RASAIN KAMU MAS

609 Kata
Sesampainya di rumah............ Aku sampai lebih dulu darinya. Setelah mengucap salam, aku langsung duduk di sofa tengah sambil muka di tekuk dan terus ngedumel. “Assalamu’alaikum....ummi..Hiyya pulang.” kataku. “Wa’alaikumussalam. udah pulang kamu nduk?” kata ummi yang ada di dapur. Setelah itu ummi menghampiriku dan membawakan minuman untukku. Ku minum air yang telah di bawakan ummi. Setelah itu kutunjukkan lagi muka ngambekku sama Mas Hamzah. “Lho lho, kenapa to nduk? pulang-pulang kok mukanya di tekuk gitu ?” tanya ummi sambil memegang dahuku. “Itu lho mi, anak ummi yang satu itu.” kataku. “memangnya kenapa to nduk karo masmu?” tanya ummi sambil mengusap pundakku. Aku mulai menceritakan semuanya. Dari aku di masjid sampai pulang tadi. Belum selesai aku cerita yang sebenarnya, orang yang dibicarakan datang. Ya, siapa lagi kalau bukan Mas Hamzah.  “Assalamu’alaikum.” katanya sambil membuka pintu. Kemudian dia tutup dan berlalu ke ruang tengah. “Wa’alaikumussalam.” jawabku dan ummi. “Lhoalah, masih ngambek to? haha.” katanya kemudian dengan tawa yang keras. Aku semakin ngambek karena ulahnya. Tak kuhiraukan bualannya “Wis wis...kamu itu le, diapain aja sih adiknya sampek pulang-pulang bukannya seneng malah masang muka merengut kaya gini.” kata ummi sambil menaikkan daguku menampakkan wajahku yang di tekuk. “Oalah, ngadu to, endak ummi Cuma becanda aja.” katanya santai sambil menahan tawa kemudian duduk di sebelahku. Aku menggeser dudukku sampai mendekat pada ummi. Aku enggak mau duduk dekat dia. “Endak ummi, mas Hamzah bohong. Kayak gitu bilang bercanda.” Kataku. Aku menjelaskan kembali ceritaku yang terpotong. Ummi berdehem dan sekali-kali mengangguk tanda mengerti akan penjelasanku. ku lanjutkan sampai selesai cerita. “Oalah jadi begitu, kamu itu le udah tau adiknya gampang kesinggung masih aja di becandaiin kayak gitu. Tapi benar juga sih yang di katakan masmu kakimu besar nduk.” katanya sambil terkekeh. Ummi sekarang mulai ketularan sama mas Hamzah. “Ummi.....ah bukanya bela aku ini malah ikut-ikutan ngledek.” kataku. “Tuh kan! ummi aja juga bilang gitu. Berarti kan emang kakimu besar dek hahaha” katanya. Kini aku dongkol bener-bener dongkol. Ummi yang tadi aku kira akan memebelaku eh malah ikut-ikutan. Saat ini penolongku hanyalah Abi. “Abi.....tolongin Hiyya....” batinku. Saat ummi dan mas Hamzah sedang menertawakanku, kebetulan sekali abi datang. Mungkin ikatan batin bapak dan anak kali ya...baru aku panggil di dalam hati eh udah datang.  “Assalamu’alaikum.” Ucap abi berada di depan pintu. “Wa’alaikumussalam.” kataku kemudian langsung berlari ke abi setelah beliau menutup pintu. “Abi...........” kataku sambil langsung memeluk abi. “Eh lho ada apa to nduk, kan abi baru pulang.” kata abi. aku terus memeluknya sampai aku dan abi ada di ruang tengah. “Yah....ngaduh deh sama abi.” kata mas Hamzah sambil menunjukkan muka tak sukanya. “Itu lho Bi, mas Hamzah sama Ummi ngeledekin Hiyya terus dari tadi.” kataku merajuk layaknya anak kecil. “Opo to? wis to le! mbok ya kamu itu ngalah sama adeknya, Kalian kan sudah besar tapi masih ribut saja . Kamu itu le! Ngalah! Orang umur sudah mau dua tujuh gitu maih saja suka gangguin adeknya.” kata abi. Mas Hamzah diam seribu bahasa. Dia tidak bisa membalas kalo abi sudah bicara. “Yes, rasain kamu mas, makanya jangan godain Hiyya.” batinku. Aku mengejeknya dengan ku julurkan lidahku. Abi memang selalu membelaku kalo udah bertengkar dengan Mas Hamzah. Tapi sebenarnya abi memilliki sifat yang tegas pada semua anak-anaknya. Jangan dikira abi hanya akan memebelaku karena aku anak bungsu. Salah, abi juga akan memarahi dan menasehatiku jika aku melakukan kesalahan. ♠♠♠   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN