Waktu berjalan dengan semestinya, sudah dua Minggu Nayyara jadi pengangguran. Nggak sepenuhnya nganggur juga sih, terkadang ada tetangga yang minta dibuatkan nasi uduk atau nasi kotak untuk acara arisan, atau majelis taklim. Nayyara memang punya bakat dalam bidang kuliner, ditambah ilmu yang didapat saat duduk di bangku SMK semakin mumpuni ilmu memasaknya. Hanya saja Nayyara masih belum PD untuk memulai usaha dengan ilmu dan bakat yang dimiliki, selain itu membuat usaha juga butuh modal yang tak sedikit tentunya.
"Pagi Nak, terima kasih sudah mau bekerja sama. Sudah bikin bunda nggak mual pagi-pagi. Kita bikin sarapan dulu ya." Nayyara benar-benar sudah berdamai dengan keadaan.
Menerima kehidupan baru yang sedang tumbuh dalam rahimnya adalah keputusan besar dan pasti akan berdampak pada kehidupannya kedepan nanti. Setelah melihat foto hasil USG calon anaknya, hati Nayyara terasa hangat. Bahkan sekarang lebih punya tujuan pasti dalam hidupnya. Masa depan terbaik sang buah hati tentunya.
"Hmm ... Harum sekali nasi gorengnya. Kita sarapan nasi goreng ya Sayang," ucapan Nayyara sambil mengusap perlahan perutnya. Seulas senyum menghias wajah cantiknya, walau tanpa polesan make up.
Nayyara membaca kolom lowongan pekerjaan di ponselnya. Tak elok rasanya terlalu lama bermalas-malasan hanya karena sedang hamil muda. Belum lagi beberapa bulan ke depan dia butuh biaya untuk persalinannya. Nggak mungkin juga hanya mengandalkan uang tabungannya yang tidak seberapa banyak. Selama kondisi kandungannya baik-baik saja dan kesehatannya tidak terganggu, tentu Nayyara akan lebih memilih tetap bekerja, selain untuk memenuhi kebutuhannya juga membunuh sepi.
Dering ponsel mengusik kesibukan Nayyara yang sedang membereskan dapur setelah selesai sarapan. Dilapnya kedua tangannya setelah sebelumnya mencucinya terlebih dahulu. Alat komunikasi yang menampilkan gambar dirinya dan kedua orang tua juga kakaknya masih berdering. Nama Vivi terpampang jelas, Nayyara mengambil ponselnya lalu mengusap gambar lingkaran hijau.
"Nay aku kangen banget ...." Suara cempreng Vivi terdengar kencang begitu hubungan tersambung, sampai Nayyara sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Assalamualaikum cantik, aku juga kangen. Kamu yang sok sibuk, nggak pernah main ke rumah. Padahal aku nungguin kamu sama Randi datang ke sini," balas Nayyara langsung protes.
"Waalaikumsalam, maaf lupa. Sueng lembur terus, sejak kamu nggak ada Pak Shakil makin menggila, terima orderan ugal-ugalan. Badan udah habis digebugin orang sekampung, Nay. Capek banget tapi bonusnya juga lumayan sih."
Hati Nayyara terasa nyeri saat mendengar nama lelaki yang telah menghancurkan hidupnya. Bayangan malam nahas seketika berkelebat, wajah Shakil yang begitu mengerikan saat mengagahi dirinya, juga setiap perkataan kasar dan menyakitkan kembali terngiang jelas di telinganya. Sudah seperti adegan film yang ter-replay ulang.
"Nay ...."
"Eh ... Iya Vi, maaf sambil nunggu tukang sayur lewat." Bohong Nayyara menutupi lamunan sesaatnya.
"Iya deh yang sekarang jadi ibu rumah tangga, nungguinya kang sayur. Nungguin jodoh Nay."
"Kerja yang bener dulu, kumpulin duit yang banyak, jadi orang sukses, nanti jodoh datang sendiri, Vi."
"Iya ... Iya ... Yang paling mau jadi pengusaha restoran. Enak juga kali ya kalau jadi pengusaha sukses, duitnya banyak nggak usah capek kerja. Apalagi kalau jadi istri CEO, seperti di novel-novel online itu. Widih ... Hidup serasa jadi ratu, apa-apa terpenuhi."
"Hus ... Duit aja yang dipikir, jaga kesehatan. Minum ramuan yang pernah aku kasih itu lo, untuk imunitas, biar nggak cepat tumbang. Kapan hari aku nitip Mbak Enggar, buat kamu sama Randi, udah kamu minum?"
"Udah dong, makasih ya Say. Kamu memang terbaik, kata Randi calon istri idaman."
"Iya sama-sama. Kamu nggak kerja, pagi-pagi malah ngoceh bukannya siap-siap."
"Libur, mau main ke rumah kamu, makanya aku telepon dulu. Kamu di rumah apa nggak, siapa tahu lagi liburan, menikmati hidup jadi pengangguran kata Bu Enggar."
"Kampret kamu Vi, nganggur nggak ada pemasukan ya mumet Vi ... Vi ... Ya udah ke sini aja, mau datang jam berapa pun aku di rumah kok."
"Oke Beb, jam 9 deh aku udah sampai sana. Udah dulu ya, mau mandi terus siap-siap. O ya ... Kamu mau dibawain apa? Biar sekalian aku cari sambil jalan ke sana?"
"Nggak deh, lagi nggak kepengen apa-apa. Udah buruan ke sini, aku juga udah kangen. Nginep ya Vi, besok berangkat kerja dari sini."
"Oke. Ya udah aku siap-siap dulu, ngobrolnya lanjut nanti lagi, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, sampai ketemu nanti Vivi bawel."
Hari ini, sebenarnya Nayyara berniat mengirimkan beberapa lamaran pekerjaan yang memasang iklan lowongan kerja secara online tapi, karena Vivi akan datang dan menginap, maka dirinya hanya fokus pada lowongan kerja yang CV pelamar bisa dikirim secara online. Sambil menunggu kedatangan Vivi, Nayyara masih asyik dengan ponselnya, hingga suara cempreng Vivi mengucap salam dan mengetuk pintu dengan tidak sabaran.
"Waaalaikumsalam," ucap Nayyara sambil membuka pintu.
"Nay, kangen banget." Vivi menghambur dalam pelukan Nayyara, dua gadis cantik dengan sifat bertolak belakang itu saling melepas rindu.
Terbiasa bertemu setiap hari di tempat kerja, selama tiga bulan membuat keduanya menumpuk rindu saat baru dua Minggu tidak bertemu. Terlebih Vivi yang merasa sangat kehilangan begitu Nayyara memutuskan tidak melanjutkan kontrak kerjanya.
"Aku juga kangen tapi, masuk dulu. Jangan di depan pintu begini," ajak Nayyara lalu membawa Vivi masuk ke ruang tengah.
"Nay, kamu berani tinggal sendiri?" Vivi yang baru pertama datang ke rumah Nayyara menatap sekeliling.
Rumahnya peninggalan orang tua Nayyara memang bukan tergolong rumah mewah tapi, cukup nyaman dan justru kesederhanaan membuatnya terlihat asri. Ada tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah, ruang makan yang jadi satu dengan dapur, dua kamar mandi. Satu kamar mandi terletak di kamar utama yang dulu ditempati orang tua Nayyara.
"Iya, kamu tahu sendiri aku sudah yatim piatu. Sedang Mas Angga, kakak lelakiku satu-satunya pergi dari rumah sudah tiga tahun belum pernah pulang. Bahan saat bapak dan ibu meninggal, Mas Angga juga pasti nggak tahu." Suara Nayyara tercekat, rongga dadanya terasa sesak menahan tangis. Akan selalu seperti itu keadaanya saat harus mengingat tentang kedua orang tua juga saudara satu-satunya.
"Maaf ya kalau membuatmu sedih. Kita doakan bapak sama ibu semoga mendapat tempat terbaik di surganya Allah, diterima segala amal ibadah mereka. Semoga Mas Angga juga cepat pulang, biar bisa menjaga adiknya yang paling cantik ini." Vivi memeluk Nayyara erat, merasa bersalah karena sudah membuka kenangan pahit tentang keluarganya.
"Nggak kok Vi, aku aja yang cengeng. Setiap mengingat dan menceritakan tentang mereka pasti jadi mewek." Nayyara berusaha menampilkan senyumnya kembali supaya Vivi tidak terlalu khawatir dengan keadaannya.
"Oke. Nay ini mamaku bawain sambal jengkol sama pepes tahu kesukaan kamu. Nggak usah masak deh. Ini lebih dari cukup kalau untuk kita berdua sampai besok pagi." Vivi mengeluarkan kotak makanan yang dibawanya dari rumah.
Perut Nayyara langsung bergejolak saat mencium aroma sambal jengkol. Tak bisa menahan rasa mual, akhirnya Nayyara bergegas ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya di wastafel. Vivi yang kaget dengan reaksi Nayyara sempat bengong sesaat.
"Nay ... Kamu kenapa?"