4

1364 Kata
Suara ketukan pada pintu kamar membuat Elena terbangun dari tidurnya. Langit sudah mulai gelap, itu tandanya ia sudah tertidur cukup lama. “Nona Elena,” sapa Bibi saat Elena membuka pintu kamarnya. “Makan malam sudah siap. Tuan Kynnan menunggumu di ruang makan.” “Oh,” Elena melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya, sudah pukul tujuh malam. “Sepuluh menit lagi aku akan ke ruang makan.” “Baiklah, nona.” “Terima kasih.” Elena menutup pintu kamarnya dan kembali duduk di tepi tempat tidur berusaha untuk mengumpulkan kembali kesadarannya. Setelah Elena merasa seluruh kesadarannya sudah kembali, ia bangkit lalu memilih untuk hanya mengganti pakaiannya sekarang dan mandi setelah makan malam selesai. Sebuah gaun santai selutut ia ambil dari dalam tas dan langsung memakainya. Dengan sekali gerakan Elena menguncir rambutnya dan siap untuk makan malam. Rumah baru Elena yang tidak terlalu besar ini menguntungkan baginya karena ia tidak harus berkeliling dahulu untuk menemukan dimana ruang makan berada. Kynnan terlihat sudah duduk di kursi yang berada di salah satu sisi meja sembari menelepon. Saat ia melihat Elena memasuki ruang makan, segera Kynnan memutus hubungan teleponnya dan bersiap untuk makan malam. “Sepertinya kau mulai nyaman berada disini.” Kata Kynnan lalu meraih cangkir yang berisi teh hangat dihadapannya. “Maaf,” hanya itu yang keluar dari mulut Elena. “Kau tidak perlu minta maaf,” kata Kynnan seraya tersenyum. “Duduklah.” Elena duduk di kursi yang berada disisi yang berseberangan dengan Kynnan. Bibi menghidangkan semangkuk sup jangung yang masih hangat serta segelas air untuk Elena. “Semoga kau suka dengan makanannya.” Kata Kynnan. “Sebelum mencicipinya sudah dapat kupastikan aku menyukainya. Sup jagung adalah makanan kesukaanku.” Kata Elena bersemangat. Kynnan mengangguk. “Selesai makan, baru kita akan membicarakan beberapa hal yang harus kau ketahui.” Elena mengangguk tanda ia mengerti lalu mulai menikmati sup jagungnya. Bagi Elena, adopsi bukanlah hal yang buruk apabila seluruh calon pengadopsi sebaik Kynnan. Seluruh anak panti yang sebelumnya bersedih karena ditinggalkan orangtua dengan berbagai alasan, akan dapat kembali memulai hari baru dengan kebahagiaan. “Kau sudah selesai, Elena?” tanya Kynnan sembari membersikan bibirnya dengan tisu. “Ya, aku sudah selesai,” jawab Elena. Anggukan kepala Kynnan seperti sebuah perintah untuk Bibi. Ia segera mengambil mangkuk dan gelas kosong dihadapan Kynnan dan Elena dan menggantinya dengan selembar kertas berisi beberapa poin yang belum Elena pahami. “Apa ini, Kynnan?” tanya Elena tidak mengerti. “Perjanjian,” jawab Kynnan singkat. “Tujuanku mengadopsimu adalah untuk menikah.” “Me-menikah?” Kynnan mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Elena. “Apa kau bersungguh-sungguh?” “Ya, namun pernikahan ini hanya akan berjalan selama dua tahun. Selama itu pula kita akan menjalin hubungan sebagai suami dan istri yang sah dimata hukum dan agama. Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan namun harus tetap menuruti apa yang tertulis dalam perjanjian itu,” Kynnan berhenti sebentar untuk memastikan Elena mengeti apa yang ia ucapkan. “Setelah dua tahun, kita akan bercerai dan akan menjalani kehidupan seperti biasanya. Kau boleh tetap tinggal disini atau kembali ke panti asuhan tempat kau berasal, itu semua terserah padamu.” Elena terdiam sejenak. Penyelidikannya sore tadi saat di panti menberikan hasil yang salah. Kynnan bukanlah seseorang yang sudah menikah dan belum memiliki anak, melainkan ia mengadopsinya justru karena ingin menikah. Sejauh ini Elena belum pernah berpikir bahwa ia akan menikah secepat ini. Elena merasa ia belum pantas untuk menikah, mengingat dirinya masih sangat muda; duapuluh dua tahun. “Bolehkah aku bertanya?” Elena membuka suara. “Silakan.” “Mengapa kau ingin menikah denganku? Ma-maksudku banyak perempuan diluar sana yang lebih pantas bersanding denganmu dibandingkan aku. Lagipula, aku tidak percaya lelaki sepertimu tidak memiliki seorang kekasih.” Kynnan tertawa kecil mendengar apa yang Elena katakan. “Permintaan orangtua. Aku harus melakukannya karena orangtuaku meminta agar aku bisa menikah secepatnya, dan aku memang tidak memiliki kekasih.” Elena kembali memandang Kynnan dengan pandangan menyelidik. Ia masih tidak percaya dengan ucapan Kynnan. Karena menurutnya jika Kynnan belum menikah, pasti ia memiliki seorang kekasih sempurna seperti para Victoria Secret angel atau malah memiliki banyak perempuan yang bisa ia pilih sesuai dengan kemauannya. “Ayolah Elena, jangan memandangiku seperti itu. Aku bersumpah,” Kata Kynnan akhirnya menyerah dengan pandangan menyelidik dari Elena. “Jadi, bagaimana? Apa kau setuju?” Elena menghela napas panjang sebelum menjawabnya. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau keputusan yang ia buat adalah keputusan yang benar. “Baiklah, aku akan membantumu memenuhi permintaan orangtuamu. Aku mau menikah denganmu.” Jawab Elena. “Sekarang tolong jelaskan setiap poin yang ada dalam perjanjian ini.” Senyum Kynnan mengembang mendengar Elena setuju untuk menjalani pernikahan yang ia katakan. Segera Kynnan meraih kertas yang berada dihadapannya dan mulai menjelaskan isi perjanjian yang telah ia buat. “Pertama, pernikahan akan dilangsungkan dua hari setelah kita bertemu. Kedua—” “Tunggu,” Elena menyela omongan Kynnan. “Bukankah itu terlalu cepat? Aku perlu mengenal calon suami dan seluruh keluarganya sebelum pernikahan berlangsung.” “Satu minggu?” “Oke. Silakan lanjutkan.” “Kedua, kita akan tetap tidur di kamar yang berbeda. Ketiga, kau tidak boleh keluar rumah tanpa seizinku. Keempat, kau harus diantar dan ditemani Taylor—asisten serta supirku kemanapun kau pergi. Kelima, kau tidak boleh membersikan rumah ataupun masak karena itu sudah merupakan tugas Bibi. Dan keenam, kau harus mengatakan semua hal baik tentang hubungan kita berdua dihadapan semua orang.” “Lalu apa yang harus aku lakukan kalau aku tidak boleh membantu Bibi? Tidur sepanjang hari?” tanya Elena. “Kau bebas melakukan apapun. Berenang, menonton televisi, membaca majalah, atau tidur sepanjang hari seperti yang kau katakan.” Jawab Kynnan. “Sungguh itu sangat membosankan.” Bibi menyerahkan selembar kertas bermaterai dan sebuah pulpen pada Elena. “Kau perlu menandatangani kertas itu sebagai tanda kau setuju dengan semuanya.” Kata Kynnan menjelaskan. Jauh didalam hati Elena masih bimbang apakah keputusannya ini benar, namun ia kembali meyakinkan dirinya sendiri kalau ia melakukan semua ini hanya untuk membantu Kynnan. Lagipula, ia tidak dirugikan dalam hal apapun. Elena mengambil pulpen dan menandatangani kertas perjanjian itu kemudian kembali menyerahkannya pada Bibi. Bibi pun beranjak menuju tempat Kynnan dan ia juga melakukan hal yang sama; menandatanganinya. “Cukup untuk malam ini, kau bisa kembali ke kamar untuk beristirahat. Besok kau bisa mengelilingi rumah ini agar bisa lebih merasa nyaman, sore harinya kita akan kembali bertemu untuk mengobrol dan dua hari lagi kau akan kukenalkan pada kedua orangtuaku, agar kau bisa lebih mengenal calon suamimu dan keluarganya.” Kata Kynnan lalu bangkit dari kursinya. “Selamat malam, Elena.” “Selamat malam, Kynnan.” Jawab Elena seiring dengan Kynnan yang meninggalkan ruang makan. Elena bangkit dari kursinya dan berjalan kembali ke kamar. Ia baru menyadari kalau kamarnya cukup luas, mungkin sebesar ruang pertemuan yang ada di panti. Kamar Elena menggunakan cat berwarna coklat muda, dan memiliki banyak lampu. Sebelum ia mandi, Elena memilih untuk menyusun pakaian miliknya kedalam lemari panjang yang ada di sudut ruangan dekat dengan pintu kamar mandi. Namun saat ia buka, lemari itu penuh dengan berbagai macam pakaian wanita. Mulai dari pakaian sehari-hari sampai dengan gaun mewah yang Elena pastikan harganya sangat mahal. Elena keluar dari kamarnya untuk menemui Kynnan, namun ia masih belum mengetahui yang mana kamar milik Kynnan. Ia memilih untuk ke dapur untuk menemui Bibi untuk menanyakannya. “Bibi,” Panggil Elena. “Apa ada yang pernah tinggal di kamarku sebelumnya?” “Tidak. Ada apa, nona?” Jawab Bibi sembari mengeringkan tangannya. “Aku ingin merapikan baju-bajuku kedalam lemari, namun saat kubuka ada banyak sekali baju didalam sana.” “Oh, itu semua milik nona Elena. Baru tadi pagi saya rapikan.” “Tapi itu semua bukan milikku,” Elena tahu pasti ini semua Kynnan yang melakukannya. “Boleh saya tahu dimana kamar Kynnan?” “Boleh, namun besok pagi. Saat ini Tuan Kynnan tidak bisa diganggu.” “Baiklah,” jawab Elena pasrah. “Selamat malam, Bibi.” “Selamat malam, nona Elena.” Elena kembali ke kamarnya dan kembali berdiri dihadapan lemari yang sedari tadi terbuka memperlihatkan pakaian yang merupakan ‘milik Elena’. Sedetik kemudian Elena menutup rapat lemari itu dan memilih menggunakan pakaian yang ia bawa dari panti untuknya tidur malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN