bc

Benih Rahasia Sang Tuan Muda

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
forbidden
love-triangle
one-night stand
family
escape while being pregnant
love after marriage
fated
forced
opposites attract
second chance
friends to lovers
pregnant
arranged marriage
arrogant
kickass heroine
single mother
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
bold
campus
city
office/work place
small town
cheating
childhood crush
disappearance
enimies to lovers
secrets
love at the first sight
affair
friends with benefits
polygamy
addiction
assistant
substitute
like
intro-logo
Uraian

Pertemuan yang tak disengaja karena sebuah kecelakaan. Sempat membuat kebahagiaan bagi seorang Aruna yang belum memiliki pasangan.

Namun …

"Aku harus pergi, Aruna. Ada pernikahan yang menungguku."

Kata-kata itu menghancurkan Aruna lebih dari apapun.Ia melepaskan 'Bagas'—pria amnesia yang ia rawat—kembali menjadi Riko, sang pengusaha kaya.

Aruna menyimpan rapat perasaan cintanya agar Riko bisa bahagia.

Tapi dunia tidak sesederhana itu. Riko kembali ke kota hanya untuk mendapati calon istrinya bersanding dengan sepupunya sendiri di pelaminan.

Hancur dan terpuruk, Riko tak sengaja bertemu kembali dengan Aruna empat tahun kemudian.

Ternyata selama 4 tahun itu, ada benih yang tertanam dalam rahim Aruna. Saat pertemuan kedua, Aruna tidak lagi sendiri.

Ada seorang anak laki-laki yang menatapnya dengan tatapan yang sangat ia kenali.

Siapakah anak itu?

Dan mampukah Riko merebut kembali hati Aruna setelah ia memilih pergi demi wanita yang justru mengkhianatinya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Seharusnya Sadar
Hujan di awal bulan April ini terasa lebih tajam dari biasanya. Aruna mengeratkan jaket denimnya yang sudah mulai menipis, berusaha menghalau angin malam yang menusuk hingga ke tulang. Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sebelas malam. Ia baru saja menyelesaikan shift ganda di kafe tempatnya bekerja demi mendapatkan uang lembur. "Satu minggu lagi, Aruna. Hanya satu minggu lagi sampai uang obat Nenek terkumpul," gumamnya menyemangati diri sendiri di atas motor matic tuanya yang terpatah-patah menembus kegelapan jalan Sutomo. Jalanan ini adalah satu-satunya akses menuju desanya. Jalur yang sepi, berkelok, dan minim penerangan. Di rumah kecilnya yang mulai reot, Neneknya pasti sedang menunggu dengan cemas. Nenek Arum adalah satu-satunya harta yang Aruna miliki sejak kedua orang tuanya tiada dalam kecelakaan belasan tahun silam. Tiba-tiba, sebuah suara dentuman keras memecah suara hujan. BRAK! Aruna menginjak rem mendadak hingga motornya hampir tergelincir. Jantungnya berdegup kencang. Di bawah sana, di sebuah ceruk curam sedalam tiga meter, ia melihat sebuah mobil sedan mewah dalam posisi terbalik. Lampu depannya yang masih menyala redup menyorot ke arah pepohonan, menciptakan bayangan yang mengerikan. "Tolong... ada orang di sana?" teriak Aruna dengan suara gemetar. Tidak ada jawaban. Hanya suara desis mesin panas yang terkena air hujan. Aruna teringat Nenek. Ia harus segera pulang. Namun, bayangan mayat yang akan membusuk jika tidak segera ditolong membuat kakinya bergerak sendiri. Dengan susah payah, ia turun ke ceruk itu, mengabaikan lututnya yang lecet tergores batu. Di dalam kabin yang ringsek, seorang pria terjepit. Kepalanya terkulai dengan darah yang merembes membasahi setir. Aruna bergidik ngeri tapi ia langsung mendekat, hidungnya menajam—mencari bau alkohol yang biasanya identik dengan kecelakaan malam hari. Namun, tidak ada. Ruangan sempit itu justru dipenuhi aroma parfum yang mahal dan berkelas. "Tuan! Tuan, bangun!" Aruna menarik pintu mobil yang macet dengan seluruh tenaganya. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Aruna berhasil menarik pria itu keluar tepat sebelum kepulan asap hitam berubah menjadi percikan api. Ia menyeret tubuh jangkung pria itu menjauh, menyandarkannya di bawah sebuah pohon besar yang sedikit terlindung dari hujan. Napas pria itu tersengal. Dalam keremangan, Aruna bisa melihat wajah yang sangat tampan itu namun terlihat pucat pasi. Pria itu perlahan membuka mata, menatap Aruna dengan sorot yang kosong dan penuh luka. “Argghhh … sakit sekali,” rintih pria itu. “Tuan, kamu sudah sadar, apa yang kamu rasakan, sakit kepala?” Pria itu masih memejamkan matanya tapi terus merintih merasakan kesakitan di area kepalanya. Aruna tidak tega melihatnya. "Si... siapa aku?" bisiknya nyaris tak terdengar. Aruna terpaku. Ia memeriksa saku pria itu, mencari identitas, namun nihil. Dompet maupun ponselnya mungkin tertinggal di dalam mobil yang kini mulai dilalap api. Pria ini tidak membawa apa-apa, kecuali sebuah cincin emas di jari manisnya yang berkilau di bawah cahaya petir. "Kamu aman sekarang, Tuan. Aku akan membawamu pulang," ucap Aruna bimbang. Pikiran Aruna berkecamuk. Jika ia menelepon polisi atau ambulans, ia akan tertahan di sini berjam-jam, sementara Nenek sedang sendirian dan mungkin membutuhkan bantuannya untuk minum obat di jam tengah malam. Tanpa pikir panjang, Aruna memapah pria asing itu naik ke atas, mendudukkannya di motor, dan mengikat tubuh pria itu ke punggungnya dengan kain syal panjang miliknya. ** Helen berjalan mondar mandir, ia sudah ragu sejak awal tapi kenapa malah membiarkan tunangannya pergi dalam keadaan kalut. Tuan Hans terlihat cemas, Helen mencoba mendekatinya tapi tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh. 'Karan?' batinnya. "Helen, kenapa disini? Mamamu mencari," Pria itu mengerlingkan matanya di saat Tuan Hans sedang tertunduk dihibur istrinya, mamanya Riko. Ia menarik tangan Karan dan mengajaknya bicara di luar ruangan. "Kenapa pula kamu disini? Bukannya Tante Mila bilang kamu ada di Jepang?" tanyanya penuh ingin tahu. Karan tertawa kecil, tangannya memainkan ujung hidung dengan gemas. "Aku dengar persiapan pernikahan sudah diambang dekat, cukup siap tapi Riko pergi hanya karena foto mesra kita berdua," Helen menutup mulut pria itu dengan dua jarinya. "Sssttt, jangan banyak bicara lagi. Riko bahkan tidak tahu itu kamu, aku ... menyesal telah menyimpan foto-foto itu di galeri. Tolong kamu jangan muncul dulu disini, aku ... jadi tidak tenang," Karan tampak menang dan meraih pinggang rampingnya, merapatkan lagi ke tubuhnya. "Aku suka ketegangan ini. Riko seharusnya sadar kalau dia itu salah memilih cinta. Kita sudah menunjukkan semua tapi dia buta, kamu terlalu indah ingin dilepas rupanya," bisiknya. Tak lama seorang wanita memukul kepala Karan. "Hentikan ini semua!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.1K
bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook