Bab 13. Melamar Kerja

1004 Kata
Shakil yang ketiduran dan bermimpi bertemu dengan anak kecil yang memanggilanya papa masih merasa kebingungan dengan hal itu dan beberapa kali menanyakan keberadaan anak kecil dalam mimpinya pada Randi. Lelaki muda yang tadi membangunkannya juga ikut bingung dengan sikap pemilik cafe tempatnya bekerja. "Ran, kamu benar nggak tahu tadi di ruangan saya ada anak kecil?" Shakil mendatangi Randi yang sedang menyiapkan orderan pelanggan, begitu pertemuannya dengan suplayee jamur selsesai. "Beneran Pak, saya nggak melihat anak kecil di ruangan Bapak. Waktu saya masuk, Bapak sedang tidur dan sepertinya nyeyak sekali, saya bangunkan beberapa kali Bapak nggak meresponnya," jawab Randi apa adanya sesuai kenyataan yang terjadi. "Atau mungki tadi Bapak sempat bermimpi," lanjut Randi merasa simpati dengan kebingungan sang bos. Shakil terdiam setelah mendengar penuturan Randi. "Pak maaf, saya permisi mau mengantarkan orderan," pamit Randi pada Shakil begitu nampan di hadapannya telah terisi menu sesuai pesanan. "Oh, silahkan. Maaf ya menganggu waktumu. Selamat bekerja ya." Shakil menepuk pundak Randi kemudian berlalu kembali ke ruangannya. "Kasihan Pak Shakil, mungkin terlalu lelah bekerja, sampai mimpi yang aneh-aneh," ucap Randi merasa prihatin pada bosnya. * "Vi, buruan!" teriak Nayyara dari ruang tamu, menunggu Vivi yang masih belum keluar dari kamarnya. Pagi ini Nayyara akan mengantar lamaran pekerjaan di Rumah makan Kemuning, sepertu yang diinfoka Mbak Enggar kemarin. Dan Vivi akan mengantar sahabatnya itu sekalian berangkat kerja. "Iya, maaf nunggu lama. Suka kesel sama rambut kalau habis keramas malah susah dicepol," gerutu Vivi yang menghampiri Nayyara dengan wajah cemberutnya. "Tapi udah bisa kan?" Nayyara memperhatikan bagian belakang kepala Vivi yang bertengger cepolan rambut dengan hiasan pita hitam. "Udah, nih. Rapi kan?" "Cakep. Udah yuk berangkat, takut kesiangan," ajak Nayyara sambil menguci pintu. "Lets go!" sahut Vivi semangat. Vivi melajukan sepeda motor matic-nya meninggalakan pelataran rumah Nayyara setelah pemilik rumah membonceng dengan nyaman. Perjalanan menuju rumah makan kemuning tak memakan waktu lama. Vivi menghentikan motornya di pelataran parkir, Nayyara turun dari boncengan, melepas helm dan diserahkan ke Vivi. "Kenapa malah gugup gini ya?" Nayara menggosok kedua telapak tangan yang tiba-tiba berkeringat. "Bismillah, Nay kamu pasti bisa dan keterima. Pengalaman kamu di Seung cukup mumpuni. Kamu juga cekatan, rajin, nggak punya pilih-pilih kerjaan. Semangat ya," ucap Vivi sambil mengusap lengan Nayyara beberapa kali. "Iya Vi, makasih ya udah bantu semangatin. Aku masuk dulu ya, kamu hati-hati berangkatnya, nanti berkabar lagi." Dua gadis yang sama-sama cantik itu saling berpelukan. Nayyara melangkahkan kaki menuju pintu masuk khusus karyawan. Degup jantungnya berdetak lebih cepat, beda rasanya melamar kerja ketika belum dalam keadaan hamil. Ya, tak mau menutup mata kalau kondisinya sekarang mungkin bisa membuatnya tak diterima kerja tapi, tekad dan keyakinan Nayyara lebih kuat dari rasa ragu yang membuatnya sedikit tidak tenang. "Permisi, selamat pagi. Maaf mengganggu, bisa bertemu dengan Bu Niken?" saoa Nayyara pada salah satu pegawai yang sedang membersihan etalase. "Pagi juga, Mbaknya mau melamar kerja?" tanya pegawai wanita yang mungkin usainya di atas Nayyara itu dengan ramah. "Iya Mbak, saya dapat informasi kalau di Kemuning sedang buka lowongan pekerjaan, makanya saya mau nyoba peruntungan, siapa tahu rezeki saya," balas Nayyara dengan senyum mengembang. "Kebetulan Bu Nikennya baru saja datang, mari saya antar." "Baik Mbak, terima kasih." Nayyara mengekor langkah pegawai Kemuning yang masuk lebih ke dalam. Mereka berhenti di depan ruangan dengan tulisan manager tergantung di pintu. Pegawai yang mengantar Nayyara mengetuk pintu perlahan, tak lama terdengar sahutan dari dalam. Nayyara masih mengekor pegawai wanita tersebut. "Permisi Bu, ini ada yang ingin melamar pekerjaan," ucap pegawai yang mengantar Nayyara. "Oh, iya kah. Masuk ... masuk. Makasih ya Mbak," balas wanita yang sepertinya Bu Niken. "Sama-sama, saya permisi dulu Bu," pamit pegawai tersebut sambil undur diri. Kini hanya tinggal Nayyara dengan manager yang tersenyum ramah padanya. "Silahkan duduk, perekenalkan saya Niken, manager di restoran ini. Kalau boleh tahu Mbak siapa dan dapat informasi lowongan kerja dari siapa?" "Sebelumnya saya ucapakan selamat pagi, nama saya Nayyara, Bu. Kebetulan dapat informasai dari Mbak Enggar dan ini CV saya," jawab Nayyara sambil menyerahkan amplop cokelat yang di dalamnya berisi persyaratan standar untuk melamar kerja. "O iya, saya kemarin memang sempat menghubungi Enggar, dan meminta bantuan untuk mengifokan lowongan pekerjaan di sini. Pengalaman kerja kamu di mana saja?" lanjut Bu Nikes sambil memeriksa CV Nayyara dengan teliti. "Saya sempat magang di Seung Caffe selama 6 bulan. Sebelumnya kerja di warteg kecil sepulang sekolah," jawab Nayyara tanpa ada yang ditutup-tutupi. "Berarti sudah paham ya pekerjaan di rumah makan bagaimana? Bagian apa yang paling berat, bagaian mana yang harus selalu menampilkan senyum walau hati sedang galau?" ucap Bu Nikes dengan senyum ramahnya menatap Nayyara, dan memasukam lembar CV ke dalam amplop kembali. "Sedikit banyak tahu, Bu. Kalai memamg saya diberi kesempatan, saya mohon bimbingan supaya tidak melakukan kesalahn dan mengecewakan pihak managemen, terutama ibu yang sudah memberi saya kesempatan," jawab Nayyara lugas. "Untuk masalah gaji bagimana?" pancing Bu Niken. "Setiap managemen mempunyai standar penilaian masing-masing untuk memberikan upah kerja pegawainya di luar upah minimum regional yang sudah diatur pemerintah tentunya, dan pasti managemen juga mempertimbangkan pengalaman kerja calon pegawainya. Maka dari itu, saya rasa managemen akan memberika gaji yang sesuai tanpa saya harus menyebutkan nominalnya." Bu Niken tersenyum semakin lebar, sangat puas dengan jawaban cerdas calon pegawainya. Jelas dia tidak akan melepaskan gadis yang sudah jelas pasti pekerja keras dan terlihat berdedikasi pada pekerjaannya. Penilaiannya selama ini tidak pernah meleset. Dia harus berterima kasih pada Enggar karena mengirim pegawai yang sesuai dengan kriterianya. "Baiklah Nayyara, saya akan memberikan jawaban satu jam dari sekarang via phone. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk melamar pekerjaan di sini. Salam untuk Enggar ya." "Terima kasih untuk waktu dan kesempatannya, Bu. Besad harapan saya untuk mendengar kabar baik dan bisa bergabung di kemuning resto ini. In syaa Allah nanti saya sampaikan salam ibh pada Mbak Enggar." Nayyara hanya bisa mengangguk, berterima kasih dan memberika senyum termanisnya. Sudah biasa pencari kerja seperti dirinya harus digantung nasibnya dulu, diterima atau enggak masih harus menunggu jawaban. "Sabar ya Nak, kita cari lowongan di tempat lain. Kamu bantu bunda ya, doakan bunda cepat dapat kerja, supaya punya tabungan untuk persiapan lahiran kamu." Nayyara mengusap perutnya yang masih rata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN