Pertemuan Nasib
PROLOG
Erwin melihat istrinya, Saras, telah menantinya di ambang pintu rumah. Wajahnya sekecut mempelam muda.
“Dari mana kamu, Mas?” suaranya setengah melengking.
Erwin tak menjawab. Ia hanya menatap istrinya dengan sorot mata penuh rasa bersalah.
“Dari menjenguk mantanmu lagi, kan?” Suara Saras menuduh.
Sorot matanya tajam seolah ingin menusuk Erwin tepat di ulu hati. Selepas menancapkan ucapan itu ke benak Erwin, Saras masuk ke dalam rumah.
Erwin mengikuti istrinya masuk. Tak baik bila tetangga sampai melihat pertengkarannya dengan Saras.
Saras berlari memasuki kamarnya. Ia menumpahkan tangis di atas bantal. Sebentar saja sarung bantal telah basah oleh deraian air mata Saras.
Erwin menyusul istrinya ke dalam kamar. Ia duduk dalam diam di samping tubuh Saras. Terpekur ia menatap bantal dan istri yang telah menemaninya dengan setia selama lima tahun terakhir.
Setengah jam Erwin menunggui istrinya menangis. Setelah merasa lebih tenang, Saras berbalik menatap tajam suaminya.
“Kenapa kamu tega, Mas? Kenapa selalu menemuinya? Dia sudah memilih orang lain sebagai suami,” suara Saras penuh derita.
Erwin lagi-lagi diam. Ia hanya menunduk seperti kerbau dicocok hidung.
“Jawab, Mas!” Desak Saras semakin marah.
“Aku harus bilang apa lagi, Dik? Aku jelas bersalah sama kamu,” lirih suara Erwin.
Saras menghela napas kesal. Selalu hal ini yang terjadi. Setiap kali ia marah tentang mantan kekasih Erwin, Erwin selalu menerima kesalahannya, meminta maaf, tapi tak menghentikan perbuatan yang membuat Saras terluka. Saras benar-benar kehabisan ide untuk menghadapi sikap Erwin ini.
“Aku mohon, Mas. Berhentilah menemui dia. Apakah demikian sulit melakukan itu?” Air mata Saras kembali berlinang.
“Aku nggak bisa, Dik. Maafkan Mas...” Erwin semakin menunduk dalam. Wajahnya terlihat penuh sesal.
“Kenapa, Mas? Kenapa???” teriak Saras. Ia melempar Erwin dengan bantal yang telah basah dengan air matanya.
Kemudian, kepalan-kepalan tangannya menghantam d**a Erwin bertubi-tubi. Raungan tangisnya kembali terdengar, setengah histeris meningkahi pukulan-pukulan kedua tangannya.
Erwin sama sekali tak melawan. Ia juga tak menghindar. Ia biarkan istrinya menumpahkan segala rasa lewat pukulan-pukulan di d**a bidangnya. Ia tahan semua rasa sakit akibat pukulan itu dengan memejamkan kedua matanya.
Tatkala dirasakannya pukulan Saras mulai melemah, Erwin menangkap kedua tangan Saras. Kemudian ia peluk Saras dalam dekapannya. Ia cium ubun-ubun perempuan yang sangat dikasihinya itu. Sementara isak tangis Saras tumpah ruah di dadanya.
“Lupakan dia, Mas. Lupakanlah... Lupakanlah perempuan itu,” Suara Saras semakin lirih seperti igauan, sebelum akhirnya ia pingsan di pelukan suaminya.
***
Saras ingat betul peristiwa ia dan Erwin pertama kali bertemu tujuh tahun yang lalu.
Brakkk!
Sepeda motor matic milik Saras terpelanting, kemudian dalam posisi terjatuh di jalan, berputar di tempat dengan deru mesin yang masih menyala. Untuk sesaat, tubuh Saras melayang di udara, sebelum akhirnya terempas bersama sepeda motornya ke bawah. Saras terkapar di jalanan beraspal, setelah sepeda motornya ditabrak lari oleh seorang pemuda berangasan tak bertanggung jawab.
Jerit terkejut dan kengerian terlontar dari mulut para pengguna jalan dan pejalan kaki yang menyaksikan kejadian itu. Hampir semua orang terpana, melihat sepeda motor dalam kecepatan tinggi yang dilarikan dengan ugal-ugalan menyenggol sebuah motor matic yang dikendarai seorang perempuan. Lepas menabrak, pengendara motor langsung kabur dengan kecepatan tinggi. Dalam sekejap, sosok motor itu hanya tinggal titik di kejauhan yang meninggalkan kepulan asap di belakangnya.
Beberapa orang mengambil ponsel dan mengabadikan kejadian itu. Sebentar lagi, peristiwa kecelakaan lalu lintas itu pasti tersebar di dunia maya dalam hitungan menit. Sementara Saras kesakitan hampir pingsan di tengah jalan, tak seorangpun yang menolong.
Akhirnya, seorang pengendara motor yang baru saja lewat menghentikan mesin motornya di tepi jalan. Tergopoh-gopoh ia mendekati Saras, kemudian mengajak beberapa orang lelaki yang menonton untuk turut membantu.
“Tolong bopong korban, Pak!” Teriaknya tegas kepada beberapa lelaki yang sedari tadi terbengong di tepi jalan.
Seolah baru ditempeleng, beberapa lelaki tersebut tersadar. Bergegas mereka mendekati Saras yang terkulai sambil menutup mata.
“Cepat, bawa ke rumah sakit,” kata seorang bapak paruh baya berkemeja batik. Ia membuka pintu belakang mobilnya untuk ditumpangi Saras.
Diantar oleh bapak berkemeja batik dan sang pengendara motor, Saras dilarikan ke rumah sakit. Adapun sepeda motor milik Saras yang penyok parah dan sepeda motor pengendara baik hati, dititipkan ke sebuah warung yang berada di pinggir jalan di dekat tempat kejadian. Semua itu diurus oleh si pengendara motor.
Si pengendara motor turut di dalam mobil untuk mengantar Saras ke rumah sakit. Saat ia melihat kelopak mata Saras bergerak-gerak dan membuka sedikit, cepat ia bertanya.
“Kamu nggak apa-apa, Dik?” Suara si pengendara motor terdengar penuh perhatian dan rasa khawatir yang tinggi terhadap Saras.
Saras tak mampu menjawab. Jangankan berbicara, untuk membuka mata saja ia merasa lemah luar biasa. Gerakan terbaik yang dapat dilakukannya saat ini hanya menggerak-gerakkan bulu mata.
Kepala dan beberapa bagian tubuhnya yang lain terasa seperti dihantam gada. Saras terbujur. Hanya gerakan bulu mata dan napasnya yang terdengar halus yang menjadi penanda bahwa ia masih hidup.
“Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, Dik. Kamu pasti kuat sampai di sana,” hibur si pengendara motor.
Meskipun Saras tak menjawab, tapi ia mendengar semua perkataan itu. Rasa sakit di tubuhnya mendapat pelipur yang menenteramkan hati.
***
Saras diopname selama beberapa hari di rumah sakit. Ada bagian tulangnya yang retak dan perlu digips. Semua urusan di rumah sakit diurus oleh si pengendara motor yang berbaik hati.
Kemudian Saras tahu, lelaki baik hati itu bernama Erwin. Seorang ASN di kantor pemda setempat. Erwin yang wira-wiri mengurus urusan administrasi dan birokrasi di rumah sakit.
Semua itu Erwin lakukan, setelah ia mengetahui bahwa Saras tinggal seorang diri di kota ini. Keluarganya semuanya berada di Purworejo. Ia tinggal di sebuah rumah kos bersama beberapa orang teman. Sehari-hari ia bekerja sebagai pegawai staf administrasi di sebuah pabrik sepatu terbesar di kota ini.
Keluarga Saras yang dihubungi tak dapat datang sampai esok lusa. Oleh karena itulah, Erwin berinisiatif untuk menjadi wakil dari keluarga Saras di kota ini.
“Makasih banget, Mas. Padahal Mas nggak kenal saya,” ucap Saras lirih setelah kondisinya semakin membaik.
Erwin tersenyum. Senyum paling menawan yang pernah Saras lihat. Senyum tulus seorang yang tanpa pamrih.
“Nggak apa-apa, Dik. Kebetulan saya punya waktu dan kesempatan untuk menolong Dik Saras,” ucapnya lembut.
“Gimana dengan keluargamu, Mas? Istri dan anakmu?” Pancing Saras.
“Waduh, apa aku sudah terlihat seperti bapak-bapak? Aku masih free kok, Dik,” jawab Erwin kalem.
Sepertinya, saat itulah awal mula Saras jatuh cinta kepada lelaki itu. ***