“Omong-omong, gimana hasilnya? Udah dapat orangnya?” tanya Karin antusias.
Rendy menggeleng. “Itulah kenapa hari ini aku bela-belain bangun pagi dan buru-buru ke sini. Aku mau nyari orang.”
“Siapa orangnya?”
Rendy mengangkat bahu. “Any idea? Temanmu mungkin? Atau muridmu? Siapa kek gitu, Rin. Aku lagi malas mikir nih. Bantuin nyari, please.” Nada bicaranya lebih terdengar seperti merengek daripada memohon.
Karin menoyor bahu Rendy. “Yeee ... kirain udah ketemu siapa orangnya.”
“Mending kalau aku disuruh hunting obyek foto deh, Rin, daripada disuruh hunting manusia. Kalau ayam bisa mainin, aku relain deh tuh rezekiku dipatok sama ayam. Yang penting aku nggak perlu repot-repot muterin kota Jogja dari tugu titik nol sampai tugu titik berapapun, cuma buat nyari manusia yang bisa mainin pertunjukan sand art. Kalau bukan karena bosku yang meminta, aku nggak bakal mau capek-capek kayak gini.” Rendy mendecap-decap sembari sibuk mengeluarkan setumpuk lembar foto dari dalam sling bag kemudian mulai menebar foto-foto itu secara acak di atas meja.
“Eh, foto-fotomu ...”
Tiba-tiba angin berembus cukup kencang menerbangkan lembaran foto-foto yang baru saja Rendy keluarkan dari dalam sling bag. Cuaca mulai tampak mendung. Mungkin sebentar lagi hujan.
“Yaudahlah, Ren, hubungi aja teman-temanmu. Kali aja mereka ada kenalan yang jago sand art,” timpal Karin sambil membantu Rendy yang sedang memunguti lembaran foto.
Foto-foto itu jatuh dan tersebar di pelataran teras. Beberapa meloncat jauh hingga berjubal di kaki pot bunga. Karin menangkap salah satu lembaran foto yang tertiup angin. Foto itu terlihat berbeda dari foto-foto yang lain. Kertasnya sudah lumayan usang. Karin kembali meletakkan foto itu beserta foto-foto yang lain di atas meja.
“Temanku siapa? Temanku ya cuma kamu, Rin, di Jogja. Kamu tahu sendiri kalau aku agak lambat adaptasi di lingkungan baru. Aku kerja di kafe juga baru dua minggu ini, kan?” sahut Rendy sembari mengelap badan lensa menggunakan kain khusus.
“Lho, ini, kan, Tante Lauren? Laki-laki ini siapa, Ren?” tanya Karin tiba-tiba sembari menunjuk salah satu foto yang dia pungut. Keningnya berkerut antara penasaran bercampur kaget.
Rendy mengangkat bahu. “Nggak tahu. Pacar baru Mama kali,” jawabnya asal. Rendy kembali tenggelam dengan kamera kesayangannya.
“Foto ini diambil tahun 2009? What? Seriously?” pekik Karin. Intonasinya meninggi seolah-olah mendapati ada serpihan badan pesawat luar angkasa yang jatuh di pelataran rumahnya dan jika dijual akan laku jutaan dolar.
“Yup. Seperti yang kamu lihat. Udah lama banget,” jawab Rendy sembari mengangkat bahu. Rendy cuek saja menanggapi keterkejutan Karin. Dia lebih tertarik dengan kegiatannya pagi itu. Mengelap lensa kamera.
“Emang kamu nggak penasaran siapa laki-laki itu? Emang Tante Lauren nggak pernah cerita?” kejar Karin.
Rendy mengangkat bahu tidak peduli. Melihat ekspresi muka Rendy yang mulai masam, Karin terdiam. Dia mafhum. Tidak ada niatan untuk bertanya lebih jauh.
Karin menyapukan pandangan ke tumpukan foto lain. Perhatiannya tertuju pada sebuah foto yang mirip dengan foto pertama yang tadi dia lihat tapi dengan sedikit perbedaan. Ada obyek baru yang tidak sengaja tertangkap oleh kamera. Obyek itu sepertinya lewat begitu saja sewaktu Rendy memotret Lauren bersama seorang lelaki paruh baya sembilan tahun silam. Karin mendapati sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang, yang dia kenal.
“Aduh, ya ampun, mendungnya kok makin gelap gini. Repot nih kalau bentar lagi hujan,” celetuknya tiba-tiba.
“Kenapa? Jemuranmu numpuk?”
“Enggak. Aku mau ke stasiun Tugu.”
“Hah? Kamu mau ke luar kota?” pekik Rendy. Seketika dia menghentikan kegiatannya mengelap lensa. “Yaaah, bantuin aku dululah, Rin, nyari orang. Habis itu terserah deh tuh kamu mau ke luar kota atau sekalian ke luar angkasa juga aku ikhlasin kok. Yang penting bantuin aku dulu. Hari ini aja. Ya? Ya? Please. Karin baik deh,” rengek Rendy. Kedua tangannya disatukan seperti sedang menyembah.
“Eh, bukan, Sialan,” sahut Karin. “Aku nggak ke mana-mana. Aku ada janji siang ini. Mau jemput temanku. Mau ikut nggak?”
“Teman? Cowok apa cewek?”
“Bawel,” sembur Karin. “Ikut aja, entar juga tahu.”
Rendy merasa tidak ada salahnya menerima ajakan sepupunya itu. Lagipula hari ini dia juga ingin berburu obyek baru demi memuaskan idealismenya; yakni memotret. Jarinya sudah gatal ingin mengabadikan momen baru di Kota Gudeg.
Karin masih memegang selembar foto usang milik Rendy. Kemudian dia menyodorkan foto itu ke depan hidung Rendy. Telunjuknya menunjuk salah satu wajah paling close-up yang ada di foto itu. Sangat jelas terpampang di sana wajah seorang gadis remaja.
“Aku mau jemput orang ini,” kata Karin pada akhirnya.
●♡●
“Masa sih? Jadi kamu nggak kenal sama cewek yang ada di foto itu?” tanya Karin keheranan sesampainya mereka di lokasi. Stasiun Tugu cukup padat siang itu.
Rendy mengalungkan kamera di sepanjang perjalanan mereka menuju stasiun. Keduanya berboncengan naik Vixion milik Rendy. Karin sudah memperingatkan supaya Rendy menyimpan dulu kameranya di dalam sling bag. Mata jambret tidak mungkin tidak lapar kalau melihat barang yang bisa laku mahal, seperti kamera misalnya. Tapi toh Rendy tidak mau menurut.
Percuma ngomong sama es batu, batin Karin. Mending biarin aja, nanti juga leleh sendiri.
Akhirnya Karin menyerah. Dan di sepanjang perjalanan tadi, sebentar-sebentar Rendy menghentikan laju motornya kalau menemukan obyek yang –menurutnya– layak untuk dipotret. Membuat Karin menyesal sudah mengajak manusia satu itu; si maniak fotografi!
Rendy menoleh sinis. “Ya enggaklah. Justru gara-gara waktu itu dia lewat tiba-tiba di depanku, aku jadi kehilangan momen bagus. Dan akhirnya terpaksa puas dengan satu foto Mama yang lagi barengan sama pacarnya atau entah siapanya itu. Sialan emang tuh cewek. Lewat di saat yang nggak tepat,” gerutunya.
“Ternyata dia alumni SMA Banyusewu juga? Berarti dia adik kelasmu dong, Ren? Ya, kan? Tapi dari dulu sampai sekarang, muka dia tuh tetap nggak berubah deh. Masih sama kayak pas ABG dulu. Baby face.”
“Omong-omong, dia temanmu apa sih, Rin?”
“Kan, udah kubilang, dia teman kuliahku, Rendy. Kebiasaan nggak pernah nyimak deh kalau ada orang lagi ngomong,” sambar Karin tidak sabar. Dia kesal.
“Sejak kapan kamu kuanggap orang? Kamu tuh radio buatku,” canda Rendy. Sontak tangan Karin mampir ke kepala Rendy. Cukup keras tangan feminin itu menoyor kepala Rendy hingga mulut si empunya mengaduh.
“Dia itu yang pernah aku ceritain duluuu banget itu, lho, Ren. Ingat nggak sih?” Karin mengatakan itu seolah-olah Rendy adalah malaikat Raqib-Atid yang senantiasa berada di sisinya, mengawasinya siang dan malam.
“Yang mana?” Rendy mengangkat sebelah alis.
●♡●