Chapter 33. Ingatan Austin menengadahkan pandangannya, menatap wajah sayu sang pujaan hati penuh pemujaan seakan wanita di depannya adalah makhluk tercantik dan teragung di muka bumi ini. Sunggu Austin memuja kekasihnya ini. Austin mengangkat dagu Amanda lembut, membuat kedua netra mereka bertemu. “Terima kasih karena mencintaiku begitu dalam, I love you so much,” bisik Austin lembut. “Kau tidak bertanya kenapa aku kembali ke lelaki itu hanya untuk mengantarkan nyawa? Padahal kau melarangku meninggalkan penthouse,” tanya Amanda penuh selidik. “Karena aku tau kau melakukannya karena lelaki licik itu pasti mengancammu kan? Dan akulah yang di jadikan alat untuk mengancammu,” kata Austin penuh percaya diri. Amanda memandangnya tak percaya karena semua tebakan Austin benar adanya.. Bagaim

