"Den ... Den Shakil, ini bibi bawakan sarapannya." Bi Tatik berdiri di depan pintu kamar Shakil dengan mambawa nampan berisi nasi goreng, roti selai juga jus semangka sesuai pesanan yang mau makan.
"Masuk aja Bi, nggak dikunci pintunya," sabut Shakil dari dalam kamar.
Bi Tatik perlahan membuka pintu setelah meletakan nampan terlebih dahulu di atas meja yang kebetulan tepat di samping pintu. Lalu perlahan membawa masuk sarapan Shakil begitu mendapat akses masuk.
"Aden sakit, kok belum siap-siap?" Bi Tatik merasa heran saja melihat Shakil yang masih rebahan di ranjangnya, padahal jam digital di atas meja dekat ranjang sudah menampilkan angka 8.
"Nggak tahu Bi, perutku mual lagi. Tadi juga sempat muntah tapi, keluarnya cuma cairan, pahit rasanya," adu Shakil sambil menerima nampan yang dibawa Bi Tati. Matanya berbinar melihat menu yang memang sangat-sangat diingkan untuk dimakan pagi ini.
"Udah periksa ke dokter? Sepertinya sudah beberapa hari lo Aden kondisinya seperti ini. Bibi hanya takut nanti malah keterusan sakit," ucap Bi Tatik penuh perhatian pada majikan mudanya itu.
"Atau mau ditelponkan ibu saja," lanjut Bi Tatik menyarankan.
"Jangan Bi, nanti ibu malah jadi kepikiran. Tahu sendirikan gimana ibu, kalau dengar aku sakit. Paniknya berlebihan," sahut Shakil cepat, jangan sampai Bi Tatik yang memang akrab dengan ibunya itu memberitahukan tentang kondisinya.
"Ya sudah kalau begitu, habis sarapan lebih baik ke dokter saja, supaya ketahuan sakit apa, terus dapat obat yang tepat, sembuh deh. Bisa kerja lagi kan."
"Iya Bi, mau habisin ini dulu, semoga nggak muntah lagi."
"Bibi permisi may belanja dulu, kalau butuh apa-apa panggil pak'e saja."
"Iya Bi, makasih."
"Sama-sama."
Shakil melanjutkan sarapannya sepeninggal Bi Tatik. Entah kenapa makan pagi kali ini terasa sangat nikmat, padahal hanya menu biasa seperti yang disantapnya setiap paginya. Selesai dengan sarapannya, Shakil gegas bersiap untuk berangkat ke kantor, saran Bi Tatik untuk ke dokter rupanya diabaikan lelaki yang sebenarnya akan menjadu calon ayah tapi, belum mau mengakuinya.
Menatap pantulan dirinya pada kaca yang menampilkan sosok gagah, tampan dengan seulas senyum. Jambang yang biasanya bertengger di wajahnya sengaja dibabat habis, lagi-lagi Shakil menginginkan hal itu tanpa alasan yang pasti. Padahal sejak pulang dari Korea dirinya sengaja memumbuhkan bulu-bulu halus itu supaya bisa untuk bermain ayunan para malaikat tapi, dari semalam dirinya justru merasa risih dengan wajah berjambangnya.
"Tampan juga tanpa berewok begi ...." Shakil gegas berlari ke kamar mandi, perutnya terasa mual lagi, dan tak tahan untuk segera mengeluarkan isinya.
Shakil terduduk di atas closet, napasnya sedikit terengah, diambilnya handuk bersih dari tumpukanya di rak, dengan sedikit gerakan cepat diusapkan ke mulutnya. Matanya terpejam rapat, rasa mual masih kecokol dalam perutnya. Tangan kirinya melepas kuncian gesper, supaya lebih nyaman untuk perutnya.
"Ish, kenapa mual muntah lagi. Padahal tadi usah bisa makan dengan normal," keluh Shakil pada diri sendiri.
"Memang harus ke dokter kali ini, sudah lebih dari seminggu kondisi tubuhku seperti ini, bahkan semakin hari justru semakin parah mual muntahnya. Mana kadang pakai kepala terasa pusing lagi. Sungguh sangat menyiksa," lanjut Shakil dengan gerutuannya tentang kondisi yang tubuhnya akhir-akhir ini.
Tanpa membuang waktu, dengan kondisi lemas Shakil menuju rumah sakit terdekat. Bersyukur antrian di poliklinik umum tidak terlalu ramai, melakukan pendaftaran secara offline dan mendadak, Shakil mendapat nomor urut lima, sehinggat tidak terlalu lama menunggu giliran diperiksan. Sambil menunggu antrian Shakil menyibukan diri bermain ponsel, scroll-scroll media sosial sekadar melihat apa yang sedang up date supaya tidak terlalu ketinggalan berita.
"Pak Shakil Althafaunizam." Seorang perawat memanggil nama Shakil, rupanya giliannya untuk bertemu dokter sudah tiba.
Shakil sudah berhadapan dengan seorang dokter lelaki yang mungkin seumuran dengannya. Lelaki berwajah khas keturunan thiong hua itu menyapa Shakil dengan ramah. Shakil mengutarakan semua keluhan yang dirasakan selama seminggu terakhir ini. Dokter mendengarkan dengan saksama sambil mengangguk-ngangguk dan sesekali menulis di atas rata-rata resume data kesetahan pasien.
"Maaf apa istri Pak Shakil sedang hamil?" Pertanyaan yang seharusnya wajar didengar tapi, tidak untuk Shakil.
"Maksud dokter? Bahkan saya saja belum menikah, bagaimana ada pertanyaan tidak masuk akal seperti ini." Emosi Shakil agak terpancing. Merasakan kondisinya tidak baik-baik saja, datang ke dokter supaya mendapat penanganan yang tepat, malah dapat pertanyaan yang membuat naik darah.
"Eh, maaf Pak, saya tidak tahu kalau Bapak belum menikah. Karena gejala yang Anda sebutkan tadi adalah gejala sindrom couvade atau kehamilan simpatik yang sering dialami suami ketika istrinya sedang hamil," terang dokter yang membuat Shakil sampai melonggo terheran-heran.
"Sekali lagi saya minta maaf sudah membuat Pak Shakil merasa tidak nyaman," lanjut dokter tersebut sambil menuliskan resep obat dan vitamin untuk Shakil. Obat pengurang mual dan munta yang biasa untuk ibu hamil.
"Tapi kenapa saya bisa kena sindrom couvade, Dok padahal jelas-jelas saya belum pernah menikah," protes Shakil dengan rasa penasaran yang masih menyelimuti hatinya.
"Mohon maaf sebelumnya, bukan maksud saya untuk menghakimi atau merasa sok tahu dengan kehidupan pribadi Anda, kita lelaki dewasa tentu punya kebutyhan biologis, dan tidak menutup kemungkinan pernah melakukan hubungan dengan lawan jenis. Entah itu pacar, patner di ranjang, atau bahkan one nigth stand. Toh zaman sekarang hal-hal seperti itu merupakan sesuatu yang wajar, walau tidak lantas semua orang mengangut life style demikian. Dan jawabnnya hanya Pak Shakil sendiri yang tahu," ucap dokter yang memeriksa Shakil, panjang lebar.
"Lah tapi kan aku nggak pernah tu ngelakuin hal begituan, apalagi sampai jajan dengan wanita-wanita yang ..." batin Shakil terpotong karena merasa aneh membayangkan hal yang terlintas dalam benaknya saja tidak pernah apalagi sampai melakukannya. Jelas membuata anak tunggal itu bergidik ngeri.
"Pak, maaf ada apa?" tanya perawat asisten dokter pada Shakil yang tiba-tiba mengerakan badannya seperti merasa geli pada sesuatu.
"Eh, enggak sus. Nggak pa-pa, maaf. Lalu saya harus bagaimana, Dok?"
"Ini sudah saya resepkan obat pengurang mual juga beberapa vitamin supaya daya tahan tubuh Anda tidak drop lagi. Kalau boleh menebak apa Anda juga kehilangan berab badan?"
"Iya Dok, seminggu ini saya turun sekitar lima kilo. Sebenarnya kalau soal turun berat badan saya tidak terlalu masalah, yang membuat masalah mual sampai tidak bisa mencerna makanan dengan baik," keluh Shakil.
"Lumrah sih kalau hal iti terjadi pada kasus sindrom couvade. Semoga obat dan vitamin ini dapat membantu memulihkan kondisi Pak Shakil. Kalau masih belum merasa baik, silahkan datang kembali tapi, saya harap setelah ini tidak ada keluhan lagi." Dokter menyerahakan resep pada asistennya untuk membuat salinan serta rujukan untuk kunjungan berikutnya.
"Baik Dok, terima kasih," balas Shakil menyambut uluran tangan sang dokter.
"Coba diingat lagi, siapa yang akan memberikan Anda keturunan, sebagai lelaki tentu akan lebih bijak kalau bertanggung jawab pada apa yang sudah kita lakukan, terlebih inu menyangkut keturunan kita. Maaf kalau saya lancang berkata demikian," lanjut dokter berkacamata tersebut. Shakil hanya mengangguk dan mengucapkan salam, lalu meninggalkan ruang periksa.