Bab 5. Mengenal Bu Mur

1046 Kata
Lelah jiwa raga, saat ini yang Nayyara rasakan. Kepalan pening sekali, lantai yang dipijaknya seakan bergoyang. Tangisnya masih belum reda, suara ketukan di pintu toilet sedikit membuatnya terkejut, tersadar kalau saat ini bukan tempat dan waktu yang tepat untuk meratapi nasibnya. Gegas Nayyara membenahi penampilannya yang kacau. Berulanh kali dibasuh wajah cantik naturalnya, walau tanpa make up. "Iya, sebentar selesai," jawab Nayyara sambil membetulkan tatanan rambutnya yang tadi sempat jadi pelampiasan kemarahannya. "Nay ... Are you okey?" Tanya Vivi, teman dekatnya selama magang di Seung Caffe. "Aku baik-baik saja, Vi. Hanya sedikit melow karena ini hari terakhir aku di sini. Pasti akan kangen kamu juga sama yang lainya," jawab Nayyara beralasan. Tak dipungkiri Vivi pasti melihat jejak tangis di wajahnya. "Uluh ... Uluh ... Sini peluk dulu, kita masih bisa temenan kan walau kamu udah nggak di sini. Lagian kamu juga kenapa nggak terima aja tawaran Bu Enggar untuk tetap bekerja di sini. Tinggal tanda tangan kontrak, udah deh jadi karyawan tetap." Vivi merengkuh tubuh Nayyara ke dalam pelukannya. Mungkin kalau tidak ada kejadian nahas malam itu Nayyara saat ini sedang menandatangi surat perjanjian kontrak kerja dengan Seung Caffe. Dari awal mendapat tawaran Mbak Enggar untuk magang di Seung Caffe, Nayyara sudah sangat senang. Terlebih dirinya jug berkesempatan belajar meracik menu yang disediakan. Chef Nardi tidak pelit ilmu, bahkan ketika mengetahui Nayyara punya bakat memasak dan semangat belajar yang tinggi, bapak dua anak itu langsung meminta Nayyara menjadi asistennya beberapa kali. "Hei, malah bengong." Vivi menjentikkan jarinya tepat di depan wajah cantik Nayyara. "Eh, sorry. Yuk ke depan, Randi pasti kerepotan kita malah asyik ngerumpi di sini." Nayyara menarik lengan Vivi, berusaha bersikap sewajar mungkin. Tak mau menimbulkan kecurigaan teman-temannya terutama Mbak Enggar, kalau sebenarnya saat ini dirinya sedang menyimpan masalah rumit dalam hidupnya. "Dih berdua, malah baru nongol. Dari mana? Nih depan ramai pengunjung," tergur Randi begitu mereka berpasan. Nayyara dan Vivi bergegas melanjutkan pekerjaannya. Seung Caffe memang tidak pernah sepi pengunjung. Mau weekend atau weekday tetap saja ramai. Tanpa terasa malam semakin larut. Sudah waktunya untuk mengakhiri semua aktivita di caffe. Nayyara sedang menunggu ojek online yang sudah dipesannya. Vivi sebenarnya tadi menawarkan tumpangan, hanya saja Nayyara menolak. Dia masih ingin menikmati udara malam. Karena tetiba saja gadis berambut panjang itu ingin pergi ke pasar malam, menikmati semangkuk wedang asle dan siomay tentu nikmat. Membayangkan saja, Nayyara sampai menelan ludahnya berkali-kali. Angin malam berhembus sepoi-sepoi, dewi malam menampakan bentuknya dengan sempurna. Nayyara duduk termenung di bangku taman. Tangannya masih memegang sterofoam yang berisi siomay Bandung dengan bumbu kacang yang pekat dan terasa pedas. Perlahan dan pasti telapak tangan halus itu mengusap perutnya yang masih rata. "Apa yang harus aku lakukan sekarang dengan mu? Kamu hanya korban sama sepertiku," ucap Nayyara pada benih Shakil yang telah bersemayam dalam rahimnya. "Aku saja besok sudah jadi pengangguran, untuk biaya hidupku sendiri saja aku masih pontang-panting kerja, lalu bagaimana kalau ditambah dengan kehadiranmu," lanjut Nayyara sambil membuang napas, seakan sedang membuang beban berat dari hidupnya. Aroma siomay yang masih separuh kembali menyeruak ke hidung Nayyara, gegas dihabiskannya makanann khas dari Bandung itu, disusul semangkuk wedang asle yang sudah dingin, pertanda kalau si empunya membiarkannya cukup lama. Jam di layar ponsel sudah menampilkan angkan23.00. Nayyara langsung membereskan bungkus sisa makanan dan mengembalikan mangkuk asle pada pembelinya. "Mbak kalau ada masalah minta petunjuk sama Gusti Allah," ucap ibu penjual asle saat menerima mangkuk dari tangan Nayyara. "Eh ... Maksudnya?" "Ibu lihat dari sini, sepertinya Mbak sedang ada beban berat. Tampak gelisah, melamun, duduk juga tidak tenang. Maaf kalau Ibu sok tahu dan ikut campur. Jujur melihat senyum Mbak saat pesan asle tadi mengingatkan saya pada anak gadis saya yang sudah tiada," lanjut ibu berkerudung itu sambil mengusap air matanya. Dada Nayyara berdenyut nyeri mendengar perkataan wanita di hadapannya. Dirinya juga sudah kehilangan sosok orang tua, sedang ibu penjual asle ditakdirkan kehilangan anaknya. "Ibu boleh peluk saya, anggap saja sebagai pelepas rindu pada putri ibu." Dua wanita beda usia itu saling merengkuh. Nayyara sangat erat melingkarkan kedua lengannya pada tubuh wanita yang sedikit subur itu. Tanpa terasa wajah Nayyara sudah basah dengan air mata. Ternyata Allah masih sesayang itu pada dirinya, saat sedang butuh tempat untuk berbagai kersahan hati, Allah hadirkan sesorang yang bahkan tak dikenalnya. "Menangislah sampai hatimu lega," ucap ibu penjual asle sambil mengusap punggung Nayyara beberapa kali. Dan membuat Nayyara semakin terisak, tubuhnya bahkan sampai terguncang hebat. Cukup lama mereka saling menguatkan hanya lewat pelukan. Terkadang saat sedang menghadapi masalah, kita tak hanya butuh nasehat atau saran, sebuah pelukan justru obat paling mujarab untuk menenangkan kegundahan hati yang sedang melanda. "Terima kasih Bu, sudah memberikan saya pelukan yang begitu hangat. Rasa rindu saya pada almarhum ibu jadi terobati," ucap Nayyara tulus saat mengurai pelukannya. "Subhanallah, jadi ibumu juga sudah meninggal?" tanya ibu penjual asle tersebut, lalu merengkuh tubuh Nayyara lagi dalam pelukannya. "Kamu anak yang kuat dan hebat, semoga Allah senantiasa melindungi mu, memberikan petunjuk pada setiap permasalahan yang sedang kamu hadapi, Nak. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk dirimu." Lagi-lagi usapan lembut terasa di kepala Nayyara sampai punggungnya. Dan jujur saat itu Nayyara menemukan kembali kehangatan sosok ibu dari wanita yang begitu tulus memberikan pelukannya. "Sekali lagi terima kasih, Bu." "Rumah kamu di mana? Jam segini kok belum pulang, apa pulang kerja terus mampir ke sini?" tanya ibu penjual asle. "Di Banjarsari Bu. Saya memang baru pulang kerja, tadi tiba-tiba pengen siomay dan asle, makanya mampir ke sini," jawab Nayyara dengan senyum menghias wajah cantiknya. "Nama kamu siapa, panggil saya Bu Mur saja ya. Kalau memang pengen asle mampir ke sini. Setiap sore sampai malam ibu jualan di sini. Kalau bapak mangkalnya depan kantor Brimob Manahan sana." Bu Mur masih membelai rambut Nayyara, menatapnya dengan tatapan penuh kasih. "Saya Nayyara, Bu. Panggil Nay saja. Insyallah kalau pas senggang saya main ke sini. Ibu tinggal di mana? Siapa tahu pas Nay lewat bisa mampir, atau kalau ibu senggang bisa main ke rumah Nay." Entah kenapa Nayyara merasa cocok dan nyaman dengan Bu Mur. Nayyara sebenarnya tipe orang yang susah beradaptasi dengan orang baru tapi, dengan Bu Mur yang baru beberapa waktu dikenalnya Nayyara sudah begitu terbuka. Mungkin karena sedang butuh tempat berbagi beban, dan kebetulan Bu Mur juga menyambut baik, salah satu yang membuat Nayyara bisa nyaman seperti sekarang. "Nay ... Ngapain di sini malam-malam?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN