KEMENANGANKU ATAS MAS HAMZAH

936 Kata
Setelah pertengakaran kecil tadi. Abi memebelaku karena memang aku tidak salah. Mas Hamzah yang jadinya kena marah plus dapet nasihat dari abi. Dia memang tidak bisa menjawab semua perkataan dan nasihat abi. Bukannya tidak bisa tapi memang tidak di perbolehkan dalam agama ketika orang tua sedang berbicara atau menasehi kita tidak di perbolehkan untuk membantah atau menimpalinya. Kita di haruskan untuk mendengar dengan seksama. Saat ini aku merasa menang sekali dari Mas Hamzah. Mungkin aku terkesan sebagai orang yang jahat karena aku bahagia di atas penderitaan orang lain. Namun dalam kasus ini beda. Aku senang karena dengan kemenanganku ini dia berkemungkinan kecil akan menggodaku. Tapi tidak, semua itu salah. Mas Hamzah tidak akan pernah menyerah mengerjai adiknya ini dengan berbagai godaan khasnya. ‘Ya rabb....sabarkan hamba. Innallaha ma ashshobirin.’ batinku berkata. Setelah mendengar nasihat panjang lebar dari abi, dia hanya bisa diam kemudian beranjak ke kamar kesayangannya. Dia naik ke atas dan melewatiku. Dia berhenti ketika samapai di sampingku. Mas Hamzah melirik dengan tatapan tidak sukanya kepadaku. Dia mendekat semakin mendekat kearah telingaku yang tertutup hijab ini. Dia diam sejenak dan kemudian mulai membisikkan sesuatu. “KAKI RAKSASA.....” bisiknya dengan suara lirih. Mendengar ledekannya lagi aku berteriak memanggil abi. “Abi Mas Hamzah nih” kataku. “Le.......” kata abi sambil melihat kearah mas Hamzah. Setelah itu mas Hamzah dengan cepat pergi ke kamar kesayangannya. Dia berlalu sambil terkekeh sendiri kemudian masuk ke kamar. Ya mungkin kelakuan kami dianggap seperti anak kecil yang selalu saja bertengkar. Di umur kami yang sudah kepala dua dimana umur yang menuju kedewasaan. Namun apa yang terjadi pada Aku dan Mas Hamzah? di umur yang sudah kepala dua ini kami tetap saja bertengkar. Memang kami selalu bertengkar tapi fakta sebenarnya adalah kami saling sayang satu sama lain. Aku yang memiliki sikap kekanakan di umurku yang hampir 22 tahun, keras kepala, manja namun penyayang sedangkan mas Hamzah memiliki sifat penyayang, pelindung, tegas, bijaksana dan yang paling istimewa adalah enggak gampang ngambek. Meskipun sifat kami berbeda jauh tapi aku dan Mas Hamzah saling melengkapi satu sama lain. Menurutku sosok Mas Hamzah adalah sosok kakak yang tidak akan ada duanya. Dia sangat menyayangi adiknya. Ya meskipun dia menyampaikan rasa sayangnya dengan cara yang berbeda. Tapi aku yakin dia sangat menyayangi keluarganya. Aku dan Mas Hamzah bagaikan kepingan puzzle yang saling menyatu meskipun berbeda susunan, dan gambarnya. Kami saling membutuhkan satu sama lain. Kami saling melindungi satu sama lain. Ya meskipun banyakan dia sih yang melindungi hehe. Di saat kami bersama, kebersamaan kami akan diisi dengan berbagai perdebatan, pertengkaran kecil, saling ejek dan lain-lain. Namun di saat kami tidak bersama, saling terpisah satu sama lain, saling jauh. Kita saling rindu. Pernah waktu itu, aku sudah masuk di pesantren milik abi sedang dia di pesantren eyang dan akan pergi ke Kairo. dia bela-belain waktu telponnya buat abi sama ummi untuk menghubungiku. Meskipun kami anak abi berada di pesantren milik keluarga sendiri. Kami tidak bisa pulang atau menggunakan alat elektronik sesuka hati. Kami pun harus menaati peraturan yang ada. Bahkan kami tidak ingin di perlakukan istimewa karena kami keluarga dari pemilik pesantren. Dia relakan waktunya untuk berpamitan dengan ummi dan abi untuk menghubungiku. Dia ingin sekali mendengar suaraku sebelum dia pergi ke Kairo. Dia rindu sekali denganku. Aku mendengar perkataannya di telepon hanya diam terharu. Ku coba menahan tangisku agar tak sampai terdengar olehnya. Namun mungkin ini sudah ikatan hati anatara kakak dan adik kali ya, dia tahu aku menagis. Dia langsung panik dipikirnya aku menangis karena seseorang mengganguku. “Dek, kamu nangis ya, aduh jangan nangis ya, siapa yang nyakitin kamu bilang sama mas! biar nanti pulang mas hajar.” Katanya aku menahan tawa. ‘sok jagoan banget sih..’ batinku.  “Ndak mas, Hiyya ndak nangis kok. Endak ada yang nyakitin Hiyya di sini.” kataku. “Wis to dek gak usah bohong sama mas, kamu nangis kan....terus kenapa nangis?” katanya lagi di seberang sana. “Ih....susah ya...kalo bohongin mas tu. Hiyya nangis karena denger suara Mas Hamzah yang cempreng itu, sakit nih telinga Hiyya.” kataku sambil ketawa. “Oo gitu awas kamu dek...oh yo wis kalo gitu, mas mau siap-siap dulu ya dek, nanti kita ketemu di bandara aja ya, Assalamu’alaikum.” katanya sambil menutup telepon di sana. “Wa’alaikumussalam.” jawabku. Aku tahu mas Hamzah pasti ingin mengobrol lebih lagi denganku tapi ya sudahlah. ‘mas Hamzah sebenarnya Hiyya ndak ingin pisah sama mas. Cukup waktu mas Hamzah ke pesantren eyang dan Hiyya di sini. Namun sekarang kita harus pisah dengan jarak yang sangat jauh. Inshaallah Hiyya ikhlas mas...’ batinku setelah menutup telepon. Di bandara...aku berusaha melepas kepergiannya ke Kairo dengan bahagia. Namun ketika dia akan pergi air mata ini sudah tidak bisa di bendung lagi. Kini aku akan kehilangan kakakku lagi. Setelah mbak Zha pergi untuk selamanya kini giliran Mas Hamzah pergi ke Kairo aku benar-benar sendirian sekarang. “Dek jangan nangis lah! mas enggak lama kok di Kaironya. Ndak usah nangis yo!” katanya menghiburku. “Ndak mas, ini cuman kelilipan aja kok, janji ya? ndak lama. Kalo mas udah selesai di sana langsung pulang.” kataku.  “Iya....adekku sayang.” katanya dan kemudian kami saling berpelukan untuk yang terakhir kalinya sebelum dia ke Kairo. Panggilan untuk penumpang yang akan ke Kairo telah berbunyi. Kini Mas Hamzah pun masuk ke gerbang keberangkatan. Kemudian bayangannya pun sudah tidak terlihat. ‘maafkan hiyya mas...karena kesedihan Hiyya memberatkan langkah mas untuk maju. Tapi inshaallah Hiyya ikhlas mas pergi Ke Kairo demi kesuksesan mas Hamzah. Insyaallah nanti kita akan bersatu lagi mas.’ batinku. Itulah bukti jika kami berjauhan kami akan saling rindu satu sama 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN