Alasan Abang Memilih Sayang,

1564 Kata
Fathan memasuki kamar, keningnya berkerut karena tidak menemukan istrinya di sana. Setiap pulang kerja Meysha tidak jarang menyambut penuh hangat di depan pintu tapi sekarang tidak, di kamar pun istrinya juga tidak ada. Kemana dia? “Sayang.” panggil Fathan sambil membawa langkah menunju ranjang, namun tidak ada jawaban. Mata Fathan sedikit menyipitkan mata ketika melihat set jas tergantung rapi di stand hanger, jam tangan dan pin tie mewah juga tertata di atas meja rias. Fathan menoleh ke arah balkon kamar, pintu kaca di sana terbuka. Briefcase langsung di taruh, dasi di longgarkan, lalu Fathan langsung membawa langkah menuju balkon. “Esha,” tegur Fathan ketika melihat Meysha yang tengah duduk sambil memejamkan mata. Meysha langsung tersentak apabila namanya di sebut. Dia cepat mengusap bekas air matanya. Meysha mendongak menatap Fathan yang berdiri di sampingnya, senyum paling manis dia kembangkan. “Abang sudah pulang, maaf Esha tidak menyambut di pintu. Tadi Esha sedikit pusing.” Kata Meysha sambil berdiri, namun Fathan cepat menahan dan membawanya duduk kembali. “Sayang pusing kenapa?” Tanya Fathan sambil duduk berlutut di depan Meysha. Tangannya juga diletakkan di kening dan leher sang istri, lalu dibandingkan dengan suhu tubuhnya “Ya Allah, sayang. Sayang demam. Kenapa tidak menghubungi Abang?” ujar Fathan dengan sangat khawatir apabila merasakan suhu tubuh Meysha jauh lebih panas dari suhu tubuhnya. Meysha tertawa kecil melihat Fathan yang terlalu mengkhawatirkannya itu. Tangan Fathan yang masih stay di lehernya di ambil, lalu di salami dan di ciumnya penuh takzim. “Sekali lagi Esha minta maaf ya, karena tidak menyambut Abang pulang kerja.” Fathan menggeleng, “Abang tidak mempermasalahkan itu. Sekarang sayang harus segera berobat, ya.” Fathan bergerak untuk mengangkat tubuh Meysha, namun Meysha cepat menahan. “Abang mau membawa Esha kemana?” “Ke dalam kamar, nanti Abang hubungi dokter.” Meysha menggeleng, “Tidak usah. Esha sudah minum obat kok. Nanti juga bakalan turun panasnya.” “Sayang…” “Tidak, Abang.” potong Meysha sambil mengusap lembut pipi suaminya itu, “Ini cuma demam biasa. Bentar lagi juga sembuh.” ujarnya lembut dan di sertai dengan senyuman. Fathan menatap lama wajah polos istrinya itu. Cantik meski tidak ada sedikitpun polesan make up. Meskipun sejak sakit Meysha kerap kali terlihat pucat, Fathan tidak pernah terganggu akan hal itu. Di matanya bagaimanapun bentuk Meysha tidak akan menggoyahkan hatinya walaupun sedikit. Cintanya benar-benar sudah terpatri dengan mantap untuk Meysha. “Sayang yakin?” tanya Fathan lembut. “Ha’aah.” Jawab Meysha dengan anggukan mantap. Fathan mengangguk kecil, lalu dia juga mengambil tempat duduk di samping Meysha. Bahu sang istri di dekap, lalu di bawa dalam pelukannya. “Sayang tahu kenapa Abang memilih Esha?” tanya Fathan tiba-tiba. Meysha diam sejenak, lalu berkata, “Karena Esha dulu memiliki rupa yang cantik kan?” ujar Meysha dengan sambil tertawa kecil. “Humm.” balas Fathan ringkas. Meysha mendongak menatap wajah suaminya itu. Hatinya langsung terusik akan jawaban Fathan demikian. Cantik menjadi alasan? Hati Meysha pilu, bagaimana dengan dirinya yang sekarang tidak begitu terurus lagi? “Sebab sayang cantik. Meysha Aditama, cantik luar dan dalam. Kecantikan yang berhasil memukau pandangan dan memikat hati abang. Makanya abang cepat-cepat mengikat sayang waktu itu, abang tidak mau lelaki manapun mengambil kesempatan.” ujar Fathan dengan memandang Meysha tanpa berkedip dan penuh cinta. Meysha berdehem ketika dia tidak mampu lagi melawan tatapan sang suami, “Erk, Abang Esha hampir lupa.” Ujar Meysha cepat sambil melepaskan diri dari Fathan. Fathan hanya tersenyum. Ya, beginilah Meysha, mereka tidak pernah berkontak fisik dalam waktu lama. Makanya mereka tidak ada kesempatan untuk hal yang lebih jauh. “Lupa apa sayang?” “Mama tadi bilang malam ini ada pesta penyambutan kepulangan dokter Karin. Esha sudah menyiapkan semua keperluan Abang. Sekarang abang mandi, biar bisa santai sebentar, shalat maghrib dan lepas isya berangkat.” Raut wajah Fathan langsung berubah seketika. Seperti tidak berkenan. “Jadi sayang siapkan baju untuk itu?” “Ha’ah.” “Baru kali ini Abang lihat. Jas baru?” “Iya. Mama yang memberikan itu sama Esha tadi.” Keluhan berat keluar dari bibir Fathan, “Sayang, bisa tidak sayang tahan Abang untuk tidak pergi. Abang malas pergi.” Meysha sedikit menyimpan senyum. Namun dia tidak bisa menahan Fathan untuk tidak pergi karena Mama mertuanya sudah memperingatinya untuk tidak banyak bertingkah yang mengakibatkan Fathan tidak ikut. “Abang… mana boleh seperti itu. Dokter Karin adalah teman abang sekaligus dokter Esha juga. Setidaknya abang hadir untuk menjaga perasaan dia.” Fathan hanya diam tidak bersuara. Dia menyandarkan punggung ke sandaran kursi dan meletakkan tangan kanannya di dahi, mata di pejamkan. “Abang penat.” Ujar Fathan dengan alasan yang yang lebih rasional meskipun dia tahu tidak akan dapat diterima. “Itu makanya Esha suruh abang mandi sekarang. Biar lebih segar, nanti Esha pijitin.” Bujuk Meysha sambil menarik tangan untuk bangkit. Fathan hanya bisa pasrah. Dia hanya mengekor dan menuruti istrinya. *** Senja menjelang, Fathan dan Meysha menunaikan shalat maghrib. Menjelang waktu isya Fathan isi dengan membaca aya suci alqur’an, sementara Meysha hanya mendengar dan memperhatikan sang suami. Setelah shalat isya telah mereka tunaikan, Meysha langsung menyalami tangan Fathan dengan penuh takzim, pun Fathan mengecup kening sang istri dengan penuh hangat, setelahnya Fathan langsung merebahkan kepalanya di paha Meysha. “Abang, abang harus segera siap-siap.” Ujar Meysha sambil menepuk kecil bahu sang suami. Senyap. Fathan hanya memejamkan mata. Tangannya meraba tangan sang istri lalu dia bawa ke kepalanya. Meysha otomatis mengembangkan senyum, dia paham yang diinginkan sang suami. Tangan Meysha langsung bergerak mengusap kening dan rambut suaminya itu. “Fathan…” Mata Meysha langsung gelagapan mendengar suara Mama mertuanya, “Abang, tuh kan apa Esha bilang. Abang siap-siap.” “Fathan, Esha kalian dengar Mama tidak?” Ami mulai mengetuk pintu, “Esha kamu ada di dalam kan?” suara Ami sangat jelas sangat kesal kali ini. “I-iya Ma, Esha dengar. Bang Fathan lagi siap-siap, Ma. Mama tunggu saja di luar.” “Okey, kalau begitu Mama tunggu di ruang depan. Jangan lama, kita tidak boleh terlambat Fathan, kasihan Karin.” Kata Ami, lalu membawa langkah menunju lantai bawah sambil merapikan perhiasan di jari dan pergelangan tangan. Vouge dan glamor membuatnya sangat anggun meskipun usianya tidak lagi muda. “Abang,” bujuk Meysha pada Fathan yang masih senyap dan memejamkan mata. Fathan membuka mata dan menatap Meysha dengan datar, “Sayang memang sangat ingin Abang pergi?” Meysha mengangguk, “Iya, harus.” Balas Meysha dengan tegas. Fathan sekedar mengangguk, “Okey. Kalau itu yang Esha ingin.” Fathan bangkit dan berlalu begitu saja. Sangat jelas jika Fathan kecewa padanya. Meysha hanya bisa menunduk dan menelan kepedihan. Jika ditanya hati, tentu saja dia tidak ingin Fathan pergi karena dia sudah dapat membaca apa rencana sang mertua. Namun, apalah daya dengan keadaannya yang seperti ini. Meysha terlalu takut untuk membantah mertuanya itu. Dia takut Ami akan memperlakukannya lebih buruk lagi nantinya. “Maaf kan Esha abang.” *** Fathan dan Ami keluar dari mobil. Ami menggandeng tangan sang anak dan melangkah memasuki menuju ballroom hotel dengan sangat percaya diri. Di dalam sudah banyak tamu yang datang. Kala itu Karin tengah berbincang dengan tamu yang datang, ketika melihat sosok Fathan dan Ami, Karin langsung permisi mengambil diri. “Tante…” Karin menyambut Ami dengan penuh hangat. “Ya ampun Karin, kamu cantik banget.” Puji Ami lalu memeluk Karin. Karin tersipu dan membalas pelukan Ami. Dia sempat melirik Fathan sebelum melerai pelukannya dengan Ami. “Tante memang pandai menyenangkan hati Karin.” Kata Karin dengan tawa kecil. “Tante tidak sembarangan memuji lho, kamu benaran cantik banget malam ini. Tante sendiri pangling.” Pujinya lagi sambil memperhatikan begitu mewahnya gaun soft pink yang melekat pas ditubuh Karin. Make up soft yang dan tatanan rambut yang simple namun terlihat sangat pas dengan penampilan Karin. Cantik! Ya memang tidak bisa dipungkiri. Karin tersenyum malu. Ami ikut tersenyum senang melihat Karin begitu. Dia melirik Fathan yang sedari tadi tidak bersuara. “Ya kan Fathan, Karin sangat cantik.” Fathan mengangguk kecil, “Cantik, tapi yang di rumah jauh lebih cantik.” Ujar Fathan dengan sedikit tawa, sehingga membuat Karin juga tertawa. “Sombong ya punya istri seorang model. Dibandingkan Esha, tentu aku kalah jauh Fathan. Selain dia memang cantik, dia juga istri kamu.” “Haha, benar-benar. Good Karin, kamu memang selalu paham.” Ami menyenggol lengan Fathan, “Apa-apaan sih kamu Fathan?” bisik Ami geram. Fathan hanya membalas Mamanya dengan senyuman, di saat yang bersamaan seorang rekan bisnis mengenali dan menyapa Fathan. Fathan memilih berbincang dengan rekan bisnisnya itu. Fathan pamit pada Mamanya dan Karin, lalu mecari tempat untuk berbincang lebih nyaman. “Fathan, “ Geram Ami yang ingin menahan anaknya, namun Karin cepat menahan tangan Ami. “Tidak apa-apa Tante.” Ami mengeluh perlahan. Dia merasa sangat segan pada Karin. Tangan Karin diusap dengan lembut, “Maafkan Fathan ya Karin.” Kari mengangguk dengan senyuman. Dia meminta dua gelas minuman pada pelayang yang baru lewat. “Ini tante.” Karin mengulurkan satu gelas pada Ami. Ami menerima gelas tersebut dan langsung meneguknya. Bagaimana pun caranya, aku akan pastikan Fathan dan Meysha berpisah. Aku tidak redha mempunyai menantu seperti Meysha bodoh itu. Mau ditaruh dimana muka ku, kalau sampai semua orang tahu kalau aku punya menantu gila. Cih! Ami menggoyang-goyangkan gelas di tangan. Dia menatap Fathan di ujung sana, lalu menatap Karin yang tengah meneguk minuman. Ami tersenyum, berbagai rancangan rencana tersusun di kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN