"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu, sih?" Aku yang baru kembali dari kamar mandi masih dengan handuk yang membalut tubuh, merasa sedikit tak nyaman kala menyadari Mas Arkan tak berhenti menatapku. "Emang nggak boleh?" sahut suamiku cepat. Pria tampan bertubuh proporsional yang kali ini tampil tanpa kacamata, ketampanannya seakan naik berkali-kali lipat setelah aku dan dirinya saling menyatakan cinta. "Boleh, sih. Tapi ya jangan diliatin terus. Aku, 'kan jadi malu," balasku sembari menyambar piyama satin lengan panjang yang sempat aku gantung ketika mengganti pakaian dengan baju tidur seksi tadi. "Udah nggak gerah?" ledek Mas Arkan yang sontak membuat pipiku terasa memanas karena malu. "Ih … apaan, sih?" Aku bersungut-sungut kesal sebelum memakai kembali pakaian lengkap dan merangkak naik

