Erwin melihat istrinya, Saras, berdiri di ambang pintu dengan wajah keruh lagi masam. Seketika Erwin sadar sebentar lagi akan terjadi pertengkaran hebat. (Baca kembali bagian prolog sebelum melanjutkan baca Epilog). Erwin membaringkan tubuh Saras yang pingsan ke kasur. Dengan penuh kasih, ia betulkan letak tangan dan kaki Saras di tempat tidur, kemudian ia selimuti istrinya. Erwin memutuskan untuk menunggui Saras yang pingsan. Sedikit pun ia tak beranjak dari sisi Saras. Ia malah membelai-belai wajah dan kepala Saras, kemudian ia mencium ubun-ubun istrinya yang terkasih. “Aku sayang kamu, Dik. Selalu sayang,” ucap Erwin lirih di dekat telinga istrinya. Ia tak peduli Saras tak mendengar ucapannya, karena baginya yang terpenting ia mengungkapkan rasa. Ia pandangi lekat wajah Saras. Ter
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


