Bab 11. Trio Kwek Kwek

1075 Kata
Balado jengkol yang merupakan makanan favorit Nayyara tiba-tiba saja membuat perutnya bereaksi secara berlebihan. Sangat mual dan akhirnya muntah-muntah lagi, padahal dari bangun tidur pagi keadaannya boleh dibilang membaik. Begitu mencium aroma masakan yang dibawa Vivi, Nayyara langsung gegas ke kamar mandi, mengeluarkan sarapannya yang sempat tertelan dengan sempurna. Vivi yang merasa khawatir dengan keadaan Nayyara hanya bisa mondar-mandir di depan kamar mandi. Sesekali mengetuk pintu kamar mandi dan bertanya tentang keadaan temannya yang masih di dalam sana. Lumayan lama Nayyara berada di kamar mandi. Memastikan perutnya tidak lagi terasa mual dan harus mengeluarkan isinya yant sudah terkuras habis. "Maaf ya Vi," ucap Nayyara begitu keluar dari kamar mandi. "Kamu lagi sakit ya Nay?" Vivi membantu Nayyara kembali ke ruang tengah, lalu mendudukan temannya itu dengan nyaman di sofa. "Cuma kurang istirahat aja kok Vi. Maklum beberapa hari terakhir aku memang sering begadang lihat drakor. Bosen banget nggak ada aktivitas lain. Lagi cari-cari lowongan kerja juga, tadi sebelum kamu datang juga udah kirim lamaran secara online juga sih," tutur Nayyara sambil merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Sedang Vivi duduk di sofa single tepat di sampingnya, sambil mendengarkan penuturan temannya. "Nay, kenapa sih nggak mau lanjut di Seung? Kan tinggal tanda tangan kontrak, kerjaan juga udah kamu kuasai semua, nggak perlu adaptasi lagi dengan lingkungan baru, teman-teman baru, menguasai pekerjaan, belum kalau pemiliknya judes, bawel. Bisa-bisa kerja sambil makan hati terus." Vivi mulai membuka obrolan setelah hening beberapa saat. "Pengen cari pengalaman di tempat lain aja Vi," jawab Nayyara singkat. Matanya masih terpejam, lama kelamaan Nayyara terlelap. Vivi hanya bisa bengong melihat beberapa keanehan dalam diri teman baiknya itu. "Ish, ni anak malah tidur. Ya udah mau lanjut maraton nonton drakor aja lah. Mumpung libur, nggak ada yang ganggu. Kalau di rumah mama pasti bawel kalau aku nggak keluar kamar seharian. Padahal kan anak gadisnya yang paling cantik ini juga butuh istirahat, butuh me time, nggak kerja terus." Vivi ngomel sendiri sambil cari posisi yang nyaman untuk mantengin ponselnya. Suasana rumah Nayyara yang sejuk dan hening ternyata juga membuat Vivi terlelap. Beruntung gadis dengan potongan rambut sebahu itu sudah. Menghidupkan timer off pada ponselnya, hingga tak sampai menguras kuotanya kalau akhirnya malah ditinggal tidur juga. Nayyara terjaga saat merasa badannya pegal. Niatnya mau pindah ke kamar, begitu melihat Vivi juga terlelap di karpet diurungkannya keinginannya untuk melanjutkan tidur. Nayyara beranjak ke dapur, tanpa mau mengusik teman akrabnya yang masih terlelap. Segelas air dingin sudah pindah dalam lambungnya. Nayyara kembali ke ruang tengah, duduk di sofa panjang semula. Menyapa wajah temannya yang sedang tertidur pulas. "Sayang lihat Aunty Vivi, nyenyak sekali tidurnya. Pasti capek kerja di tempat ayahmu." Tanpa sadar Nayyara mengusap perutnya yang masih rata. "Kenapa juga masih mengingat dia sih." Nayyara menggetok kepalanya dua kali. Dadanya langsung terasa sesak begitu bayangan Shakil melintas di pelupuk matanya. Suara ketukan pintu dan ucapan salam terdengar dari arah luar. Nayyara bergegas ke depan, takut tidur Vivi terganggu dengan suara tersebut. Siska--sahabat sekaligus tetangga Nayyara--sudah berdiri di depan pintu, begitu Nayyara membukanya. "Waalaikumsalam. Tumben di rumah, nggak kuliah?" Nayyara melangkah masuk kembali yang diikuti Siska setelah gadis berambut pendek itu menutup pintu. "Dosennya lagi umroh, cuma kasih tugas. Loh ada tamu?" Siska langsung memelankan suaranya begitu melihat Vivi masih terlelap di posisi semula. "Vivi, teman kerjaku di Seung. Kebetulan hari ini pas jatah dia libur, aku minta dia main ke sini, nggak tahu kalau kamu libur sih," terang Nayyara dengan suara pelan juga. "Nih dari bunda, katanya kamu kemarin pengen Asian. Dari pada beli, bunda bikinkan yang banyak. Sayang uangnya, kamu tabung aja kata bunda." Siska menyerahkan dua tinwal ukuran besar berisi asinan buah dan asinan sayur pada Nayyara. "Makasih banget, bunda memang paling the best deh. Ntar deh aku ke rumah, bilang makasih langsung sama bunda." Nayyara merasa senang binar matanya tak bisa berbohong. Dikasih asinan aja udah seperti dikasih berlian. "Hmm, aku pulang aja ya, nggak enak ada teman kamu. Padahal rencananya aku mau numpang tidur. Di rumah lagi ada budhe sama anaknya, jadi ramai bikin nggak bisa istirahat," ucap Siska sambil beranjak. "Sis, kayak sama siapa aja. Udah masuk kamar aja, tidur di sana. Nanti kalau Vivi bangun kalian bisa kenalan, siapa tahu bisa jadi teman juga kan." Nayyara mendorong tubuh Siska menuju kamarnya. Siska hanya nurut aja, karena memang tubuh dan pikirannya terasa lelah karena tugas kampus yang menumpuk. "Makasih Nay, aku beneran numpang tidur ini. Semalam begadang selesain tugas kampus." Siska menatap Nayyara dengan perasaan sungkan. "Ish, apaan coba. Udah tidur sono, matamu itu udah nggak bisa diajak kompromi. Aku keluar dulu, nggak usah mikir aneh-aneh. Have nice dream." Nayyara menutup pintu kamarnya dan kembali ke ruang tengah. Vivi masih bergelung dengan mimpinya juga. Nayyara sedang asyik menikmati asinan sayur buatan bundanya Siska, saat Vivi bangun dan mencari keberadaan pemilik rumah. "Udah bangun?" tanya Nayyara melihat Vivi celingak-celinguk di pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang makan. "Hu um, maaf ya jadi numpang tidur." Vivi mendekati Nayyara dan langsung duduk di hadapan calon ibu muda itu. "Santai aja, kamu juga butuh istirahat nggak hanya kerja terus. Udah kayak emak-emak biayain anak lima sekolah semua aja." Nayyara terkekeh sambil menawarkan asinan sayur pada Vivi. "Aku pengen kuliah Nay, pengen membuktikan ke orang-orang yang selalu merendahkan keluargaku." Ada kilat kemarahan di mata Vivi saat mengatakan apa yang menjadi ganjalan hatinya. "Sabar Vi, kita tidak bisa membuat semua orang senang pada kita tapi, yang penting jangan dengar omongan yang sekiranya hanya akan membuat sakit hati. Memang kita tak bisa menutup mulut mereka tapi, kita bisa menutup telinga kita. Aku dukung niatmu untuk kuliah, semoga ilmunya bisa menjadi manfaat untukmu dan banyak orang. Yang penting sekarang, nikmati liburmu dulu. Jangan malah stres gitu. Nambah lagi asinannya." Nayyara menepuk-nepuk bahu Vivi lembut. "Iya Nay, makasih sudah mau jadi tempat aku berbagi keluh kesah selama ini. Makasih juga udah selalu ada saat aku butuh bahu untuk bersandar." Vivi bangkit berdiri lalu merentangkan kedua lengannya yang langsung disambut Nayyara. Dua gadis yang seusia itu berpelukan dengan erat. Siska yang baru bangun, melihat adegan pelukan antara Nayyara dan Vivi langsung ikut menghambur memeluk keduanya. "Kenapa aku ditinggal, harusnya kalian menungguku kalau mau pelukan begini," protes Siska yang sebelumnya memang tak sengaja mendengar pembicaraa Nayyara dan Vivi. Vivi yang belum mengenal dan tahu tentang Siska agak terkejut dan berusaha melonggarkan tubuhnya dari Nayyara juga rengkuhan Siska tapi, Nayyara segera menjelaskan tentang siapa Siska. Akhirnya ketiganya kembali berpelukan lebih erat dengan senyum terulang di wajah-wajah cantik menggemaskan mereka. "Kalian udah seperti trio kwek-kwek."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN