya, Gemblung*?” Rendy malas mengingat-ingat sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak peduli apakah sesuatu itu perlu diingat atau justru dimusnahkan dari benaknya. Tapi yang jelas Rendy akan memilih untuk membiarkan sesuatu itu berlalu begitu saja demi kestabilan memori ingatannya. “Itu, lho, dia itu yang pernah aku ceritain jago menggambar. Kayak bikin ilustrasi gitu.” Karin masih celingukan sembari menjelaskan pada Rendy. “Dia dulu sering main ke BeYOUtiful juga sih pas kami masih kuliah. Sering ngajarin anak-anak bikin gambar yang lucu-lucu buat mereka warnai. Terus setelah lulus, dia balik lagi deh ke Kediri.” “Ya pokoknya itulah ya,” jawab Rendy ogah-ogahan menyimak perkataan Karin. Mata kameranya sibuk membidik sebuah obyek yang begitu menarik perhatian Rendy dari kejauhan. Telunjuknya menekan tombol shutter. Kemudian Rendy menunjukkan hasil jepretannya kepada Karin yang sibuk celingukan sambil menempelkan badan ponsel di telinga kanan. “Lihat nih, Rin. Bagus, kan, hasilnya?” Rendy berniat menyombongkan kemampuan fotografinya kepada Karin. Layar kameranya memperlihatkan hasil foto dengan obyek seorang gadis rambut sebahu yang mengenakan jaket jeans. Karin hendak mementahkan kesombongan Rendy. Tapi setelah melihat hasil foto itu dari dekat, Karin tiba-tiba memekik. Eureka! Tangannya menggablok pundak Rendy yang lebih tinggi lima senti dari pundaknya. “Ini, Ren, orangnya!” Rendy terkejut bukan karena pundaknya yang tiba-tiba kena tampar oleh Karin, tapi karena suara Karin yang berdenging di telinganya. “Apaan?” “Arah mana tadi kamu motretnya?” desak Karin. Rendy menunjuk ke suatu arah dengan dagunya. “Tuh, di sana.” Mata Karin menyipit. Cukup jelas untuk melihat seorang gadis sedang berdiri di koridor peron dengan ponsel di tangan kanan. Ciri-cirinya sama persis dengan yang ada di foto hasil jepretan Rendy. Di saat yang bersamaan, kedua lengan Karin dilambaikan sementara mulutnya berteriak lantang. “OLIIIN!” Karin berlari menghampiri gadis yang memakai jaket jeans. Olin balas melambai. Rendy melenggang santai di belakang Karin sambil tangannya sibuk berkutat dengan kamera. Dia lumayan puas dengan hasil jepretannya barusan. Lumayan, cewek ini fotogenik juga, pikirnya. Rendy meneliti tiap detail obyek dari sudut ke sudut. Membiarkan ibu jarinya berulang-ulang menekan tombol zoom in hingga Rendy bisa melihat wajah Olin secara close-up. “Lin, kenalin. Ini sepupuku,” kata Karin sembari menoleh ke sisi kiri. Nihil. Karin menoleh ke sisi kanan dan tetap tidak menemukan sosok Rendy di sebelahnya. Karin tidak sadar bahwa Rendy masih jauh tertinggal di belakangnya. Olin terkikik. Karin sontak berbalik badan. Dia mendengkus kesal karena Rendy berdiri diam di ujung sana dan masih saja bermesraan dengan kamera. Mata dan tangannya tidak pernah mau lepas menatap layar. Lengket sekali kamera itu dengan tangan Rendy seperti ada lem yang merekat di sana. “RENDY!” panggil Karin. Rendy mendongak mendengar Karin menjeritkan namanya, kemudian gegas berlari menghampiri keduanya. “Sorry,” katanya sembari tersenyum basa-basi ketika matanya bertemu dengan mata Olin. “Bisa nggak ya itu kameranya disingkirin dulu?” bisik Karin sembari menyikut lengan kiri Rendy. Mimik mukanya pura-pura semringah tetapi sebetulnya dia begitu sebal dan malu akan sikap Rendy. “Iya, iya, sorry. Bawel,” balas Rendy setengah berbisik dengan intonasi suara yang sama. Rendy menjejalkan DSLR ke dalam sling bag. Olin tersenyum mafhum melihat sikap Rendy. Karin sesekali menatap sebal ke arah Rendy kemudian tersenyum sungkan ketika kembali menatap Olin. “Sorry, ya, Lin. Dia emang gini orangnya. Kalau diajak ke mana-mana kayak bocah. Suka ilang-ilangan,” kata Karin kepada Olin. “Tahu gini, aku harusnya memakaikan harness ke manusia ini tadi. Atau nggak, sekalian pasangin dog leash di lehernya.” Karin melirik sebal ke arah Rendy. Pecah juga tawa Olin melihat tingkah konyol dua orang itu. “Berisik, Radio!” cerca Rendy setengah berbisik. Ekor matanya melirik sinis ke arah Karin yang kini seolah merasa lega setelah menginjak-injak reputasinya di hadapan orang lain. Tapi toh Rendy tidak berani mencerca Karin lebih jauh lagi. Sebab Karin mungkin saja akan mengancamnya lantas menolak menemaninya mencari orang untuk pertunjukan sand art. Dan Rendy tidak ingin hal itu terjadi. Khusus hari ini, ia rela menyingkirkan ego. Tidak ada ruginya menjadi puppy yang baik selama sepuluh menit. “Halo,” kata Olin sembari menyodorkan tangan kanannya kepada Rendy. “Olin.” Rendy menyambut tangan Olin sembari tersenyum seramah mungkin. “Kak Rendy, kan?” sela Olin sebelum Rendy sempat memperkenalkan diri. Rendy dan Karin saling pandang dengan ekspresi yang sama terkejutnya. “Kamu kenal sama si kunyuk ini, Lin?” sergah Karin. Olin menggeleng. “Tapi siapa sih di SMA Banyusewu yang nggak tahu sama Rendy Ramadhika? Kak Rendy selalu jadi buah bibir seantero sekolah, lho, karena prestasi fotografi yang beberapa kali Kakak menangi. Karya fotografi Kakak keren banget. Aku suka.” Olin tidak lepas menatap mata Rendy ketika mengatakan semua itu. Binar mata Olin seperti magnet yang menarik mata Rendy untuk enggan lepas dari tatap mata Olin. Sementara Rendy masih bengong karena tidak menyangka akan ada seseorang yang mengenalinya di Jogja yang notabene baru dua minggu yang lalu Rendy berada di kota ini. Tidak mungkin ada yang mengenalnya, kecuali Karin dan anak-anak di rumah belajar BeYOUtiful. Tetapi hari ini seolah Rendy mampu mengisi memori seseorang dan sosoknya tinggal dalam jangka waktu yang lama di dalam sana. Memori itu awet bahkan setelah beberapa tahun berlalu. Rendy tersenyum bangga mendapati masih ada yang mengingat karya-karyanya. Meski sembilan tahun telah berlalu. “Gila,” puji Karin setengah menggoda. “Rupa-rupanya sepupuku ini pernah jadi orang keren sewaktu SMA.” “Terima kasih buat apresiasinya,” kata Rendy kepada Olin. Rendy tersenyum sembari menatap mata Olin. Kali ini garis senyumannya sungguh berbeda dengan yang tadi. Lebih tulus dan sepertinya berhasil memesona Olin. Muka Olin memerah. Reflek, Olin membuang pandangan ke arah lain. Perutnya mulas. Jantungnya tiba-tiba dikeroyok oleh sekawanan marching band. Agaknya Karin bisa menangkap sinyal-sinyal merah jambu antara Olin dan Rendy. Melihat tatap mata Rendy yang enggan lepas dari mata Olin, Karin tidak tahan untuk tidak menyikut lengan Rendy. Karin begitu gemas melihat muka Rendy yang kini tiba-tiba berubah seperti seorang bocah yang sedang sabar menunggu es krim favoritnya diracik. Manis sekali. Seketika lamunan Rendy buyar. Karin mengedip. Kemudian tersenyum penuh arti sembari menggoda Rendy dengan berbisik, “Ciyeee, yang lagi gandrung. Kasmaran ya, Ren?” Rendy meletakkan telapak tangan di samping bibirnya kemudian berbisik dengan cukup lantang di telinga Karin. “Berisik, Radio!” ●♡● Catatan kaki: * Bodoh (Bahasa Jawa)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN