Perdebatan panjang dengan Shakil yang cukup melelahkan, menguras tenaga dan yang jelas mental Nayyara sedikit terguncang. Hari kedua setelah kejadian laknat itu, Nayyara absen bekerja. Kalau harus dipecat biar saja dipecat sekalian. Nayyara sudah tidak mau bertemu muka dengan lelaki pengecut yang hanya bisa menyalahkan tanpa mau introspeksi diri.
"Nay ... kamu di dalam?" Pagi ini Mbak Enggar mampir ke rumah Nayyara sebelum berangkat ke cafe. Dengan enggan, Nayyara keluar kamar dan membuka pintu untuk atasannya.
"Kamu sudah ke dokter?" tanya Mbak Enggar sambil menyiapkan sarapan bubur ayam yang dibawanya. Nayyara menggelang perlahan, untung Mbak Enggar sedang melihat ke arahnya kalau tidak, tentu Mbak Enggar tidak tahu kalau Nayyara menanggapi pertanyaannya hanya dengan bahasa tubuh.
"Makan dulu, habis itu kita ke dokter. Kamu masih punya tanggungjawab magang yang harus kamu selesaikan. Tinggal satu bulan, Nay. Setelah itu terserah kamu, mau lanjut di Seung atau keluar itu pilihan kamu." Mbak Enggar duduk di hadapan Nayyara.
Mbak Enggar adalah sepupu Nayyara dari pihak ibunya. Hubungan mereka memang sedekat itu, apalagi setelah kedua orang tua Nayyara meninggal akibat kecelakaan, maka Mbak Enggar dan suaminya yang bertanggungjawab penuh atas hidup Nayyara. Apalagi kakak satu-satunya Nayyara pergi dari rumah karena berselisih paham dengan sang ayah. Sebenarnya Nayyara sudah mendapat tawaran untuk melanjutkan kuliah, dari suami Ambak Enggar, lewat program beasiswa di perusahaan tempatnya bekerja namun, Nayyara menolaknya. Tidak mau terlalu banyak berhutang budi, alasan utama yang diutarakan saat menolah tawaran tersebut.
"Mbak, aku ...."
"Ada apa?"
"Nggak jadi."
"Nay, kamu lagi ada masalah? Cerita gih, siapa tahu Mbak bisa bantu cari solusinya atau paling enggak kamu sedikit lega karena sudah berbagi beban." Mbak Enggar mengusap lembut punggung tangan Nayyara.
"Nanti saja Mbak aku ceritanya. Lagi kangen bapak, ibu juga Mas Angga." Nayyara memeluk kedua lututnya dan menempelkan wajahnya di atasannya, sekadar menyembunyikan air mata yang sudah deras membanjir.
"Pak, Bu, maafkan Nay yang sudah mengecewakan kalian. Tidak bisa menjaga diri, hingga keadaan Nay sekarang seperti ini," tangis batin Nayyara tak bisa dibendung lagi.
Mbak Enggar mendekati Nayyara, mengusap punggung yang sedikit terguncang. Hidup sendiri memang berat, terlebih setelah mengalami kejadian buruk kemarin lusa. Ingin berbagi beban tapi, malu dan tak tahu siapa yang benar-benar bisa dipercaya menyimpan aib sebesar itu.
"Mau ke makam bapak sama ibu? Mbak antar, nanti bisa izin masuk agak siang," tawar Mbak Enggar masih mengusap punggung sampai kepala Nayyara namun, hanya mendapatkan jawaban gelengan kepala.
"Mbak berangkat kerja aja, aku nggak pa-pa kok," ucap Nayyara lirih di sela isaknya.
"Yakin kamu nggak pa-pa aku tinggal?"
"Yakin Mbak. Habis makan, minum obat mau rebahan sebentar. Kepalaku rasanya pusing banget," terang Nayyara sambil menghabiskan bubur ayam kesukaannya, lalu membawa peralatan makan bekas dipakai sarapan ke dapur.
"Kalau ada apa-apa segera hubungi Mbak atau Mas Ndaru ya. Kami selalu ada untuk kamu, jangan lupakan itu." Mbak Enggar memeluk tubuh Nayyara dengan erat. Dikecupnya puncak kepala gadis yang sudah seperti adik kandung bagi ibu satu anak itu.
"Iya Mbak, nanti aku hubungi kalau memang aku belum merasa baikan. Berangkat gih, nanti malah kena omel Pak Shak ...." Nayyara menjeda sesaat ucapannya saat menyebutkan nama lelaki yang sudah dinobatkan sebagai musuh bebuyutannya. Kedua matanya terpejam sejenak, lalu membuang napas seakan membuang beban berat dari kehidupannya.
"Udah berangkat sana." Lanjut Nayyara memutar tubuhnya lalu menggiring Mbak Enggar untuk segera berangkat kerja.
"Iya ... iya. Ya sudah Mbak tinggal dulu ya, kamu baik-baik di rumah, jangan banyak pikiran supaya lekas sembuh, bisa menyelesaikan kontrak magangmu."
"Siap Bu," jawab Nayyara dengan sikap hormat seperti prajurit pada komandannya. Mbak Enggar tersenyum melihat tingkah sepupunya.
Tangis Nayyara kembali pecah sepeninggal Mbak Enggar, gadis yang dua hari lalu kehilangan mahkotanya secara paksa meraung dalam kamarnya. Penyesalan sangat mendalam saat ini yang dirasakan Nayyara. Belum lagi rasa bersalah pada kedua orang tuanya yang sudah tiada. Merasa tidak bisa menjaga diri dengan baik, jelas hal ini akan sangat membuat bapak juga ibunya kecewa.
"Ibu ... Nay mau ikut ibu sama bapak saja. Nay udah nggak mau hidup lagi," rintih Nayyara dalam tangisnya. Entah sudah berapa lama gadis ber mata teduh itu merapati nasibnya.
"Mas Angga, kamu di mana? Aku butuh bahumu untuk bersandar. Aku kangen Mas ...." Nayyara semakin tenggelam dengan rasa sedihnya. Hingga tertidur karena lelah menangis.
*
"Mbak bisa minta air mineral dua lagi," ucap seorang pengunjung cafe pada Nayyara yang kebetulan sedang membereskan meja tak jauh dari meja pengunjung tersebut.
"Bisa Bu, nanti tagihan langsung saya gabungkan dengan orderan sebelumnya ya, mohon ditunggu sebentar." Nayyara beranjak dari tempatkan sambil membawa nampan berisi peralatan makan kotor ke bagian pencucian.
Nayyara terlonjak kaget saat membalikan badan untuk kembali ke depan dengan membawa pesanan dua botol mineral, tahu-tahu Shakil berada di belakangnya. Dengan sigap Nayyar langsung menghindar dan berjalan di sisi tubuh Shakil. Tanpa sapa, tanpa memandang ke arah pemilik cafe. Shakil hanya melirik sekilas pada Nayyara lalu beranjak masuk ke ruang kerjanya. Sebelum benar-benar masuk ruangan, Shakil sempat membalikan badan dan menatap Nayyara beberapa saat. Dering ponsel mengembalikan kesadaran Shakil dan langsung memasuki ruang kerjanya.
"Nay, bisa tolong antar minuman ke ruang Pak Shakil," pinta Mbak Enggar yang langsung membuat aliran darah di tubuh Nayyara berhenti.
"Nay ...."
"Eh, i--ya Bu." Nayyara mengambil nampan berisi minuman dan camilan yang ada di atas meja, lalu bergegas menuju ruangan Shakil.
Jantung Nayyara sudah seperti derap kuda yang sedang berlomba di lintasan. Keringat dingin seketika membanjir di tubuhnya. Bayangan malam nahas itu terlintas, suara erangan Shakil masih sangat jelas di telinganya. Nampan yang dibawanya bergetar perlahan. Nayyara menghentikan sejenak langkahnya, menetralkan keadaannya yang sedang tremor. Berusaha terlihat kuat di hadapan lelaki yang telah menghancurkan hidupnya.
"Huh ... bismillah, kamu bisa Nay. Di sini kamu sama sekali tidak bersalah, jadi tak perlu takut," ucap Nayyara sebelum akhirnya mengetuk pintu ruang kerja Shakil dan melangkah masuk dengan memejamkan mata sesaat, sekadar mencari kekuata untuk dirinya sendiri.
"Permisi Pak, ini pesanan Bapak. Saya permisi," ucap Nayyara cepat tanpa memandang ke arah lawan bicara dan langsung membalikan badan, setelah meletakan nampan di atas meja dan langsung melangkah pergi.
"Tunggu!"
Nayyara menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah sumber suara. Keringat dingin semakin membanjir, terlebih saat ekor matanya tak sengaja melirik sofa yang masih tertinggal noda darah keperawanannya yang tampak mengering. Jemari tangannya mengepal kuat, hingga buku-buku jemarinya terlihat memutih.
"Ambil ini sebagai kompensasi apa yang sudah terjadi malam itu, dan saya harap jangan sampai ada yang tahu tentang kejadian itu. Di sini saya adalah korban, jelas ini jebakan. Tolong bekerja sama, jadi terimalah ini." Shakil menyodorkan selembar cek yang entah tertulis berapa nominalnya.
Nayyara menatap tajam pada Shakil yang sudah berdiri di hadapannya. Kilat kebencian dan kemarahan tampak jelas dari sorot mata gadis yang berpembawaan ceria itu, tanpa kata. Shakil meraih tangan Nayyara lalu meletakan lembar cek dalam genggaman pegawai maganggnya itu.
Nayyara meremas kertas berharga itu. "Saya bukan perempuan bayaran, yang bisa seenaknya Anda bayar setelah apa yang Anda lakukan. Tanpa Anda minta saya akan menutup rapat aib yang telah Anda lemparkan ke wajah saya. Ingat, karma itu nyata dan cepat atau lambat akan menyapa Anda," ucap Nayyara pelan tapi, penuh tekanan dalam setiap katanya. Dilemparkan kertas cek yang telah berubah bentuk menjadi tak beraturan ke wajah Shakil dan bergegas meninggalkan ruangan yang membuat rongga dadanya terasa sesak.
Nayyara yang keluar dari ruangan Shakil sambil berlari, hampir saja menabrak seorang lelaki. "Ma-af Pak. Saya buru-buru." Tanpa mempedulikan lelaki yang menatapnya tanpa berkedip, Nayyara berlalu begitu saja membawa kebencian yang semakin menggunung di hati terhadap Shakil.
"Siapa gadis itu? cantik dan energik sekali," ucap lelaki yang hampir tertabrak Nayyara.
"Coba nanti tanya Shakil, semoga dia tahu siapa gadis itu?" Lanjut lelaki yang ternyata mengenal Shakil.