Bab 19

828 Kata
Aku selalu membayangkan wajah Nadine di setiap do'aku. Aku berharap Nadine selalu di jaga dan di lindungi sampai aku mampu menuntaskan semua yang Papa tugaskan. Tahun demi tahun berlalu, aku selalu menyIbukkan diri dengan bekerja agar aku cepat menyelesaikan tugas dari Papa. Aku sempat Frustasi karena perusahaan yang aku kembangkan mengalami kegagalan. Di umur ku yang ke 25 tahun, lagi - lagi aku harus mengulang dari Nol. Sampailah di puncak karir ku , setelah 2 tahun yang lalu aku mengalami kegagalan. Banyak orang bilang, kegagalan adalah pengalaman terbaik. Dan itu adalah suatu kebenaran. Aku dan orang tua sudah sepakat akan menepati janji mereka di umur ku yang ke 27 tahun ini. Tapi sayang, saat itu salah satu pabrik kami terbakar oleh arus pendek listrik. Sungguh naas nasib ku, aku harus membatalkan semua yang aku rencanakan dan mengurus hal ini terlebih dahulu. Selang beberapa bulan, aku yang sedang asik melihat pembangunan pabrik baru hampir saja kehilangan kesadaraan saat mendengar kabar duka dari Nadine. Seperti tersambar petir, hati ku terasa nyeri dan tubuh ku kaku. Aku menemui orang tua ku dan memohon pada mereka. Aku melihat senyum dan air mata di sudut mata Mama ku, sedangkan Papa hanya mengangguk tanda setuju atas semua ke inginan ku. Hari itu, yaaaa.... hari itu aku datang ke Indonesia bersama Mama dan Papa. membawa cinta dan menjanjikan kenyaman untuk Nadine. Mungkin dulu mereka menganggap aku hanyalah sebuah lelucon, tapi kini aku telah membuktikan diri. Aku hanya ingin Nadine, biarkan Nadine hidup bersama ku. Kini Nadine telah menjadi istri sah ku, tapi aku tidak dapat memiliki dia seutuhnya. Sampai kejadian hari itu terjadi, Nadine pingsan dan ketika sadar dia menjadikan aku seperti suami yang luar biasa. Nadine sangat ingin aku sentuh, dia terus merayuku. sebagai laki - laki normal, pangkal pahaku menegang dan aku melakukan nya. sungguh luar hidup bersama istri yang dicintai. Aku mencintai mu, sungguh mencintai mu Nadine. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Malam semakin hening Aku terbangun dari tidurku, Aku melihat bidadari cantik berbaring disamping Menemani malam ku. Sungguh hangat ranjang ini , aku belum bisa melupakan semua rayuan dan pujian yang Nadine ucapkan di telinga ku. Tapi untuk saat ini aku tidak boleh terlena. Dengan cepat aku masuk ke kamar mandi membersihkan seluruh tubuh ku, memakai baju tidur . Aku mengangkat selimut yang menutup seluruh tubuh Nadine yang polos. Aku mengambil pakaian tidur Nadine di lemari dan aku pakai kan dengan pelan. Aku hanya antisipasi saja, siapa yang tau kalau ketika Nadine bangun akan lupa kembali padaku sebagai suami nya. Pelan - pelan aku memindahkan Nadine ke ranjangnya. Kamar Nadine tepat di samping kamar ku. Nadine telah aman di kamar nya, dan kau mulai memindahkan pakaian Nadine kembali ke lemari nya. Sungguh melelahkan.. Hampir seluruh barang nya di pindahkan ke kamar ku, aku harus membuat nya kembali seperti semula. Aku tidak ingin Nadine menganggap aku aneh dan meninggalkan aku karena kesalah pahaman. Aku menghempaskan lagi tubuh ku di ranjang, aku kembali mengingat semua perkataan paman ed. Aku berdiri kembali dan memasang kamera CCTV yang sangat sederhana, tidak perlu bantuan orang lain untuk memasangnya sehingga Nadine tidak curiga. Pukul 03.00 dini hari, semua nya akhirnya selesai. Lagi - lagi aku menghempaskan tubuh ku ke ranjang. Mata ku mulai terpejam, dan menit berikutnya aku mulai mengarungi mimpi ku. Wahai mimpi, tarik lah seseorang yang tidur di sebelah kamar ku agar berada dalam satu mimpi yang sama. Aku mencintai nya, sampai ke urat nadi ku. Pagi ini Daniel yang bangun lebih dulu tidak ingin mengganggu Nadine yang masih terlelap dalam tidurnya. sebagai suami yang baik, Daniel dapat mengerti kelelahan yang Nadine rasakan. Daniel mengamati isi kulkasnya, semenjak Nadine tinggal di rumah ini tidak ada lagi asisten rumah tangga yang datang ke Panthouse . Daniel segaja agar tidak terlalu banyak hal yang mengganggu Nadine. "Masak apa ya ? tanya Daniel pada dirinya sendiri. Daniel memilih - milih bahan makanan yang akan ia masak, semua bahan telah berkumpul dan Daniel siap memulai acara masak nya. Nadine yang baru saja tersadar mencium bau lezat di hidung kecil nya, matanya langsung terbuka lebar mengingat hari ini dirinya akan pergi ke kampus. Nadine yang buru - buru mandi dan secapatnya menunaikan kewajiban nya langsung berlari ke arah dapur untuk memasak sarapan pagi ini. "Hah ? mas yang masak ini ? ucap Nadine takjub melihat semua makanan lezat ala korea yang tersaji di meja. "Wa.. Nadine tidak nyangka mas bakal pinter masak juga. Nadine makan ya mas ucap Nadine yang langsung menarik kursi dan mencicipi makanan tersebut. Daniel hanya tersenyum menatap Nadine, semua dugaan Daniel tampaknya benar. Nadine akan datang dan pergi ketika Nadine bangun ataupun tersadar dari alam bawah sadarnya. mulai saat ini Daniel akan lebih berhati - hati. "Mas.. kenapa bengong pagi - pagi ? antari Nadine ke kampus hari ini ya mas... terus gimana dengan janji mas buat antar Nadine ke dokter keluarga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN