Epilog

649 Kata

17, 5 tahun kemudian PoV Dani Bagaimana rasanya memiliki seorang adik lelaki yang kepandaiannya di atas rata-rata? Bisa dibayangkan? Itu yang aku rasakan sekarang. O tidak. Dia bukan cuma pandai, tapi juga ambisius. Entahlah, dapat turunan sikap dari mana adikku yang satu itu. "Nara, besok kalau sudah besar contoh Mas Zidan, ya." Tante Mayang yang sore ini datang ke rumah bersama putrinya, menunjuk pemuda berusia 18 tahun berkacamata minus yang telah duduk di bangku kuliah semester enam dan selama ini begitu dibanggakan oleh ayahnya. Wajar Ayah bangga. Dia memang cerdas. Dari SD, SMP, sampai sampai SMA selalu masuk kelas akselerasi. Wajar juga jika semua orang mengagungkannya. Di usianya yang relatif muda bahkan gelar sarjana kedokteran sudah ada di depan mata. "Aku pergi dulu."

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN