Aktifitas Seung caffe hari cukup sibuk. Dua kali dalam sehari caffe yang mengusung konsep Korea itu dijadikan tempat untuk merayakan ulang tahun pelanggannya. Selain menambah pemasukan yang jelas pekerjaan para karyawannya juga bertambah. Bahkan ada beberapa orang sampai harus lembur karena dianggap mumpuni dalam mengerjakan tugasnya. Begitupun Nayyara yang langsung menyibukkan diri begitu keluar dari ruangan Shakil.
Sementara dalam ruang kerjanya, Shakil mengambil gumpalan kertas cek yang tadi dilempar Nayyara tepat mengenai wajahnya. Lalu kembali melangkah ke kursi kerjanya. Menyimpan lembaran cek yang sudah kembali menjadi lembaran namun, tampak kusut bentuknya karena bekas diremas Nayyara.
"Kenapa gadis itu bersikukuh tidak mau menerima uang ini. Apa memang benar aku yang salah dan memaksa dia?" Pikiran Shakil masih berkecamuk tentang kejadian yang luar biasa dalam hidupnya. Suara ketukan di pintu menyadarkan Shakil dari lamunan panjangnya.
"Masuk!"
"Sore Bro ... kerja terus, kurang banyak ya duitmu?" sapa lelaki yang baru saja berpapasan dengan Nayyara pada Shakil.
"Biasakan ucapkan salam. Mumpung masih muda dan sehat, nanti saat tua tinggal menikmati hasilnya bersama istri tercinta." Shakil menyambut kedatangan tamunya dengan pelukan hangat.
"Sorry, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Dari mana? Mau kemana? Tumben-tumbenan Tuan Muda sudi mapir di warung hamba," jawab Shakil sambil terkekeh.
"Tuan muda palamu peang. Pengen main aja, kangen kopi racikan kamu. Bagaimana progres persiapan cabang Seung yang di Boyolali? Aku sempat lewat beberapa waktu lalu, lokasinya cukup startegi. Sepertinya bakal jadi tongkrongan anak muda juga."
"Alhamdulillah sudah 80% tinggal nunggu peralatan makan saja, juga khitcen set-nya. Nih, kopi special untuk Tuan Muda Kale Ganindra." Shakil meletakan dua cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap. Aroma kafein begitu candu untuk para pecinta kopi.
"Makasih, Bro. Kabar-kabar kalau sudah mau opening. Lebih dekat dari rumah soalnya, sering-seringlah ke sana nanti, biar kita juga bisa sering ngumpul bareng." Kale menyesap kopi hasi racikan Shakil, selalu terasa nikmat.
"Gampang, in sya Allah aku selalu muter ke cabang, paling tidak seminggu sekali. Demi kualitas bahan dan kepuasan pelanggan."
"O iya, perempuan yang baru keluar dari ruang ini tadi siapa, Shak?" Kale langsung bertanya begitu ingat tentang gadis yang hampir menabraknya di depan tadi.
"Ada apa memangnya sampai seorang Kale Ganindra menanyakan seorang karyawan ku?" jawab Shakil dengan satu alis terangkat.
"Pegawai baru? Terakhir ke sini sepertinya dia belum ada. Siapa namanya?" Kale jelas penasaran, karena pesona Nayyara sudah mengusik pemilik show room mobil mewah itu.
"Jangan karyawanku lah, Bro. Kasihan, mereka hanya orang biasa yang sedang berjuang demi bisa melanjutkan hidup. Masih banyak gadis lebih berkelas di luar sana yang bisa kamu nikmati." Shakil sangat paham, kalau Kale sudah menanyakan tentang seorang gadis, maka karibnya itu tertarik dan harus bisa membawanya k atas ranjang.
"Oke, demi persahabatan kita, aku tidak akan mengusik pegawaimu. Ya walau aku sedikit kecewa tapi, ya sudah lah. Aku hormati keputusanmu, Bro."
Perbincangan dua anak muda itu berlanjut seru, membahas topik-topik yang sedang hangat di dunia bisnis, politik, sampai tentang seorang penyanyi yang sempat ribut gegara sapi kurbannya.
***
Waktu berjalan semestinya, tanpa terasa masa magang Nayyara di Seung Caffe memasuki hari terakhir. Semalam Nayyara sudah menyiapkan surat pengunduran diri, dan akan mencari pekerjaan di tempat lain. Andai peristiwa nahas itu tidak pernah terjadi, mungkin hari ini Nayyara akan menandatangani surat kontrak kerja sebagai karyawan tetap di Seung Caffe.
Selesai membersihkan area dapur dan mengepel lantai, Nayyara bergegas mandi. Jangan sampai hari terakhir bekerja justru terlambat lagi.
"Aduh pakai ketinggalan lagi dalemanku," keluh Nayyara begitu selesai mandi tak mendapati pakaian dalamnya di kapstok kamar mandi.
Hanya dengan berbalut handuk, Nayyara bergegas masuk ke dalam kamarnya, beruntung dia tinggal sendiri jadi tidak terlalu rikuh saat harus dalam kondisi seperti ini. Sampai dalam kamar, Nayyara langsung mengambil pakaian dari dalam almari. Saat sedang memilih pakaian dalam pandangannya terganggu dengan sesuatu di bagian pojok tempat menyimpan underwear-nya.
"Kok masih utuh, dua bungkus lagi. Tanggal berapa ya ini?" Nayyara beranjak dari depan almari menuju ranjangnya. Setelah memakai pakaian lengkap, tangannya segera meraih kalender meja yang berada di atas meja riasnya.
"Hah ... udah akhir bulan? Kok aku belum haid juga? Apa jangan-jangan ...." Nayyara seketika panik. Bergegas disambarnya jaket juga sling bag dan langsung keluar rumah.
Jalan Nayyara sudah seperti orang yang takut ketinggalan kereta api atau pesawat. Sampai beberapa kali hampir menyenggol tetangga yang kebetulan berpapasan. Bahkan Nayyara juga menjawab sapaan para tetangganya dengan singkat. Tujuan utamanya adalah apotik yang terletak di depan gang rumahnya.
"Mbak beli tes pack," pinta Nayyara begitu berdiri di depan etalase apotik.
"Merek apa Mbak?"
"Semua merek yang ada masing-masing satu."
Langkah kaki Nayyara kembali berayun cepat. Kali ini bahkan sampai berlari kecil untuk pulang ke rumah, begitu mendapat barang yang dibutuhkan. Sampai di rumah segera Nayyar masuk kamar mandi dan menampung air seninya pada cawan kecil. Di masukan ujung alat tes kehamilan satu persatu, dari mulai harga termurah hingga harga termahal. Setelah semua ujung alat tersebut terbasahi oleh air seni, lalu diletakan berjajar pada sisi wastafel.
Gelisah dalam penantian, saat ini yang Nayyara rasakan. Jangan kan menunggu dua menit, sedetik saja rasanya seperti seratus tahun. Degup jantung Nayyara jangan ditanya lagi bagaimana kondisinya. Sudah tidak beraturan detaknya. Mungkin kalau diperiksa menggunakan EKG hasilnya akan seperti kurva, naik turun dengan lengkungan yang berjarak lebar. Suaranya juga mungkin udah seperti orkes dangdut keliling, brisik banget.
Tangan Nayyara gemetar saat matanya menangkap dua garis mulai terlihat samar pada alat tes kehamilannya. Tanpa membuang waktu, diambilnya satu tes pack yang berukuran paling besar. Garis dua mulai terlihat jelas di alat tes kehamilan. Rasa tak percaya Nayyara cukup tinggi dengan hasil tersebut. Diambilnya semua benda berbentuk pipih memanjang tersebut. Ditelitinya satu demi satu, dan semua menunjukan hasil yang sama.
"Arrrrg ... sialan!" teriak Nayyara nyaring sambil membanting semua tes pack yang menunjukan dua garis.
Tangan Nayyara bergetar hebat, tubuhnya juga kuyup oleh keringat dingin. Air mata sudah membanjir di wajahnya. Dua tangannya mengacak-acak rambutnya.
"Ya Allah kalau ada dosa tak termaafkan yang pernah aku lakukan, tolong ampuni aku tapi, jangan hukum aku dengan memberikan ujian seberat ini," rintih Nayyara dengan tangis semakin menjadi.
"Apa yang harus aku lakukan dengan keadaan seperti ini ya Allah? Bagaimana aku harus menjalani ini semua?" Raung Nayyara dengan sangat frustasi.
Entah berapa lama Nayyara meratapi nasibnya yang begitu buruk. Mendapat perlakuan tidak baik dari atasannya sampai menyebabkan kehamilan. Hingga suara ponsel menyadarkannya dari keadaannya saat ini. Perlahan gadis berambut sebatas punggung itu mencari ponselnya di dalam sling bag yang digunakan tadi.
"Assalamualaikum, Nay. Kenapa belum sampai cafe? Hari ini hari terakhir kamu, jangan membuat buruk penilaian Pak Shakil terhadap kamu. Mbak Tunggu ya." Suara Mbak Enggar langsung terdengar menyapa. Berbicara singkat pada Nayyara lalu sambungan telepon terputus.
"Pak Shakil, ya aku harus meminta pertanggung jawaban darinya. Biar bagaimanapun dia yang menyebabkan aku hamil." Akhirnya Nayyara menemukan solusi untuk maslah yang dihadapi.
Segera Nayyara bersiap untuk berangkat kerja, tak lupa dia bawa semua tes pack yang menunjukan garis dua, sebagai barang bukti kalau memang dia sedang hamil dari hasil perbuatan Shakil.