Bab 15. Kondisi Sedikit Menurun

1032 Kata
Hari pertama kerja di kemuning lumayan membuat Nayyara nervous. Setelah mendapat pengarahan dari kepala dapur tentang apa saja tugasnya selama sebulan ke depan, Nayyara langsung bergabung dengan teman satu timnya. Pegawai baru di mana saja selalu mendapat pekerjaan yang berat tapi, hal ini tak membuat Nayyara putus asa. Di mana pun posisinya dan seberat apapun pekerjaannya kalau dilakukan dengan ikhlas pasti jadi ringan. "Nay, tolong meja lima dibereskan ya. Kalau sudah langsung dicuci saja perabotannya," pinta salah satu teman Nayyara yang berada di bagian penyajian. Sedang Nayyara bertugas membereskan meja setelah dipakai pengunjung dan mencuci peralatan masak juga peralatan makan bekas pakai. "Iya Mbak." Tanpa menunggu dua kali perintah, Nayyara langsung mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Tanpa terasa sudah satu bulan Nayyara bekerja di kemuning. Dan selama itu dirinya sama sekali tidak merasa gejala awal kehamilan sama sekali. Muntah juga hanya sekali waktu koki restoran memasak seafood bumbu padang. Aroma bumbu rempah yang menyengat membuat Nayyara langsung berlari ke kamar mandi, setelah itu tak ada keluhan apapun. Sampai dirinya juga heran sendiri, sedang hamil muda tapi, tak menunjukam tanda-tanda gejala hamil muda. "Sayang, terima kasih ya sudah bekerja sama dengan Bunda. Hari ini kamu mau makan apa, nani kita beli mumpung Bunda lagi gajian nih" Nayyar berbicara pada calon anaknya sambil mengusap perutanya perlahan. Masuk trisemester kedua sudah mulai terasa membuncit saat diraba. "Hari ini kita periksa keadaanmu dulu ya, mumpung bunda dapat jatah libur. Sekarang kita belanja dulu, tukang sayur udah datang tu." Sejak Nayyara memutuskan untuk berdamai dengan keadaannya, menerima utun inji dengan ikhlas, hati calon ibu muda itu lebih terasa damai. Menjalani kehidupan juga lebih terasa ringan. Masalah resiko yang pasti nanti akan timbul, itu urusan belakangan. Saat ini dirinya hanya ingin menikmati hidupnya, tanpa merasa ada beban juga ketakutan-ketakutan karena pandangan juga penilaian orang terhadap keadaannya yang sedang diuji. Jam tangan di pergelangan Nayyara menampilkan angka 8:15 saat kakinya menginjak lantai loby rumah sakit. Langkahnya ringan menuju klinik dokter kandungan yang sudah kali ketiga ini dikunjunginya. Senyum mengembang saat berpapasan dengan beberapa tenaga keaehatan yang menyapa. "Sha--kil ...." Langkah kaki Nayyara terhenti saat melihat sosok lelaki yang sangat dibencinya sedang berdiri di loket farmasi. Shakil masih mengalami sindeom couvade sampai sekarang. Dan pemilik seung caffe itu rupanya habis kontrol kesehatan ke dokter langganannya. Nayyar yang seharusnya lewat depan bagian farmasi terpaksa harus memutar arah melewati parkiran mobil dan melalui pintu belakang untuk menuju poli obgyn demi menghindari Shakil. "Maaf ya Nak kalau saat ini bunda belum mau bertemu ayahmu. Mungkin selamanya kamu tidak akan pernah mengenalnya." Nayyara mengusap perlahan perutnya. Bayangan peristiwa malam itu tetiba berkelebat lagi di pikiran Nayyara. Tangannya mengepal sempurna, kedua matanya terpejam, sekadar meredam emosi yang meningkat. Hatinya kembali terasa perih, air mata tanpa terasa luruh membasahi kedua pipinya. "Ya Allah kalau memang ada kesalahan dan khilaf hamba yang tidak hamba sadari tolong ampuni. Hamba sudah ikhlas dengan takdir yang telah Engkau beri, hamba ikhlas dengan amanah yang Engkau berikan pada hamba tapi, tolong jangan ingatkan hamba pada peristiwa menyakitkan itu. Rasanya Hamba tak sanggup kalau harus teringat, jika boleh hilangkan kenangan pahit menyakitkan itu," rintih batin Nayyara. Keringat dingin membasahi hampir sekujur tubuh Nayyara, jalannya juga sedikit limbung, beruntung seorang perawat mendekat dan membantunya untuk duduk di bangku yang tak jauh dari tempat Nayyara berdiri. "Mbak kenapa? Kalau kurang sehat istirahat saja dulu." "Saya nggak pa-pa Sus, maaf merepotkan," jawab Nayyara setelah duduk dengan sempurna. "Mau periksa atau sudah selesai?" "Mau ke Dokter Pungki, Sus." "Berkasnya biar saya bantu regristarasi dulu, nanti saya ke sini lagi kalau sudah selesai regristrasi," ucap petugas medis di hadapan Nayyara. "Nggak usah Sus, nanti malah merepotkan. Saya istirahat sebentar saja dulu, nanti kalau sudah enakan biar saya langsung ke sana," tolak Nayyara halus. "Nggak pa-pa Mbak. Kebetulan saya sedang bebas, mau ke kanti malah. Atau mau saya antar kalau memang Mbaknya sungkan?" tawar tenaga medis itu lagi. "Kalau memang nggak merepotkan, tolong antar saya aja Sus, kepala saya masih sedikit pusing takut nggak kuat sampai klinik." Akhirnya Nayyara menyerah dengan penolakannya dan meminta tolong dipapah sampai ruang tunggu klinik obgyn. Tekanan darah Nayyara cukup rendah, 90/60. Dokter Pungki menyarankan untuk rawat inap supaya bisa diobservasi tapi, Nayyara menolak. Karena bakal nggak ada yang nemenin dia juga nggak mau sampai Mbak Enggar tahu kondisinya saat ini. Sudah pasti sepupunga itu akan kecewa kalau sampai mendapati kenyataan dirinya sedang hamil. Dokter Pungki akhirnya mengalah, memberika surat izin keterangan sakit supaya Nayyara bisa istirahat di rumah. Mau tidak mau Nayyara menuruti saran dokter dari pada harus pindah tidur di rumah sakit, mending libur kerja beberapa hari. Nayyara duduk di bangku tunggu farmasi, setelah mendapat resep penambah darah dann vitamin dari Dokter Pungki. Sambil menunggu giliran dipanggil, wanita muda itu memanikan ponselnya, scroll-scroll media sosial. Tiba-tiba ada anak kecil berlari ke arah Nayyara dan hampir terjatuh, beruntung tangan Nayyara reflek memegangi tubuh kecil terbungkus jaket itu, hingga tak sampai terjerembab ke lantai. "Hati-hati sayang, jangan lari-lari." Nayyara menarik tubuh anak kecil itu dalam rengkuhannya. "Nadia ... Maafkan anak saya. Mbak nggak pa-pa kan?" ucap seorang perempuan yang berdiri di hadapan Nayyara, sepertinya ibu dari anak kecil dalam dekapan Nayyara. "Saya nggak pa-pa Mbak, justru adik kecil ini tadi hampir jatuh jadi saya reflek menangkapnya," terang Nayyara sambil menyerahkan anak kecil itu pada ibunya. "Sekali lagi maaf dan terima kasih sudah menolong anak saya, Mbak. Nadia memang sedikit hiper aktif, sedang sakit saja masih kuat lari-larian begini," terang ibu anak kecil yanh ternyata bernama Nadia. Nayyara tersenyum sambil mengusap perlahan pipi gembul Nadia. "Mungkin kelak kamu akan tumbuh sehat, pintar dan cantik seperti kakak ini ya, Sayang," guman Nadia dalam hati. "O iya, perkenalkan saya Santi." Ibu Nadia mengulurkan tangan pada Nayyara. "Eh ... Saya Nayyara, panggil saja Nay," jawab Nayyara tergeragap. "Maaf kalau saya mengejutkan Mbak Nayyara," ucap Santi cepat karena melihat Nayyara sedikit kaget. "Nggak Mbak, saya hanya membayangkan kalau punya anak seperti Nadia pasti menyenangkan ya," terang Nayyara lagi-lagi menole pipi Nadia. Gadis kecil itu terkekeh dengan tindakan Nayyara. "Rumah jadi ramai Mbak kalau ada anak kecil tapi, ya itu harus siap capek juga," ucap Santi sambil terkekeh, teringat menjalani hari-hari bersama putri kecilnya. Nayyara ikut tersenyum melihat wajah semringah Santi. "Nay ... Nayyara?" Terdengar seseorang memanggil Nayyara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN