Bab 18. Rindu

1077 Kata
Tiga bulan berlalu sejak Nayyara keluar dari Seaung Caffe, Shakil sudah bisa berdamai dengan keadaannya yang mengalami kehamilan simpatik. Bersyukur juga pemilik tiga gerai resto Korean food itu mulai bisa makan. Walau pun makanan yang justru tidak pernah dia sentuh sebelumnya. Karena memang tidak doyan, jengkol. "Yan, saya nanti makan siang minta sambal jengkol sama bebek goreng ya. Jangan lupa lalapannya, komplit," pinta Shakil pada Riyan melalui sambungan intercom. Wajah tampan Shakil terlihat tirus, sindrom couvade membuat dirinya kehilangan banyak berat badan. Tubuh yang biasa tegap kekar, sekarang lebih kurus. Seung cabang Boyolali sudah mulai beroperasi membuat Shakil harus bekerja ekstra lagi. Ditambah kondisinya yang masih mual membuat lelaki berwajah tampan dan terkesan dingin itu harus terus berkonsultasi ke dokter. "Naya... Nayyara, di mana kamu sekarang?" guman Shakil sambil menatap sofa di hadapannya. "Kenapa aku tiba-tiba teringat gadis itu?" Shakil memejamkan matanya, samar bayangan wajah Nayyara bersimbah air mata, dengan raut ketakutam juga menahan rasa sakit terlintas jelas. Bahkan suara tangin Nayyara memohon ampun juga jerit kesakitan terngiang di telingan Shakil. "Arghhh...." jerit Shakil berusaha menghilangkan bayang-bayang Nayyara malam itu. Rongga dadanya akan terasa sakit saat teringat kejadian itu. Bisa-bisanya dia berlaku kejam terhadap gadis yang sama sekali tidak bersalah. Shakil memang sudah melihat rekaman CCTV di ruangan juga lorong di mana dirinya menarik pakasa Nayyara saat gadis itu keluar dari gudang penyimpanan bahan baku. Rasa bersalahnya semakin menumpuk atas perlakuan kasar juga ucapannya yang dilontarkan pada mantan karyawan magangnya itu. "Nay pernah menunjukan alat tes kehamilan, kalau memang itu benar berarti aku akan jadi seorang ayah. Ck, bodoh kamu Shakil, kenapa nggak bisa berpikir dengan jernih saat itu, malah nuduh Nayyara macam-macam lagi. Harus bagaimana coba sekarang? Keberadaan Nayyara juga aku nggak tahu," guman Shakil penuh penyesalan. Beberapa kali menyugar rambutnya sampai berantakan. Suara ketukan pintu mengalihkan kekusutan pikiran Shakil akibat memikirkan Nayyara, gegas dirapikan lagi penampilannya terutama bagian rambut, sebelum mempersilahkam seseorang di balik pintu untuk masuk. Setelah dirasa cukup rapi, baru suaranya lantang mengizinkan masuk orang yang mengetuk pintu ruang kerjanya. "Permisi mengganggu, Pak," sapa Mbak Enggar ramah. "Silahkan masuk Bu Enggar, ada apa?" "Ini ada beberapa food floger ingin menggunakan Seung untuk membuat konten mereka, Pak. Apa Bapak berkenan?" Mbak Enggar menunjukan surel yang ada di ipad khusus untuk urusan kerjaan pada Shakil. Shakil menekuri surat elektronik tersebut dengan teliti. Beberapa kali kepalanya terlihat mengangguk-angguk. "Saya sudah mencoret beberapa nama, katakan saja kalau saya kurang berkenan kalau mereka membuat konten di Seung, review mereka terlalu mengada-ada dan bahkan beberapa konten mereka akhirnya menimbulkan kontroversi, saya tidak mau Seung jadi terseret-seret dengan drama gimic mereka. Bu Enggar tentu sudah paham siapa saja yang kemungkinan saya izinkan untuk menggunakan Seung untuk konten mereka?" terang Shakil mengembalikan ipad pada Mbak Enggar. "Baik Pak, saya paham maksud Bapak. Kalau tidak ada pembahasan lagi, saya izin kembali ke ruangan, dan segera membalas surel dari mereka," balas Mbak Enggar segera beranjak dari duduknya. "Bu Enggar sebentar." "Iya Pak." Mbak Enggar membalikan badan dan kembali berdiri di hadapan Shakil. "Tahu kabar tentang Nayyara?" "Nayyara?" Mbak Enggar cukup terkejut dengan pertanyaan atasannya itu. Kenapa sampai menanyakan adik sepupunya. "Maaf memang ada apa ya Pak dengan Nayyara?" lanjut Mbak Enggar penasaran. "Eh, nggak... nggak ada apa-apa hanya pengen tahu kabarnya saja," jawab Shakil jadi salah tingkah, seperti ABG yang ketahuan menanyakan crush-nya. "Alhmadulillah Nayyara baik, Pak. Saat ini sudah bekerja di Rumah Makan Kemuning. Apa perlu saya sampaikan salam dari Pak Shakil," ucap Mbak Enggar sambil mengulum senyum. Dalam benaknya, lelaki di hadapannya ini mungkin menaruh rasa pada Nayyara. Bukan masalah juga sih, toh Shakil lajang, mapan, tampan, dan Nayyara sendiri sampai saat ini belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Kalau memang benar tebakannya tentu Mbak Enggar jelas mendukung 100%. "Eh... gimana Bu? Jangan, nanti ada yang marah kalau saya nitip salam untuk Nayyara," jawab Shakil cepat. Entah kenapa tiba-tiba dirinya justru mengatakan hal seperti itu. Mbak Enggar tertawa mendengar jawaban atasannya. Bagaimana tidak tertawa, wajah tampan Shakil tampak memerah, sudah seperti remaja sedang jatuh cinta. Mbak Enggar semakin yakin kalau Shakil memang menaruh rasa pada Nayyara. "Nayyara sampai saat ini belum pernah pacaran, Pak. Dekat dengan teman lelaki saja hanya dengan Riyan. Orang tua Nayyara memang mendidik anak-anaknya untuk tidak pacaran. Dan Nayyara adalah tipe gadis penurut, walau saya tahu dia beberapa kali menujukan rasa sukanya pada Bapak tapi, saya jamin itu hanya tingkah konyolnya. Kalau sebenarnya dia tidak akna bersikap seperti itu," terang Mbak Enggar. "Sepertinya Bu Enggat tahu banyak tentang Nayyara ya?" Shakil meras heran dengan penuturan manager caffe-nya itu. "Nayyara adik sepupu saya, Pak. Almarhumah ibu Nayyara adik kandung ayah saya. Kami juga dekat sejak kecil, jadi kami sudah seperti saudara kandung malahan." "Baru tahu saya kalau kalian saudara, karena selama bekerja kalian bersikap sangat profesional, terlebih Nayyara tidak pernah menunjukan kalau dia adik Bu Enggar. Nggak manja, nggak menanfaatkan kesempatan. Bu Enggar tentu tahu apa yang saya makasud'kan?" Shakil semakin kagum sekaligus merasa bersalah pada Nayyara. "Tahu Pak, saya paham maksud Pak Shakil. Sejak awal magang Nayyara memang tidak pernah membuka identitasnya sebagai adik saya. Vivi yang paling dekat dengan Nayyara saja tahu juga setelah Nayyara tidak bekerja di Seung lagi." Shakil hanyan manggut-manggut mendengar penjelasan Mbak Enggar. Semakin tertarik dengan kisah hidup gadis yang telah dia hancurkan masa depannya dan mungkin saat ini sedang berjuang dengan keadaannya. "Bu Enggar kapan terakhri ketemu Nayyara?" "Dua minggu lalu Pak, saat di rumah sakit. Kebetulan kami bertemu di sana, saya mengambil obat anak saya dan Nayyara baru selesai periksa, sepertinya kelelahan karena kerjaan di Kemuning lebih banyak juga lebih berat dari pada di sini, Pak." "Boleh saya minta alamat Nayyara, saya ingin silaturahmi saja," todong Shakil cepat, merasa prihatin dengan keadaan Nayyara, apalgi sedang hamil muda. "Boleh Pak, bisa minta note dan pinjam pulpennya?" Mbak Enggar menuliskan alamat lengkap rumah Nayyara begitu mendapat kertas juga pena dari Shakil. Senyum menghias wajah cantiknya, entah kenapa hatinya ikut bahagia kalau memang Shakil dan Nayyara bisa manjalin hubungan yang lebih serius. Ibu satu anak itu hanya berharap kalau Nayyara layak mendapat kebahagian, mungkin dari Shakil. "Ini Pak." Mbak Enggar menyerahkan lembar note berisi alamat Nayyara. "Biasanya sore Nay ada di rumah. Sepertinya dia jarang kena shif siang, semoga bisa jadi obat kangen. Saya permisi, Pak." Mbak Enggar sambil menahan senyum langsung berlari ke luar ruangan Shakil sebelum atasannya itu protes dengan ucapan Mbak Enggar. "Hais, apa-apa ini? Bukan begitu Bu Enggar!" teriak Shakil setelah menyadari managernnya itu sedang menggodanya. "Tapi kalau boleh jujur aku memang merindukan Nayyara. Maafkan aku, Nay."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN