"Mas." Aku buru-buru mengejar langkah Mas Arkan saat rasa tak tenang ini makin merajai hati. "Apa?" Mas Arkan tampak santai saat menolehkan wajah ketika tangannya tengah memutar kenop pintu ruang tamu. "Mau ke mana kamu sebenarnya?" cecarku dengan perasaan kesal yang sedari tadi belum beranjak. "Bukannya ... tadi kamu sudah tahu jawabannya?" Seperti sebelumnya, Mas Arkan menanyakan dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kamu egois, Mas!" Tanpa bisa terkontrol, aku yang sudah menahan rasa dongkol sedari tadi, mengolok suamiku dengan suara yang cukup lantang. Tidak, bukan sedari tadi rasa dongkol ini ada. Bahkan, sudah aku rasakan berhari-hari lamanya. "Egois bagaimana, sih?" Mas Arkan tampak begitu santai ketika melontar tanya. Bagaimana aku harus menjawabnya? Tidak lucu rasanya kalau aku

