Matahari pagi menyeruak masuk diantara sela gorden yang menutupi jendela kamar memaksa Elena untuk membuka matanya. Perlahan Elena bangun dari tidurnya dan duduk sembari bersandar pada tumpukan bantal dibelakangnya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, menandakan hari ini Elena bisa merasakan nikmatnya tidur dengan waktu yang cukup.
Elena segera mandi dan bersiap untuk menjalani harinya. Sebuah kaus berwarna merah muda dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam menjadi pilihan pakaiannya hari ini. Baru saja Elena membuka pintu kamarnya saat melihat Bibi sedang mengganti bunga yang telah layu didalam vas dengan bunga Lily segar berwarna putih.
“Selamat pagi, nona.” Sapa Bibi dengan senyuman diwajahnya.
“Selamat pagi,” jawab Elena.
“Sarapan untukmu sudah saya siapkan di ruang makan, nona. Tuan Kynnan berpesan kalau saya harus menemani nona untuk berkeliling dirumah ini.”
“Dimana Kynnan?”
“Tuan Kynnan sudah berangkat jam enam pagi tadi, nona.”
“Pagi sekali,” Elena memperhatikan sebentar sekeliling rumah ini. “Bibi, apa kau sudah makan? Mau makan denganku?”
“Saya bisa makan nanti setelah pekerjaanku selesai.”
“Apa Kynnan yang menyuruhmu seperti itu?”
Bibi menggeleng. “Saya melakukannya karena kemauanku sendiri, nona. Saya hanya ingin bekerja semaksimal mungkin untuk Tuan Kynnan karena ia sudah membantu saya dimasa-masa sulitku dulu.”
“Namun sekarang Kynnan tidak ada di rumah. Kau bisa makan denganku sebelum melanjutkan pekerjaanmu,” kata Elena.
“Tidak, nona. Terima kasih. Sebaiknya kau sarapan sekarang.”
Elena menghela napas. “Baiklah. Aku akan berkeliling rumah ini sendiri nanti.”
Elena pergi ke ruang makan dan mengambil sepotong roti tawar dan mengoleskannya dengan selai cokelat. Segelas jus jeruk menjadi teman roti tawarnya pagi ini. Sembari menikmati rotinya, Elena sadar bahwa sedari kemarin ia sendirian, tidak ada lagi yang akan merepotkannya. Sekarang ia hanya akan menjadi ratu dirumah Kynnan; tidak melakukan apapun selain bersantai dan melakukan hal menyenangkan lainnya. Ia tidak boleh membantu Bibi meski hanya memasak makanan atau menyapu ruangan. Namun Elena menyadari kalau semua itu bukan kebiasaannya.
Elena menyelesaikan sarapannya dengan cepat agar ia bisa lebih cepat pula berkeliling rumah barunya. Segelas jus jeruk masih berada ditangannya saat ia mulai mengelilingi rumah. Mulai dari rumah bagian depan, ia mengelilingi bagian luar rumah. Elena baru menyadari kalau Kynnan memiliki pekarangan luas yang mengelilingi rumahnya. Warna rumput dan berbagai tanaman lain yang berwarna hijau sangat kontras dengan cat rumah yang berwarna putih bersih, membangkitkan rasa nyaman dan sejuk bagi siapapun yang berada disini.
Pintu besar dihadapannya sekarang merupakan pintu utama dari rumah ini, harum bunga akan menyambut semua orang yang masuk kedalamnya. Interior sederhana menghiasi ruang tamu; sofa dan meja yang berada ditengah ruangan, lampu kristal yang menggantung indah tepat diatasnya, beberapa meja lampu yang diatasnya terdapat vas yang berisi bunga segar, dan beberapa lukisan yang menggantung didinding ruang tamu. Lantai marmer yang digunakan juga membuat suhu ruangan tetap sejuk meski matahari sedang bersinar terang diluar.
Elena jalan menuju lorong panjang tempat kamarnya berada. Disana terdapat tiga pintu; dua disebelah kanan dan satu disebelah kiri. Pintu disebelah kamar Elena adalah kamar Bibi. Elena meyakini kalau pintu disebelah kiri lorong ini merupakan kamar Kynnan, karena terlihat secara kasat mata ukurannya adalah dua kali ruangan kamar Elena. Ia tidak ingin mengira-ngira terlalu lama, Elena memilih untuk kembali melanjutkan kelilingnya.
Setelah dari lorong panjang, tibalah Elena di dapur dan ruang makan. Tempat ini memiliki jendela besar yang menunjukkan bagian taman belakang rumah Kynnan. Ruang makan didominasi warna putih, sedangkan dapur didominasi warna gelap.
Elena membuka pintu yang menghubungkan rumah dengan taman belakang. Saat ia buka, ternyata ada kolam renang berukuran sedang, dua kursi santai dan sebuah payung yang melindungi dua kursi tersebut.
Pantas Kynnan bilang kalau aku bisa berenang, ternyata ia memiliki kolam renang sendiri..
Matahari yang bersinar terang serta air kolam renang yang tenang menuntun Elena untuk duduk di tepi kolam renang dan mencelupkan kedua kakinya. Gelas berisi jus jeruk ia letakkan disampingnya dan ia pun memandang lurus kearah taman yang terlihat seperti karpet hijau yang dihiasi oleh berbagai bunga disekitarnya. Sambil menggerakkan kakinya Elena berpikir, apakah keputusan yang ia ambil untuk membantu Kynnan tersebut benar. Sesungguhnya keputusan untuk menikah itu harus dipikirkan matang-matang, ditambah lagi Elena akan menikah dengan seseorang yang baru ia kenal. Entah mengapa dengan mudahnya Elena menjawab akan membantu Kynnan dengan mau menikah dengannya. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang istri, atau bahkan menjadi seorang ibu tidak lama setelah mereka berdua menikah.
“Disini kau rupanya.”
Suara yang sudah mulai familiar ditelinga Elena membuatnya menengok ke sumber suara dibelakangnya. Kynnan dengan pakaian kerjanya lengkap dengan jas dan sepatu pantofel sudah berdiri dibelakang Elena dengan senyum manis khas miliknya.
“Kynnan,” kata Elena. “Kau sudah pulang? Bahkan sekarang belum jam makan siang.”
Kynnan ikut duduk ditepi kolam namun tidak mencelupkan kakinya, melainkan ia menghadap ke lain arah dan meluruskan kakinya diatas rumput.
“Aku baru ingat sore nanti ada jadwal. Itulah mengapa aku pulang sekarang,” kata Kynnan. “Siap untuk mengenal calon suamimu?”
“Kynnan, stop.” Elena mulai geli mendengar kata ‘calon suami’ atau ‘calon istri’ meski semua itu ia yang memulainya.
“Baiklah,” kata Kynnan sambil tersenyum geli. “Namaku Kynnan Orlando, Usiaku duapuluh lima tahun—”
“Tunggu,” kata Elena menyela omongan Kynnan.
“Elena, bisakah kau berhenti menyela setiap omonganku?”
“Ayolah, aku hanya penasaran. Apa benar usiamu duapuluh lima tahun? Aku pikir umurmu sudah kepala tiga karena janggutmu ini.” kata Elena seraya menyentuh janggut yang tumbuh sembarang pada wajah Kynnan. “Mungkin lebih baik kau cukur habis janggutmu ini agar kau terlihat sesuai dengan usiamu sekarang.”
“Oh, salah,” kata Kynnan. “Usiaku duapuluh enam tahun sekarang, dan aku tidak akan mencukur janggutku sampai aku menginginkannya.”
“Baiklah, lanjutkan.”
“Sudah.”
“Sudah?” Kynnan mengangguk. “Kau sengaja pulang dari kantor hanya untuk mengatakan dua hal itu padaku?”
Kynnan kembali mengangguk. “Itu sudah cukup. Paling tidak kau tidak akan salah menyebutkan usiaku saat bertemu dengan orang lain.”
“Kalau begitu, aku tidak mau memperkenalkan diriku padamu.”
“Itu tidak perlu, aku telah mengetahui semua tentangmu,” kata Kynnan lalu bangkit dari duduknya. “dan kau bisa lebih mengenalku setelah kita berdua menikah.”
Elena mengangkat kedua kakinya dari air dan berdiri menghadap Kynnan. “Kau tidak perlu repot-repot pulang kalau hanya itu yang ingin kau katakan.” Kata Elena lalu berlalu meninggalkan Kynnan di tepi kolam renang.
“Kau marah padaku, Elena?”
Tidak ada jawaban dari Elena. Ia terus berjalan menuju pintu masuk tanpa menjawab pertanyaan dari Kynnan.
“Baiklah,” kata Kynnan menyerah. “Besok kita akan bertemu dengan orangtuaku. Kau harus sudah siap pukul sembilan pagi. Pakailah pakaian formal yang ada di lemarimu. Kalau kau bingung, kau bisa minta bantuan Bibi untuk memilihkan pakaian untukmu.”
Elena membuka pintu yang menghubungkan taman belakang dan rumah. Sebelum ia menutupnya, Elena melihat Kynnan yang masih berdiri ditempatnya dengan kedua tangan berada didalam saku celananya.
“Aku harus kembali ke kantor sekarang. Sampai jumpa saat makan malam, Elena.” Kata Kynnan seraya tersenyum lalu beranjak pergi.
***
“Katakan padanya aku tidak berselera makan.” Kata Elena pada Bibi lalu menutup pintu kamarnya.
Semenjak kejadian siang tadi Elena masih malas untuk bertemu dengan Kynnan. Perlakuannya yang semena-mena membuat dirinya kesal dan memutuskan untuk memberi hukuman pada Kynnan dengan cara tidak bertemu dengannya malam ini. Meski baru genap sehari Elena tinggal di rumah Kynnan, Elena sudah memahami sikap Kynnan yang paling terlihat; suka memerintah dan tidak suka dibantah.
Pintu kamar Elena kembali diketuk beberapa kali dari luar. Dengan cepat Elena berjalan untuk membuka pintu dan mendapati Kynnan yang masih memakai kemeja kerjanya sudah berdiri didepan pintu kamar, serta Bibi yang berdiri disebelahnya dengan membawa baki penuh dengan makanan dan dua gelas berisi air mineral dan jus buah.
“Karena kau tidak berselera makan, maka aku akan menyuapimu agar kau makan,” kata Kynnan sembari mengambil baki yang Bibi pegang. “Terima kasih Bibi, kau boleh pergi sekarang.”
“Apa-apaan ini, Kynnan?” tanya Elena yang masih berdiri dihadapan Kynnan.
“Boleh aku masuk dulu?”
“Tidak. Ini kamarku, kau tidak boleh masuk sembarangan.”
“Tapi ini rumahku, aku bebas kemanapun aku mau tanpa harus izin denganmu.” Kata Kynnan lalu menerobos masuk kedalam kamar Elena.
Kynnan meletakkan baki makanan diatas karpet bulu berwarna krem dan duduk diatas karpet yang sama. Mau tidak mau Elena juga ikut duduk dihadapan Kynnan dengan wajah tidak suka.
“Apa yang kau inginkan? Aku mau tidur.” Kata Elena ketus.
“Aku ingin kau makan. Ayo, buka mulutmu.” Kata Kynnan seraya menyodorkan sesendok nasi dengan lauknya ke mulut Elena.
“Aku sudah bilang kalau aku tidak berselera makan.” Tolak Elena.
“Aaaaaa...”
“Kynna—” dengan sigap Kynnan mengambil kesempatan menyuapkan nasi saat Elena sedang menyebut namanya. “Kau curang.”
Kynnan tertawa kecil. “Aku tidak curang, aku hanya ingin kau makan. Itu saja.”
“Bukankah kau ada jadwal sore tadi?”
“Jadwalku selesai lebih cepat dari yang kuperkirakan.”
“Apa kau sudah makan?”
“Tidak usah memikirkanku.” Kata Kynnan dengan sendok yang sudah kembali terisi dengan nasi dan lauk siap untuk menyuapi Elena lagi.
“Aku bisa makan sendiri,” kata Elena mengambil sendok dari tangan Kynnan. “Kalau kau belum makan dan bersikukuh ingin tetap disini, minumlah jus buah yang kau bawa itu. Aku tidak menginginkannya.”
“Baiklah.”
Senyum kecil terukir di bibir Elena. Sungguh, ia bersyukur memiliki orangtua angkat seperti Kynnan. Atau haruskah ia menyebutnya sebagai calon suami? Entahlah, Elena tidak mau memikirkan hal itu.