Bab 9. Buah Semangka

1170 Kata
"Bi ... Bibi!" Jarum jam belum genap menunjuk angka 6 tapi, Shakil sudah ribut memanggil asisten rumah tangganya. Wanita berusia empat puluh lima tahun itu tergopoh menghampiri sumber suara. "Saya Den. Ada apa?" "Tolong bikinkan jus semangka ya, taruh di kamar. Saya mau mandi dulu." "Baik Den, ada lagi?" "Nggak ada, udah itu aja." Shakil beranjak ke kamar mandi. Bi Tatik membereskan tempat tidur Shakil yang masih berantakan. Belum ada tiga menit Shakil masuk kamar mandi, terdengar pemilik Seung Caffe itu muntah-muntah. Bi Tatik menghentikan aktivitasnya, memandang sejenak pintu berwarna cokelat yang tertutup rapat. "Masuk angin gitu minta jus semangka pagi-pagi, apa nggak tambah kembung nanti?" "Ah sudah lah, bikinkan saja dari pada kena semprot. Den Shakil kalau marah menakutkan," lanjut Bi Tatik sambil keluar kamar. Membawa keranjang pakaian kotor. Sementara di dalam kamar mandi, Shakil terduduk lemas di pinggir bathtub. Perutnya seperti diaduk dengan mixer berkecepatan turbo. Saat berusaha mengeluarkan isi perutnya, hanya cairan dan terasa pahit di mulutnya. "Kemarin makan apa ya, sampai mabuk begini?" guman Shakil yang mulai ritual mandinya dengan badan yang masih terasa lemas. Selesai dengan acara mandi dan sudah berganti pakaian, Shakil ke luar kamar. Ruang makan tujuan utamanya, karena jus semangka pesanannya belum tersaji di meja dalam kamarnya. Rumah berlantai dua itu terasa sepi, hanya ada Shakil, Bi Tatik, juga Pak Mamat--suami BI Tatik sekaligus tukang bersih-bersih dan merangkap menjaga keamaan--Shakil tipe susah percaya dengan orang kalau untuk urusan menjaga rumah. Bi Tatik dan Pak Mamat adalah tetangganya dulu di kampung, dan kebetulan mereka sedang mencari pekerjaan. Sepetak sawah dan rumah sudah tergadai pada rentenir, hingga tidak bisa menebusnya. Mau tidak mau, sepasang suami istri itu harus keluar dari rumah mereka. Dan saat akan mengadu nasib ke kota justru bertemu dengan ibunya Shakil. Lalu ditawarin pekerjaan, karena memang anak lelakinya sedang membutuhkan pekerja untuk rumah barunya. "Den Shakil?" Bi Tatik agak terkejut mendapati Shakil sudah duduk manis di ruang makan. "Maaf tadi Bibi ke tukang sayur dulu, pas berhenti depan rumah. Ini jus semangkanya," terang Bi Tatik yang memang baru selesai belanja. "Nggak pa-pa, Bi. Makasih." Shakil meminum jus semangka dingin sambil menikmati roti bakar dengan selai kacang. "Sama-sama, Den. Bibi permisi ke belakang dulu. Nanti malam mau dimasakin apa, Den?" tanya Bi Tatik sebelum benar-benar beranjak. "Belum tahu Bi. Nanti saya kabarin kalau pengen makan di rumah. Perut saya agak nggak nyaman soalnya," jawab Shakil. "Mungkin masuk angin, Den. Apa bibi bikinkan teh jahe untuk dibawa ke kantor, nanti kalau terasa eneg bisa diminum hangat-hangat." "Boleh lah Bi, makasih." "Sama-sama, sudah tugas saya, Den. Bibi permisi ke belakang." Bi Tatik gegas ke dapur setelah Shakil membalas dengan anggukan. Makanan Shakil belum tercerna sempurna dalam lambung, perutnya kembali terasa mual. Gegas lelaki bertubuh tegap itu berlari ke kamar mandi yang tak jauh dari dapur. Pak Mamat yang sedang sarapan sampai terkejut, begitu juga dengan Bu Tatik, hampir saja jahe yang sedang dikupas hampir terlepas. "Aden kenapa Bu?" "Masuk angin mungkin Pak. Dari tadi muntah-muntah, makanya ini ibu buatkan teh jahe." "Suruh istirahat di rumah saja, ngurusi kerjaan nggak ada habisnya. Kesehatan juga perlu diperhatikan," saran Pak Mamat sambil menyesap teh hangat buatan sang istri. "Iya nanti ibu coba kasih tahu Den Shakil tapi, sepertinya bakal susah Pak. Aden kan gila kerja, nggak betah di rumah. Kalau libur saja ada aja yang dikerjakan," ucap Bu Tatik menghela napas sambil menatap pintu kamar mandi. "Bi, teh jahenya udah jadi? Boleh minta satu gela dulu, perut saya mual lagi." Shakil keluar kamar mandi dengan wajah pucat dan basah bekas cuci muka mungkin. "Sudah Den. Aden duduk dulu, nanti bibi antar teh jahenya." Di sofa ruang tengah, Shakil menghempaskan punggungnya. Kepalanya bersandar pada kepala sofa, matanya terpejam, tubuhnya terasa lemas. Aroma rempah jahe, sere, jeruk nipis menguar, membuat Shakil membuka matanya. "Diminum, De. Kalau sakit lebih baik istirahat di rumah. Jangan dipaksa kerja, nanti malah tambah parah," saran Bi Tatik setelah meletakan cangkir berisi teh jahe di hadapan Shakil. "Ada metting dengan klien, Bi. Kalau bisa diwakilan saya juga mau di rumah saja. Perut rasanya nggak enak banget," keluh Shakil sambil menyesap teh jahe. Terasa hangat saat melewati tenggorokan dan perutnya juga sudah tidak bergejolak lagi. "Yang tahu kondisi tubuh Aden kan Den Shakil sendiri, yang penting jaga kesehatan." Bi Tatik mengusap bahu kekar Shakil. "Iya Bi. Makasih sudah merawat saya, nggak tahu kalau nggak ada Bibi sama Pak Mamat, pasti kacau hidup saya," balas Shakil dengan senyum menghias wajah tampannya. "Sama-sama. Bibi sama bapak juga sangat berterima kasih sama Adek juga ibunya Aden, kalau nggak ketemu beliau, entah bagaimana nasib kami? Tempat tinggal saja nggak punya." Suara Bi Tatik tercekat, pandangannya juga mulai mengabur. Ada rasa haru kalau mengingat kejadian tiga tahun lalu. "Sudah Bi, saya nggak mau Bibi jadi sedih." Shakil mengusap lembut lengan Bu Tatik. Shakil begitu menghormati sepasang suami istri itu, sudah seperti orang tuanya sendiri. "Iya Den, Bibi pamit ke belakang. Semoga perutnya lekas membaik, nggak mual lagi. Jaga kesehatan pokoknya." Shakil mengangguk dengan senyum tergambar jelas. Shakil menikmati teh jahenya sambil fokus pada note book di tangan. Membaca berita di portal online. Menikmati pagi tanpa terburu-buru berangkat kerja ternyata sungguh me time yang cukup membuat kondisi perut Shakil cukup nyaman. Nggak mual lagi, dan badannya juga sudah terasa bugar. Tentu berkat teh jahe buatan Bi Tatik juga dong. "Bi ... Berangkat ya, assalamualaikum," pamit Shakil "Waalaikumsalam, fii amanilah," balas Bi Tatik dengan tergopoh menuju ruang tengah. Shakil sudah berlalu dan terdengar suara mobil dinyalakan. "Semoga Gusti Allah selalu melindungimu dari hal-hal buruk, Le. Aamiin." Selarik doa terucap untuk Shakil. Jam digital yang terpasang di dasbord masih menampilkan angka 10:12, jalanan masih saja macet. Sinar matahari juga sepertinya menyengat dengan garangnya. Shakil harus menambah kesabaran saat melewati titik kemacetan parah saat menuju cafe. Matanya tertuju pada penjual semangka yang terlihat sangat menggoda. Perlahan Shakil mengarahkan mobilnya ke tepi jalan. Agak sedikit maju dari kios penjual semangka. Gegas keluar dari mobil begitu mobilnya terparkir sempurna. "Parkir Bos?" tanya tukang parkir yang melihat Shakil keluar dari mobil. "Iya Pak. Mau beli semangka, nitip ya Pak," balas Shakil ramah. "Siap Bos!" Kaki jenjang Shakil melangkah lebar menuju kios semangka yang berderet. Buat dengan kulit keras, berwarna dominan hijau bergelantungan. Di atas lapak tersusun semangat yang sudah dibelah menjadi dua. Ada yang berwarna merah dan kuning. Shakil selalu tergiur dengan yang berwarna merah, apalagi yang tidak ada bijinya. Sangat menggoda untuk dinikmati saat cuaca panas begini. Terbiasa belanja untuk keperluan cafe membuat Shakil tak segan menawar kalau dirasa harga barang terlalu tinggi. Begitu juga dengan semangka yang ada di tangannya. Tawar menawar dengan penjualnya cukup alot. Rupanya si penjual terlanjur melihat penampilan juga mobil yang dikendarai pembelinya, makanya menaikan harga seenaknya sendiri. Sampai akhirnya Shakil berpindah ke kios yang lain, karena penjual kios pertama keukeh tidak mau menurunkan harganya. Bersyukur di kios ketiga, akhirnya Shakil mendapat harga semangka yang wajar dan kualitas barang cukup bagus. Masih segar, matangnya pas. Menteng empat semangka, masing-masing dua semangka di tangan kanan dan kiri. Senyum semringah menghias wajah tampannya, semakin membuat silau tampilan pemilik Seung Caffe siang ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN