"Ran, Pak Shakil ada nggak di ruangannya?" Nayyara baru saja selesai bersiap-siap di ruang khusus karyawan, dan di sana juga masih ada Randi, yang merupakan partner kerjanya.
"Ada, baru saja datang sebelum kamu. Ada perlu?"
"Mau kasih ini." Nayyara menunjukan surat pengunduran dirinya.
"Kamu beneran nggak mau lanjut kontrak? Sayang lo Nay, kata Bu Enggar kinerja kamu bagus. Udah lanjut kontrak aja, biar kita bisa sama-sama terus," pinta Randi yang memang sudah merasa cocok kerja bareng Nayyara.
"Kita masih bisa berteman walau aku udah nggak kerja di sini, Ran. Aku ke ruangan Pak Shakil dulu ya. Nanti aku bantu, masih ada waktu beberapa jam ke depan aku kerja di sini."
"Oke deh."
Langkah kaki Nayyara melambat saat pintu ruangan atasannya sudah di depan mata. Enggan rasanya harus memasuki tempat yang membuat keringat dinginnya membanjir. Kedua tangan Nayyara terasa dingin dan saat ini saling meremas, degup jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Kedua matanya terpejam sempurna, lalu dibuangnya napas dengan kasar.
"Aku nggak boleh lemah, aku harus bisa melawan ketakutanku. Aku hanya korban, jadi nggak perlu ada yang aku takutkan." Nayyara berusaha mentreatmen dirinya sendiri supaya lebih siap menghadap Shakil di dalam ruangannya. Dengan tekat yang sudah bulat, Nayyara mengetuk pintun di hadapannya. Suara perintah terdengar lantang dari dalam ruangan.
"Permisi Pak, maaf menganggu." Nayyara sudah berdiri di hadapan Shakil.
"Ada apa?" ucap Shakil dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Nayyara hanya bisa memejamkan mata dengan sikap Shakil.
"Ini surat pengunduran diri saya, Pak. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan magang di Seung Caffe, dan mohon maaf jika selama saya bekerja banyak kekurangan dan melakukan kesalahan," terang Nayyara meletakan amplop di hadapan Shakil.
Nayyara sempat bimbang saat akan menyerahkan test pack yang sudah dibawanya pada Shakil. Gadis bermata bambi itu tetiba digerayangi rasa ragu. "Kalau dia nggak mau tanggung jawab gimana ya?" Suara batin Nayyara sangat penuh ketakutan dan kebimbangan.
"Ada yang mau dibicarakan lagi?" Suara berat Shakil menyadarkan Nayyara dari lamunannya.
Dengan tekad yang sudah dibawanya dari rumah tadi, walau keringat semakin membanjir di sekujur tubuhnya. Nayyara mengeluarkan empat alat tes kehamilan dari saku apronnya. "Bismillah, bantu aku ya Allah," rapal batin Nayyara.
"Dan ini hasil tes kehamilan saya pagi ini. Saya harap Bapak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah Bapak lakukan terhadap saya,"lanjut Nayyara meletakan empat tes pack yang tadi digunakannya.
Shakil yang baru selesai membaca surat pengunduran diri Nayyara dan kembali memasukan ke dalam amplop, seketika mengangkat wajahnya. Menatap tajam pada gadis di hadapannya lalu memandang benda-benda berbentuk seperti stik yang berjajar rapi di atas meja.
"Maksud kamu apa?" tanya Shakil dengan sikap yang sok polos, seakan tidak pernah melakukan kesalahan terhadap karyawan di hadapannya itu.
Nayyara menghela napas, lalu membuangnya kasar. Coba melawan tatapan sinis berbungkus ketidak senangan dari lelaki yang telah merenggut masa depannya. "Kamu bisa Nay, jangan lemah di hadapan lelaki jahat seperti dia," ucap batin Nayyara.
"Saya mengandung anak Bapak, atas perbuatan Bapak satu bulan lalu terhadap saya di ruangan ini. Apa Bapak sudah lupa? Anda menyeret saya, memaksa saya melayani nafsu Anda, bahkan tangisan dan permohonan saya tidak Anda gubris sama sekali. Lupa dengan semua itu? Kalau Bapak perhatikan dengan saksama, bahkan di sofa itu, masih ada noda darah keperawanan saya yang sudah mengering." Nayyara sangat geram kalau harus menjelaskan ulang kejadian laknat itu yang otomatis akan merangkai ingatan buruknya di ruangan ini.
"Kamu yakin itu anak saya?" tanya Shakil sarkas dengan salah satu sudut bibir terangkat.
"Saya memang miskin, Pak tapi, saya tidak pernah diajarkan melakukan hal yang jelas melanggar syariat. Anda yang pertama kali menyentuh saya, merenggut kehormatan saya, menghancurkan masa depan saya, saya ini korban keiadaban Anda, kenapa masih saja menyangkal?" Nayyara mulai meninggikan suaranya. Sudah tidak peduli kalau apa yang dia katakan terdengar sampai ke luar. Hatinya semakin terluka dengan ucapan Shakil, amarahnya terpancing.
"Saya tidak pernah berniat menyentuhmu. Jujur malam itu saya susah sekali mengendalikan hawa panas dalam tidak tubuh saya. Pasti ada seseorang yang mencampur obat dalam minuman saya. Atau jangan-jangan kamu sendiri yang merencanakan semua ini?" tuding Shakil tanpa perasaan.
Suara tamparan terdengar nyaring di ruangan yang hanya ada dua anak manusia beda gender dan sedang bersitegang. Nayyara menampar pipi Shakil sekuat tenaga, menyebabkan pemilik Seung Caffe itu sampai terhuyung ke samping.
"Kamu ...."
"Anda sudah sangat keterlaluan! Semua perlakuan Anda terhadap saya satu bulan lalu sampai saat ini, pasti akan mendapat karmanya. Ingat hukum tabur tuai, Pak. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya terdzolimi. Saya terima kalau memang Bapak tidak mau bertanggung jawab atas janin yang saya kandung. Suatu saat Bapak akan menyesal sampai menangis darah karena sikap Bapak hari ini." Amarah Nayyara meledak bagai bom yang menghancurkan wibawa, harga diri Shakil.
"Satu hal lagi. Anda juga terlahir dari rahim seorang perempuan, dan suatu saat akan menjadi ayah dari seorang anak perempuan. KARMA ITU NYATA, DAN TAK SEMANIS BUAH KURMA, BAPAK SHAKIL YANG TERHORMAT," lanjut Nayyara penuh penekanan diakhir kalimat.
Tanpa menunggu lebih lama, Nayyara bergegas meninggalkan ruangan yang oksigennya justru membuat dadanya sesak napas.
"Tunggu!" pinta Shakil pada Nayyara saat gadis itu hampir mencapai pintu.
"Gugurkan saja, ini ada uang kamu bawa." Nayyara langsung membalikan badan, langkahnya cepat menuju Shakil yang lagi-lagi menyelesaikan segala sesuatu dengan uang. Bahkan nyawa calon darah dagingnya sampai harus dihilangkan.
"DASAR LAKI-LAKI PENGECUT, b*****t!" teriak Nayyara sambil menerjang Shakil, hingga tubuh pemilik Seung Cafe itu terjungkal ke belakang.
"Mampus aja kamu!" Nayyara memukul wajah Shakil berulang kali, dengan posisi didirnya di atas tubuh lelaki itu yang terlentang di atas lantai.
"Lepaskan!" bentak Shakil sambil mendorong tubuh Nayyara supaya menyingkir dari atas tubuhnya namun, Nayyara bergeming. Masih melakukan aksinya, malah tambah semangat membuat wajah tampan Shakil terlihat memar di beberapa bagian.
"Atau kamu sengaja memancing saya, supaya terulang kejadian malam itu lagi?" ucap Shakil yang langsung menghentikan perbuatan Nayyara. Seketika gadis itu bangkit dari posisinya dan beranjak keluar ruangan Shakil. Langkahnya cepat menuju toilet khusus karyawan cafe.
"Dasar gadis sialan!" umpat Shakil begitu Nayyara menghilang dari pandangannya. Entah kenapa tubuh Shakil langsung bereaksi saat bersentuhan dengan Nayyara terlebih dalam posisi intim seperti tadi, dan naluri kelelakian Shakil menuntut melakukan lebih, hingga dirinya reflek mengucapkan hal itu.
Shakil merapikan penampilannya yang kacau akibat ulah Nayyara, dipandanginya alat tes kehamilan yang masih tertinggal di atas meja kerjanya. Dengan membuang napas kasar, tangannya meraih benda-benda tersebut dan membuangka ke tempat sampah. Lalu beranjak ke dalam kamar mandi yang ada dalam ruangannya. Membersihkan diri sekaligus meredakan gejolak yang timbul akibat ulah karyawan magangnya tadi.
Pikiran Shakil tiba-tiba tertuju pada Nayyara, saat mengoleskan salep di beberapa luka lebam akibat perbuatan gadis bar-bar tadi. "Kenapa dia selalu menolak saat aku beri uang. Lalu apa motif sebenarnya saat dia sebagai menjebakku? Atau dia hanya ingin aku nikahi? Licik sekali kalau memang seperti itu keinginannya," guman Shakil sambil terus menatap wajah tampannya dari pantulan cermin.
Sementara itu di toilet karyawan, Nayyara menangis sejadi-jadinya. Kedua telapak tangannya menutup mulut, sekadar meredam suara tangisnya. Dia tidak mau teman-teman kerjanya atau bahkan Mbak Enggar sampai tahu dirinya sedang dalam keadaan kacau begini. Akan sangat mencurigakan, sehabis menemui pemilik caffe kenapa malah menangis begini.
"Nay... Kamu di dalam?"