Telepon Mamah

1762 Kata

Saras memasuki kamar mandi dengan hati yang galau. Ia berharap, air akan meluruhkan segala resah yang sedang singgah. Usai mandi, Saras salat seorang diri. Setelah itu, barulah ia membangunkan Erwin. “Mas, bangun. Sudah hampir fajar,” ujar Saras lembut. Ia mengguncangkan pundak Erwin, bahkan menepuk pipi Erwin beberapa kali. Erwin membuka sebelah matanya, lalu tersenyum sebelum kembali memejam. “Nanti terlambat, Mas,” kata Saras lagi. Malas-malasan, Erwin bangkit dan menuju kamar mandi. “Dik, tolong handuknya. Aku lupa,” kata Erwin dari dalam kamar mandi. Buru-buru Saras mengambil handuk bersih dari dalam lemari. Ia ulurkan handuk itu di depan pintu. “Kamu sudah mandi belum, Dik,” bisik Erwin saat menerima handuk. Anggukan Saras membuat Erwin kecewa. “Tadinya aku mau ngajak mand

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN