Bab 17. Kesempatan.

1082 Kata
Dua hari lalu di ruangannya Bu Niken terdiam lama setelah membaca surat izin atas nama Nayyara Thara Khalisa. Pikiran wanita yang memang senang menggeluti dunia kuliner itu sedikit berkecamuk. Tak lama kemudian tampak manager Rumah Makan Kemuning itu menghubungi seseorang melalui telepon genggamnya. “Saya minta data lengkap identitas juga latar belakang keluarganya ya. Kalau bisa secepatnya dan sebelum makan siang sudah harus saya terima.” Suara Bu Niken terdengar pelan namun penuh penekanan perintah yang harus segera dikerjakan seeorang di seberang sambungan. Wanita dengan setelan kerja santai, blouse batik dan celana kulit dengan warna senada itu kembali menekuri rangkaian abjad yang tersusun di atas kertas dengan tanda tangan dokter spesialis kandungan itu. “Siapa kamu sebenarnya, Nay? Dan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu?” guman Bu Niken. Satu jam berlalu sejak menutup sambungam telepon, Bu Niken kembali menerima panggilan dari nomor yang tadi dihubunginya dan meminta mencari tahu tentang latar belakang Nayyara. Tak lama berbicara melalui ponsel, wanita berdarah Jawa-Palembang itu membuka laptopnya. Menunggu sesaat, jemari lentiknya menekan tuts keyboard membuka surel yang terbaru. Terpampang dengan jelas informasi yang dia minta. "Bungsu dari dua bersaudara, sudah yatim piatu, kakaknya pergi karena sempat ribut dengan alm ayah mereka dan sampai sekarang belum pulang, praktis Nayyara hanya tinggal sendiri. Apa... ah, jangan suudzon dulu Ken, gali informasi lagi. Jangan sampau kamu salah menhambil keputusan dan akan menjadi penyesalan dan berkubang dengan rasa bersalah seumur hidupmu." "Assalamualaikum, Nggar. Sibuk nggak? mau nanya sedikit nih." Rasa penasaran masih berkecamuk dalam pikiran Bu Niken dan akhirnya menghubungi Mbak Enggar, setelah tahu kalau temannya itu adalah sepupu Nayyara. Hampir sepuluh menit Bu Niken ngobrol dengan Mbak Enggar dan itu sudah cukup untuk Bu Niken mendapat tambahan informasi yang memang dia butuhkan. "Nayyara tidak pernah dekat dengan teman lelaki sejak sekolah menengah pertama. Lalu kenapa bisa sampai hamil kalau memang pacaran saja tidak pernah?" Bu Niken menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya, setelah menekuri informasi tentang Nayyara. "Kenapa hidupmu serumit ini, Nay. Padahal kamu masih begitu muda, sudah harus menghadapi ini semua sendiri. Dan pasti Enggar tidak tahu apa yang sedang dihadapi adik sepupunya itu." Bu Niken memijit kedua pelipisnya karena terasa pening. Niat awal mencari informasi tentang Nayyara supaya jangan sampai dibohongi karyawannya, begitu tahu kalau Nayyara dan Enggar masih ada hubungan persaudaraan, mau tidak mau Bu Niken akhirnya melibatkan diri dengan permasalahan Nayyara. * “Rudapaksa?” “Be--tul Bu, say…” “Kalau merasa keberatan dan hanya akan membuka luka di hati kamu, sebaiknya jangan ceritakan,”potong Bu Niken cepat, tentu sebagai sesama perempuan bisa berempati dengan apa yang menimpa Nayyara. Nayyara hanya semakin menunduk, bahunya sedikit terguncang, jelas menandakan kalau sedang berusaha keras menahan untuk tidak menangis. Bu Niken hanya memandang dengan ekspresi yang tak bisa tertebak. Lalu beranjak dari duduknya, mendekat pada Nayyara dan memeluk bahu calon ibu muda itu dari samping kanan tubuh Nayyara. “Menangislah, jangan ditahan. Ada saya di sini.” Tangis Nayyara pecah seketika. Ini yang dia butuhkan sejak mengalami peristiwa mengerikan malam itu hingga menghadapi candaan takdir yang tak kaleng-kaleng. Belum bisa sepenuhnya menerima keadaannya yang sudah tidak suci lagi, sudah mendapati dirinya akan menjadi seorang ibu dari lelaki yang telah menghancurkan hidupnya. Sebuah pelukan, ya hanya pelukan tanpa tanya apalagi introgasi dan penghakiman. Cukup lama Nayyara menumpahkan beban yang selama tiga bulan terakhir mengkungkung hidupnya, tanpa ada tempat untuk berbagi walau hanya sekadar bercerita. Bu Niken terus mengusap perlahan punggung Nayyara sampai tangisnya perlahan mereda, hanya tinggal sisa-sisa sesenggukan. "Sudah lega?" Bu Niken melepas pelukannya, menarik bangku untuk diletakan di sebelah Nayyara. Lalu beranjak keluar dari ruangannya. "Sin, tolong bilang ke Wanto saya pinjam Nayyara untuk membantu pekerjaan saya di dalam. Takutnya nanti dicariin," ucap Bu Niken pada salah satu karyawanya. "Baik Bu, nanti saya sampaikan pada Mas Wanto." "Terima kasih." Bu Niken kembali masuk ruangan sambil membawa segelas lemon tea dengan sedikit camputan sereh hangat. "Diminum dulu Nay." "Terima kasih Bu." Nayyara menerima gelas dengan aroma yang menenangkan, lalu meneguknya sedikit demi sedikit. Temggorokannya yang tadi kering seketika terasa hangat. "Maaf Bu kalau boleh tahu, Ibu tahu dari mana kalau saya hamil?" Setelah tenang Nayyara mmeberanikan diir bertanya, karena rasa penasaran masih memenuhi isi kepalanya "Karena kecerobohan kamu sendiri. Lihatlah kebih teliti surat izin dari dokter yang kamu kirim dua hari lalu." Nayyara menerima amplop putih dengan bertulis rumah sakit tempatnya periksa kandungan, dikeluarkannya lembaran surta izin dari dalamnya. Manik mata indah Nayyara menyusuri rankaian huruf yang tersaji dengan teliti. "Di situ tertulis poloklinik obgyn, bahkan dokter yang membubuhkan tanda tangannya juga dokter kandungan. Nggak mungkin kalau pasien umum akan mendapat penanganan dokter kandungan, kecuali dia periksa di bidan yang memang buka praktek mandiri di rumah dan hanya mendapat penangan sementara. Memang tidak sedikit yang juga sembuh setelah mendapat penangan bidan jika sakitnya ringan dan tidak perlu penangan dokter," terang Bu Niken yang langsung membuat Nayyara memejamkan matanya. Merasa bodoh karena tidak menyadari hal yang dipikir sepele namun ternyata penting malah luput dari perhatiannya. "Sekali lagi maafkan saya, Bu. Saya benar-benar tidak bermaksud menipu supaya tetap mendapat pekerjaan yang memang sedang saya butuhkan," ucap Nayyara lirih tanpa berani mengangkat wajahnya. "Saya paham dengan keadaanmu, toh apa yang terjadi bukang mutlak kesalahanmu. Hanya saya menyayangkan ketidak jujuranmu dari awal. Andai kamu bilang tentang keadaanmu yang sebenarnya saya bisa mempertimbangkan posisi kamu tapi, kalau sekarang say...." "Saya tahu kalau sudah melakukan kesalahan, mungkin terdengar kurang ajar jika saya berharap kemurahan hati Ibu untuk bisa tetap bekerja di sini," potong Nayyara sambil berlutut di depan Bu Niken yang langsung terhuyung ke belakang, kaget dengan tindakan Nayyara. "Nay... jangan begini, ayo berdiri! Saya bukan Tuhan, jadi nggak perlu berlutut seperti ini." Bu Niken menarik kedua bahu Nayyara dan sedikit memaksanya untuk berdiri. "Saya butuh pekerjaan ini Bu, untuk biaya melahirkan. Entah apa di tempat lain saya masih bisa diterima kerja dengan kondisi seperti ini?" Nayyara mulai terisak kembali. Pikirannya seketika kacau, ketakutan kembali membelenggunya. "Saya tahu, makanya kamu dengarkan saya dulu, jangan main potong pembicaraan saya dulu." Bu Niken gemas dengan sikap Nayyara kali ini. "Maaf Bu, sekali lagi maaf." "Oke, saya maafkan. Dan kali ini saya masih memberi kamu kesempatan untum kamu tetap bekerja di sini, tapi...." "Benar Bu?" potong Nayyara. "Ish, kamu ini jadi punya kebiasaan memotong omongan saya, ya, menyebalkan. Ya sudah sana kembali bekerja. Jaga kondisi kamu, jangan terlalu memforsir tenaga. Ada nyawa lain yang kamu bawa," ucap Bu Niken sambil mengibaskan tangannya tanda meminta Nayyara keluar. "Sekali lagi terima kasih, Bu," ucap Nayyara sambil mecium punggung tangan Bu Niken, dan gegas beranjak keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN