Jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Rapat sederhana itu pun telah selesai. Kini semua teman Faiha pamit pulang. Kini hanya tinggal Hiyya.
“Tas, aku pulang ya cantik, wis bengi iki.” pamit Hiyya.
“Oh yo...yo kamu pulang sendirian to Ya?” tanya Tasmira.
“iya aku pulang sendirian.”
“oalah tak anter ae gimana? nanti kalo kamu kenapa-napa gimana?” kata Tasmira.
“halah wis ndak usah lah orang deket ini lho, ngrepotin kamu nanti. Udah ya, insyaAllah ndak bakal terjdi apa-apa. Aku pamit yo, Assalamu’alaikum.” Pamit Hiyya.
“Ehmm...gitu. Yo wis lah lak itu maumu. Wa’alaikumussalam.” kata Tasmira. Setalah itu Tasmira dan Faiha pun berpelukan dan cium pipi kanan dan kiri.
Hiyya POV
Setelah berpamitan dengan sahabatku Tasmira, aku berjalan keluar menuju gerbang rumahnya. Betapa terkejutnya aku setelah keluar ternyata Mas Hamzah telah menunggu lengkap dengan pakaian yang tadi ia kenakan waktu sholat.
“Lho! Mas kok jemput Iyya? bukannya di masjid ya lagi takbiran ?” Pertanyaanku langsung menyerbunya.
“Kamu ini dek teko-teko ndak ngucapin salam malah langsung nyerocos aja.” katanya.
“hehe Afwan mas. Assalamu’alaikum masku yang kece.” kataku dan kemudian menyaliminya dengan tak’zim.
“Wa’alaikumussalam adiknya mas yang cantik. Nah lak ngunu se, ya sudah ayo pulang, nanti dicari abi sama ummi lagi.” katanya.
“Inggih mas.” kataku.
Setelah itu aku langsung mensejajarkan diriku dengan mas Hamzah.
“Mas....” panggilku.
“Hmm.” dia hanya membalas dengan deheman.
“pertanyaanku tadi belum mas jawab.” kataku.
“Ya Allah, kamu itu ya....” katanya sambil menjitak dahiku.
“Aduh.....sakit tau mas.” kataku sambil cemberut dan mengusap-usap dahiku yang merah.
“kamu sih gitu aja masih ditanyain. Ya, masak mas biarin kamu pulang sendirian sekarang kan sudah malam dek. Kalau mas biarin kamu pulang sendirian bisa kena jitak mas nanti sama ummi sama abi. Karena udah ninggalin permatanya itu.” katanya santai.
“Oh jadi mas Hamzah takut kena jitak, gak ikhlas jemput adiknya nih, Ya udah...aku pulang duluan aja deh.” jawabku masih dengan muka cemberut malah sekarang bertambah cemberutnya. Ku tinggalkan mas Hamzah di belakang. Mungkin sekarang dia hanya menggelengkan kepala dengan sifatku yan kekanakan dan mudah sensi.
“Ye, ngambek........hahaha.....” katanya. Tak pedulikan kata-katanya. Aku terus saja berjalan mendahuluinya. Setelah itu dia berlari sambil memengangi sarungnya mengejarku yang sedikit jauh dengannya. Dia menghampiriku.
“Aduh, ngambek beneran dia. Dek tunggu. Ojo cepet-cepet jalannya.” teriaknya.
“Kamu Itu dek, udah pakek gamis juga tapi masih aja cepet jalannya.” katanya di sebelahku.
“Biarin.” kataku. belum habis rasa kesel ku dia tambah lagi.
“Dek?” panggilnya.
“Hemm.” sautku.
“Dek!” panggilnya lagi.
“Ih, .apa sih mas ?” kataku dan kemudian berhenti.
“Kakimu besar juga ya, sampek-sampek sandalmu besar gitu, ternyata kakimu lebih besar dari kaki mas lho huahaaha.....” ketawanya semakin keras. Ku lihat kakiku. Mukaku merah karena ejekannya.
“Ih....Mas Hamzah.” aku marah kini aku percepat lagi langkahku. Di jalan aku menggerutu karena ulahnya aku jadi malu setengah mati sedang dia hanya tertawa terbahak-bahak. Dia nampak puas mengerjai adiknya yang satu ini. Sampai akhirnya aku sampai rumah duluan dari pada dia.
♠♠♠