Seharusnya Sadar
Hujan di awal bulan April ini terasa lebih tajam dari biasanya. Aruna mengeratkan jaket denimnya yang sudah mulai menipis, berusaha menghalau angin malam yang menusuk hingga ke tulang.
Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sebelas malam. Ia baru saja menyelesaikan shift ganda di kafe tempatnya bekerja demi mendapatkan uang lembur.
"Satu minggu lagi, Aruna. Hanya satu minggu lagi sampai uang obat Nenek terkumpul," gumamnya menyemangati diri sendiri di atas motor matic tuanya yang terpatah-patah menembus kegelapan jalan Sutomo.
Jalanan ini adalah satu-satunya akses menuju desanya. Jalur yang sepi, berkelok, dan minim penerangan.
Di rumah kecilnya yang mulai reot, Neneknya pasti sedang menunggu dengan cemas.
Nenek Arum adalah satu-satunya harta yang Aruna miliki sejak kedua orang tuanya tiada dalam kecelakaan belasan tahun silam.
Tiba-tiba, sebuah suara dentuman keras memecah suara hujan. BRAK!
Aruna menginjak rem mendadak hingga motornya hampir tergelincir. Jantungnya berdegup kencang.
Di bawah sana, di sebuah ceruk curam sedalam tiga meter, ia melihat sebuah mobil sedan mewah dalam posisi terbalik. Lampu depannya yang masih menyala redup menyorot ke arah pepohonan, menciptakan bayangan yang mengerikan.
"Tolong... ada orang di sana?" teriak Aruna dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban. Hanya suara desis mesin panas yang terkena air hujan. Aruna teringat Nenek. Ia harus segera pulang.
Namun, bayangan mayat yang akan membusuk jika tidak segera ditolong membuat kakinya bergerak sendiri. Dengan susah payah, ia turun ke ceruk itu, mengabaikan lututnya yang lecet tergores batu.
Di dalam kabin yang ringsek, seorang pria terjepit. Kepalanya terkulai dengan darah yang merembes membasahi setir.
Aruna bergidik ngeri tapi ia langsung mendekat, hidungnya menajam—mencari bau alkohol yang biasanya identik dengan kecelakaan malam hari.
Namun, tidak ada. Ruangan sempit itu justru dipenuhi aroma parfum yang mahal dan berkelas.
"Tuan! Tuan, bangun!" Aruna menarik pintu mobil yang macet dengan seluruh tenaganya.
Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Aruna berhasil menarik pria itu keluar tepat sebelum kepulan asap hitam berubah menjadi percikan api.
Ia menyeret tubuh jangkung pria itu menjauh, menyandarkannya di bawah sebuah pohon besar yang sedikit terlindung dari hujan.
Napas pria itu tersengal. Dalam keremangan, Aruna bisa melihat wajah yang sangat tampan itu namun terlihat pucat pasi.
Pria itu perlahan membuka mata, menatap Aruna dengan sorot yang kosong dan penuh luka.
“Argghhh … sakit sekali,” rintih pria itu.
“Tuan, kamu sudah sadar, apa yang kamu rasakan, sakit kepala?”
Pria itu masih memejamkan matanya tapi terus merintih merasakan kesakitan di area kepalanya. Aruna tidak tega melihatnya.
"Si... siapa aku?" bisiknya nyaris tak terdengar.
Aruna terpaku. Ia memeriksa saku pria itu, mencari identitas, namun nihil. Dompet maupun ponselnya mungkin tertinggal di dalam mobil yang kini mulai dilalap api.
Pria ini tidak membawa apa-apa, kecuali sebuah cincin emas di jari manisnya yang berkilau di bawah cahaya petir.
"Kamu aman sekarang, Tuan. Aku akan membawamu pulang," ucap Aruna bimbang.
Pikiran Aruna berkecamuk. Jika ia menelepon polisi atau ambulans, ia akan tertahan di sini berjam-jam, sementara Nenek sedang sendirian dan mungkin membutuhkan bantuannya untuk minum obat di jam tengah malam.
Tanpa pikir panjang, Aruna memapah pria asing itu naik ke atas, mendudukkannya di motor, dan mengikat tubuh pria itu ke punggungnya dengan kain syal panjang miliknya.
**
Helen berjalan mondar mandir, ia sudah ragu sejak awal tapi kenapa malah membiarkan tunangannya pergi dalam keadaan kalut.
Tuan Hans terlihat cemas, Helen mencoba mendekatinya tapi tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
Ia menoleh.
'Karan?' batinnya.
"Helen, kenapa disini? Mamamu mencari,"
Pria itu mengerlingkan matanya di saat Tuan Hans sedang tertunduk dihibur istrinya, mamanya Riko.
Ia menarik tangan Karan dan mengajaknya bicara di luar ruangan. "Kenapa pula kamu disini? Bukannya Tante Mila bilang kamu ada di Jepang?" tanyanya penuh ingin tahu.
Karan tertawa kecil, tangannya memainkan ujung hidung dengan gemas.
"Aku dengar persiapan pernikahan sudah diambang dekat, cukup siap tapi Riko pergi hanya karena foto mesra kita berdua,"
Helen menutup mulut pria itu dengan dua jarinya. "Sssttt, jangan banyak bicara lagi. Riko bahkan tidak tahu itu kamu, aku ... menyesal telah menyimpan foto-foto itu di galeri. Tolong kamu jangan muncul dulu disini, aku ... jadi tidak tenang,"
Karan tampak menang dan meraih pinggang rampingnya, merapatkan lagi ke tubuhnya.
"Aku suka ketegangan ini. Riko seharusnya sadar kalau dia itu salah memilih cinta. Kita sudah menunjukkan semua tapi dia buta, kamu terlalu indah ingin dilepas rupanya," bisiknya.
Tak lama seorang wanita memukul kepala Karan. "Hentikan ini semua!"