Fathan memasuki rumah sakit dengan terburu-buru, karena dia mendapat kabar bahwa sang mama mengamuk dan ingin keluar dari rumah sakit. Niatnya mencari sang istri terpaksa diurungkan, karena Karin bilang mamanya benar-benar sulit di kenadilikan. Mama memegang pisau pengupas buah yang terdapat di sana. “Mama,” ujar Fathan. Semua mata terus memandang ke arah pintu. Ami langsung menolak Karin dan nurse yang berada di hadapannya , lalu berlari ke arah anak lelakinya itu. “Fathan, bagaimana nak? Bagaimana dengan Esha? Apa sudah ada kabar? Esha sudah ketemukan?” tanya Ami bertubi-tubi. Matanya berkaca-kaca, memandang Fathan dengan penuh harap. Bibir Fathan langsung bergetar, matanya juga berkaca-kaca. Dia benar-benar lemah. “Kenapa kamu tidak menjawab, Fathan? jawab mama! Esha sudah ketemu k

