Mbak Enggar menyempatkan mampir ke rumah Nayyara. Waktu istirahatnya digunakan sebaik mungkin, selain melihat putranya yang sedang kurang enak badan, juga memberikan informasi pada Nayyara kalau ada lowongan pekerjaan di beberapa tempat. Kesempatan tidak datang dua kali dan ibu muda itu berharap Nayyara bisa kembali mendapat pekerjaan yang sesuai dengan passion yang dimiliki. Saat masuk ke ruang tengah rumah peninggalan tantenya itu, Mbak Enggar mendapati tiga gadis yang muda sedang berpelukan. Dan malah menyebut ketiganya seperti trio kwek-kwek--grup penyanyi anak-anak pada era 90'an--
"Mbak Enggar?" Nayyara melerai pelukan dari kedua sahabatnya.
"Eh ... Ada Bu Enggar." Vivi tampak malu-malu mendapati atasannya di tempat kerja sudah berada di ruang tengah rumah Nayyara. Walau dia tahu kalau keduanya adalah saudara sepupu tetap saja Vivi merasa sungkan.
"Nih Mbak bawain salad buah sama siomay." Mbak Enggar menyerahkan kantong plastik yang lumayan besar pada Nayyara.
"Makasih Mbak, tahu aja kalau Nay lagi pengen siomay." Nayyara memindahkan isi kantong plastik ke piring-piring. Mbak Enggar rupanya beli lumayan banyak. Siomay aja sampai lima porsi. Salad buah dengan ukuran twinwall ukuran 1000ml dua kotak. Senyum semringah menghias wajah cantik calon ibu muda itu.
"Widih Mbak Enggak mau ada cara apa, beli makanan banyak banget gini?" Siska langsung mengambil piring, memindahkan beberapa sendok salad buah yang terlihat menggiurkan. Pasti nikmat dimakan siang-siang begini.
"Nggak ada, pak bos beli siomay kebanyakan. Lagi nggak bisa makan siomay, padahal itu makanan kesukaan dia lo. Aku aja tadi kaget waktu Pak Shakil langsung mual saat membuka tutup twinwall. Aneh banget, udah seperti orang ngidam aja." Mbak Enggar terkekeh mengingat tingkah bosnya tadi.
Nayyara terdiam sejenak mendengar penuturan kakak sepupunya itu. Juga mendengar nama lelaki yang telah meninggalkan benih dalam rahimnya. Perlahan diusapnya perut yang masih rata. Gerakannya sangat halus, tersamar. Jika tidak melihat dengan cermat maka tak akan kentara kalau Nayyara sedang mengusap perutnya.
"Sayang, rupanya ayahmu yang mengalami ngidam. Terima kasih sudah mau bekerja sama dengan baik. Sehat-sehat ya, Nak," batin Nayyara mengulas senyum tipis. Dalam hatinya mulai tumbuh rasa bangga pada calon anaknya yang sudah bisa mengerti keadaan. Ada rasa haru menyelimuti nuraninya, perlahan dan pasti rasa sayang semakin tumbuh untuk buah hati yang sempat akan dilenyapkannya.
"Nay ... Malah bengong. Ada apa?" Mbak Enggar menepuk lengan Nayyara.
"Astaqfirulloh. Eh ... Nggak pa-pa Mbak. Kepikiran aja mau cari kerja lagi. Bosen di rumah terus," jawab Nayyara dengan sedikit terkejut.
"Eh ... Mumpung ingat, di Kemuning lagi butuh orang, Nay. Coba kamu kirim lamaran ke sana. Kebetulan yang kasih info managernya sendiri. Nanti Mbak kirim nomor kontaknya, bilang aja kamu adiknya Mbak. Tapi ya itu, kalau di kemuning trening memang agak berat kerjaannya tapi, gaji lumayan. Lebih tinggi dari pada di Seung," terang Mbak Enggar yang sesaat tadi lupa tujuannya ke rumah Nayyara.
"Kemuning yang perempatan Srikandi belok kanan?" tanya Nayyara antusias. Mbak Enggak mengangguk sebagai jawaban, karena sedang mengunyah makanan.
"Wuih rame di situ, Nay. Enak-enak masakannya, harganya juga murah meriah," sahut Siska.
"Besok deh aku ke sana Mbak. Malah lebih dekat dari rumah. Makasih infonya Mbak." Senyum semringah tergambar jelas di wajah cantik Nayyara. Paling tidak satu masalah sudah dapat jalan keluar, entah nanti bagaimana hasilnya, biar Allah yang menentuka. Toh manusia hanya berusaha dan mengerjakan bagiannya saja. Hasil akhir tetap Sang Empunya Kehidupan yang memutuskan.
Ketika Nayyara dan kedua sahabatnya ditambah Mbak Enggar sedang menikmati siomay yang dibeli Shakil, di ruang kerjanya pemilik seung cafe itu justru sedang lahap memakan buah semangka yang dibelinya. Sudah habis separuh buah semangka berwarna merah pindah ke dalam lambungnya. Wajah semringah tergambar jelas semakin menambah ketampanan Shakil.
"Alhamdulillah kenyang, dan nggak mual muntah lagi. Semoga nanti sudah bisa makan berat. Aneh banget aku ini, tiba-tiba seperti orang mabuk. Lebih anehnya lagi, kok jadi nggak doyan siomay ya, apa karena aroma ikan yang terlalu menyengat makanya tadi jadi mual," oceh Shakil pada dirinya sendiri sambil masih menikmati beberapa potong semangka yang masih tersisa.
Shakil kembali berkutat dengan pekerjaannya, memeriksa laporan penjualan dan stok bahan baku makanan serta minuman yang baru saja dikirim bagian penyedia bahan baku dan bagian keuangan melalui surel. Ruang kerja dengan desain minimalis dan maskulin begitu hening, sejuknya suhu ruangan lama kelamaan membuat Shakil mengantuk terlebih perutanya dalam keadaan nyaman dan kenyang. Laptop masi menyala saat pemiliknya sudah terlelap, terbang ke alam mimpi.
*
"Papa ... Papa ...."
Suara anak kecil menggema jelas dalam pendengaran Shakil. Entah saat ini dirinya ada di mana yang jelas kakinya tengah berdiri pada tanah berumput dengan banyak mainan anak. Play groud, ya Shakil berada di taman bermain yang begitu asing baginya.
"Papa ... Papa ...." Lagi-lagi suara anak kecil terdengar sedang memanggil sang ayah. Pandangan Shakil menyapu seluruh area taman, tak ada satu pun manusia. Hanya beberapa burung dan kupu-kupu terbang ke sana ke mari. Hinggap di dedauna, pada bunga-bunga yang sedang mekar.
"Papa!" Tangan mungil meraih jemari Shakil lalu menggengamnya erat. Lelaku berjamang tipis itj terkejut dengan hal tersebut.
"Kamu si--apa? kenapa memanggilku papa?" Shakil menetapa anak kecil di sampingnya, ingin melihat wajahnya namun, tertutup dengan topi.
"Papa jangan jahat sama mama dan aku ya. Kami sayang papa, jadi papa juga harus sayang pada aku juga mama," ucapa anak kecil itu sambil menggoyang-goyangkan tangan Shakil.
"Tung--gu ... papa, mama, kamu, kita harus saling sayang, maksudnya apa sih, saya benar tidak paham?" Shakil menutut penjelasan lebih, dan berusaha mensejajarakan tinggi tubuhnya dengan anak tersebut, dengan posisi jongkok tapi, anak itu justru melepas genggaman tangannya dan berlari menjauh.
"Pokoknya papa harus sayang sama aku dan mama," teriaknya sambil terus berlari dan melambaikan tangan.
"Hei ... Tunggu!" Shakil berusaha mengejar anak kecil tersebut namun, kakinya terasa berat, susah untuk digerakan. Hanya bisa memanggil-manggil supaya anak yang membuat rasa penasaran di hatinya membuncah tanpa ada penjelasan apapun.
"Apa yang dimaksud anak itu coba? Dia bahkan memanggilku papa, lalu memintaku untuk menyayanginya juga mamanya, tidak boleh menyakiti mereka, maksudnya apa?" Shakil berusaha berpikir keras dan mencerna kata-kata anak kecil misterius tadi.
"Arrrggh ... Sial!"
"Pak ... Pak Shakil!"
"Hah ... mana anak kecil tadi?" ucap Shakil yang terkejut karena dibangungkan Randi.
"Anak kecil? Nggak ada anak kecil di sini, Pak. Maaf kalau mengejutkan Bapak, saya hanya memberitahukan kalau suplayer jamur sudah datang dan menunggu Bapak di ruang pertemuan," terang Randi merasa bersalah karena menganggu istirahat sang bos.