"Nay, ngapain di sini? Kamu sakit? Kok nggak bilang Mbak, kan bisa Mbak antar." Ternyata Mbak Enggar yang memanggil Nayyara.
"Eh ... M--bak Enggar? Agak nggak enak badan aja. Mbak Enggar sakit?" Cukup kaget Nayyara bertemu kakak sepupunya di waktu dan tempat yang tak seharusnya.
"Ambil obatnya Raka. Bentar ya Mbak tanya ke loket pengambilan obat, sudah kemarin seharusnya, cuma karena keburu malam makanya baru diambil sekarang. Nunggu obat juga? Tunggu Mbak, nanti kita pulang bareng."
Nayyara hanya bisa mengangguk, kalau dirinya menghindar akan sangat kentara kalau sedang menyembunyikan sesuatu. Dengan terpaksa dirinya menunggu kakak sepupunya itu. Santi dan putri kecilnya sudah beranjak dari tempatnya semula, sepertinya Nadia kembali berlarian, hingga sang ibunya harus mengejarnya. Selang sesaat nama Nayyara dipanggil bagian pengambilan obat.
Langkah Nayyara yang biasanya terasa ringan, kini terasa sangat berat karena di depan loket pengambilan obat masih berdiri Mbak Enggar. Senyum terpaksa Nayyara suguhkan pada petugas farmasi dan sebelumnya dia berikan untuk kakak sepupunya itu. Nayyara tampak tidak fokus saat menerima pejelasan tentang obat yang diterimanya. Justru takut kalau Mbak Enggar menedengar keterangan dari petugas farmasi.
"Nay, kalau kecapean minta izin libur sehari dua hari aja. Mbak Niken pasti maklum. Kemuning memang gila-gila'an kalau urusan kerjaan. Pelanggannya juga nggak ada matinya, mau tambah pasukan karyawan sepertinya masih saja kewalahan." Mbak Enggar membuka pembicaraa saat keduanya sudah berada dalam taksi online.
"Iya Mbak. Tadi juga sudah minta surat izin dokter. Besok biar diantar kurir aja, kebetulan hari ini memang jatah liburku," jawab Nayyara.
"Gimana, kerasan kerja di kemuning? Kalau berat balik ke Seung aja, nanti biar Mbak bicarakan dengan Pak Shakil. Seung makin rame juga, kemarin Pak Shakil sempat cari asisten yang benar-benar tahu seluk beluk Koeran food, Mbak, Vivi, sama Pak Koki sempat kepikiran kamu, Nay. Kalau kamu minat hari ini juga Mbak akan ngomong ke Pak Shakil." Penuturan Mbak Enggar cukup membuat Nayyara mengeluarkan keringat dingin, bahkan tangannya tampak bergetar walau tak kentara tapi, cukup konsisten gerakan tremornya.
"Aku senang kerja di kemuning kok, Mbak. Ya walau lebih berat tapi, interaksi dengan banyak pelanggan cukup jadi hiburan tersendiri untukku Mbak. Dan untuk tawaran Mbak Enggar, maaf aku belum kepikiran untuk kembali ke sana."
"Kamu nggak ada masalah apapun'kan di Seung, sebelum keluar?" tanya Mbak Enggar dengan kening berkerut.
"Eh, eng--nggak lah, memang aku bermasalah dengan siapa sih Mbak. Vivi, Randi, bahkan sampai bagian belakang hubungan kami baik-baik saja." Nayyara sempat tergagap saat mendengar pertanyaan kakak sepupunya yang sepertinya mencurigai sesuatu.
"Bukan sama mereka tapi, Pak Shakil."
"Hah, Pa--k Shakil? E--nggak lah, gila kali cari masalah sama bos tempat kerja." Nayyara semakin berusaha menutupi kegugupannya. Nggak mau wanita yang sudah berperan sebagai pengganti orang tuanya itu semakin curiga dengan keadaannya yang sebenarnya antara dirinya juga ayah janin dalam kandungannya.
"Masalahnya sejak kamu keluar, Pak Shakil berubah total. Terlihat kurang sehat, nggak bersemangat, badannya sekarang juga lebih kurus. Kalau di caffe hanya makan salad buah, minum juga hanya jus semangka. Nggak bisa makan siomay, nggak bisa makan nasi. Kasihan kalau lihat keadaan Pak Shakil sekarang ini," terang Mbak Enggar.
Nayyara tak memberi tanggapan apapun mendengar penuturan kakak sepupunya itu. Karena nggak tahu mau berkomentara apa tentang lelaki yang paling dibencinya saat ini.
"Nay...."
"I-ya Mbak? Mungkin terlalu lelah bekerja, makanya jadi sakit." Hanya itu yang keluar dari bibir Nayyara.
Taksi yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan rumah Nayyara. Mbak Enggar memang meminta rute melalui rumah Nayyara terlebih dahulu, baru pulang ke rumah. Nayyara memeluk kakak sepupunya sebelum turun dari taksi.
"Makasih, Mbak. Pak bawa mobilnya hati-hati aja ya. Assalamualaikum," pamit Nayyara lalu beranjak masuk ke dalam rumah, setelah taksi yang membawa Mbak Enggar bergerak menjauh.
*
"Nay, dipanggil Bu Niken," ucap salah satu rekan kerja Nayyara.
Hari ini, hari pertama Nayyara masuk kerja setelah izin selama dua hari. Kondisinya saat ini juga sudah membaik, badannya juga terasa fit lagi. Mungkin benar adanya kalau tubuhnya kelelahan, pekerjaan di kemuning memang bisa dibilang 3x lipat banyaknya dari pada di seung dulu.
"Iya Mbak, makasih. Saya izin ke ruangan Bu Niken dulu," pamit Nayyara dengan langkah tergesa.
"Assalamualaikum, permisi Bu Niken. Ini Nayyara," ucap Nayyara setelah mengetuk pintu di hadapannya sebanyak 2x.
"Waalaikumsalam, masuk Nay." Terdengar suara dari balik pintu.
"Duduk Nay. Gimana keadaan kamu, udah sehat betul?" Senyum menghias wajah teduh ibu dua anak tersebut.
"Alhamdulillah sudah baikan, Bu. Terima kasih atas perhatiannya dan maaf kalau saya izin padahal masih masa treaning," balas Nayyara dengan rasa sungkan.
"Kalau memang sakit tentu kami memkalumi Nay, kami juga tahu kalau semua manusia ada kalanya butuh istirahat sejenak dari padatnya rutinitas dan kesibukan kerja. Robot mesin saja butuh diistirahatkan apalagi kita. Bisa tumbang kalau selalu dipaksa kerja."
"Iya Bu. Maaf ada apa ya saya dipanggil ke sini?" Nayyara mengembalikna fokus tujuannya masuk ke ruangan Bu Niken.
"Oh ini, kamu kemarin izin sakit apa ya?"
"Tensi saya drop, Bu. Memangnya ada apa, Bu?" Rasa penasaran Nayyara semakin menjadi.
"Selain itu?"
"Kecapean saja, Bu. Kalau boleh jujur pekerjaan di sini memang tiga kali lipat dari tempat kerja saya sebelumnya."
"Tapi, itu sama sekali nggak jadi masalah untuk saya, Bu." Lanjut Nayyara cepat.
"Lalu kandunganmu apa baik-baik saja?" Pertanyaa Bu Niken cukup membuat Nayyara terkejut dan jantungnya hampir lompat dari tempatnya.
"Mak--sud Bu Niken?" tanya Nayyara dengan rasa was-was, keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya. Wajah ayunya juga tampak pias.
"Bagaimana Bu Niken bisa tahu kalau aku sedang hamil? Gimana nanti kalau aku dikeluarkan? Susah nyari kerja dalam kondisiku seperti ini." Batin Nayyara bertanya-tanya dan semakin berkecamuk.
"Nay...." Panggil Bu Niken sambil mengusap lembut punggung tangan Nayyara yang terasa dingin dan basah karena keringat.
"Eh... iya Bu. Bagaimana?" Nayyara terlonjak kaget.
"Maaf kalau mengejutkanmu. Bagaimana kondisi kandunganmu? kamu boleh terbuka dengan saya, anggap saja saya kakak kamu. Mungkin saya tidak bisa membantu banyak tapi, paling tidak beban kamu bisa berkurang dengan bercerita. Terkadang saat kita dalam masalah, tak butuh uluran tangan saja. Sekadar ada teman yang mau mendengarkan kita tanpa mengkahimi sudah lebih dari cukup." Bu Niken menampilkna senyum terbaiknya supaya Nayyara merasa nyaman.
"Maafkan saya karena sudah tidak jujur dan menyembunyikan keadaan saya saat melamar dan sesi wawancara dulu," tutur Nayyara sambil menundukan wajahnya.
"Tidak apa-apa, Nay. Toh semua sudah terlanjur dan kamu juga bekerja dengan baik, tanpa berkeluh kesah padahal sedang hamil. Maaf kalau boleh tahu apa ayahny tidak mau bertanggungjawab?"
"Sa--ya... korban rudapaksa, Bu," jawab Nayyara mulai terisak.