[Selamat, ya, Mas. Semoga pernikahan kalian bahagia.] Setelah menidurkan Riana, dengan jemari bergetar dan bahu berguncang serta perasaan yang mengharu biru, kukirimkan pesan WA di malam hari pernikahan Mas Pram dengan Mila. Ya, sebulan setelah resmi menjadi duda, hari ini, mantan suamiku resmi melepas masa dudanya dengan menikahi wanita yang tak lain dan tak bukan adalah menantu idaman mantan ibu mertuaku. [Bagaimana aku bisa bahagia, Lis? Sedangkan kebahagiaanku ada pada dirimu dan Riana.] Tak menunggu waktu lama, pesan yang kukirimkan mendapatkan balasan. Balasan yang bagiku justru membuat hatiku pedih dan porak poranda. Bukankah sudah jelas kalau kami saling mencintai? Berlinang air mataku mengeja kata demi kata dari pesan balasan yang Mas Pram kirimkan untukku. Pesan yang dikirimka

